Resensi Buku

Bau Kentut di Buku Cak Jarwo

Foto Ilustrsi: KoinWorks

COWASJP.COM – Ibarat sekolah Cak Jarwo punya guru atau dosen killer. Amat galak cenderung curiga bagaikan sipir penjara. Hanya berkat keteguhan, kesabaran, kejelian, dan kegigihannya Cak Jarwo --panggilan Sujarwo, karyawan rendahan Percetakan Jawa Pos— berhasil lulus sekolah. 

Bahkan, Gus Abror —Dr. Dhimam Abror Djuraid, mantan pemimpin redaksi Jawa Pos— dalam Kata Pengantar menyebut Jarwo lulus dengan predikat cum laud.

BACA JUGA: Langkah Punakawan Tua Sentuh Nilai-Nilai Milenial​

 Dia mampu mengakhiri masa kerjanya sampai usia 50 tahun. Batas usia pensiun di perusahaan tersebut. Jarwo mampu meninggalkan percetakan dengan kepala tegak, seyum tersungging, dan wajah sumringah.

 Sebab, dia tak hanya pensiun dengan husnul khatimah. Tapi juga berhasil membangun bisnis pribadi. Tak jauh-jauh dari kertas dan percetakan. Belakangan bisnisnya merambah ke sektor lain. Di antaranya kafe. Kini dia berancang-ancang bikin tempat cuci mobil dan bisnis es krim.

BACA JUGA: Kisah Punakawan Bernama Sujarwo​

 Tak dipungkiri kesuksesan Jarwo itu merupakan hasil kerja keras dan tekun belajar di tempatnya bekerja. ''Sekolah'' yang dijalaninya dengan jungkir balik. Penderitaan lahir batin. Dia pernah dituduh mencuri dongle computer hanya berdasar sabda dukun. Juga mencuri kertas rim-riman (hal. 9, 299). 

Tudingan mencuri itu —meski tak bisa dibuktikan—memunculkan stigma pada Jarwo. Teman-temannya yang biasa cangkruk di rumahnya —yang dekat dengan kantor— tiba-tiba menghilang. Hanya segelintir teman yang tetap berkunjung.

suryadi73c3b.jpg Soerijadi, salah seorang tim buku Cak Jarwo, siap mengantarkan buku ke pemesan. (FOTO: Slamet Oerip Prihadi/Cowas JP)

Cak Jarwo dikucilkan. Dijauhi banyak teman merupakan siksaan tersendiri. Tidak kalah menyedihkan dibanding tuduhan mencuri. Rasa sakit itu tidak hanya dirasakan Jarwo. Tapi juga istrinya, Lisa Aristin. 

 Selama delapan tahun Jarwo tak pernah naik gaji (hal. 12). Juga dicekal ikut tur karyawan ke luar negeri. Bahkan, dia dibuang ke Banyuwangi dan Jember. Namun, meski gaji tidak naik, Jarwo tidak berkecil hati. Sebab, dia punya bisnis sendiri untuk menghidupi keluarga. Pendapatan dari bisnis itu bahkan sampai tiga-empat kali gaji yang diterimanya dari kantor. (hal.298).

 Penilaian ''dibuang'' mungkin saja subyektif. Dari sisi pelaku bisa saja merasa dibuang. Sebab, dia harus berkorban. Jauh dari keluarga. Harus menyesuaikan diri dengan tempat baru, lingkungan baru. Apalagi, gaji tetap kecil.

 Tapi, manajemen —pengambil keputusan— bisa berkilah bahwa tindakan (mutasi) itu merupakan kesempatan bagi yang bersangkutan. Kesempatan mencari wawasan baru, pengalaman baru agar bisa lebih berkembang (hal.31). 

 Bisa jadi benar. Tapi, bisa juga mutasi Jarwo tersebut merupakan jalan tengah (kompromi) yang ditempuh para pengambil keputusan. Sebab, sebelumnya salah satu direktur mengancam akan memecat Jarwo (hal. 292).

baharinyar.jpgBahari (kiri, penulis) dan Cak Jarwo. (FOTO: Slamet Oerjp Prihadi/Cowas JP)

Tapi, mengapa Cak Jarwo harus menerima perlakuan seperti itu? Tidak jelas. Kemungkinan dendam dari salah sorang direktur. (hal. 294). Mungkin ada yang iri dengki karena bapak dua anak itu bisa mamanfaatkan posisinya untuk bisnis sampingan (hal. 9, 300). Bisnis limbah kertas, pelat, sampai fixer.

Istri yang Qonaah//

Perjuangan arek Karah Agung itu dituangkan dalam buku Cak Jarwo Eling Konco Mlarat. Buku setebal 328 halaman itu (di luar kata pengantar dan catatan penulis) ditulis Bahari, news hunter tangguh (mantan) Jawa Pos. Slamet Oerip Prihadi, wartawan kawakan bertindak sebagai editor. Sampul depan dirancang Budiono. Sedangkan Yarno sebagai editor bahasa, dan layout oleh Ahmad Sukmana. Semuanya tergabung dalam Paguyuban Cowas JP (Koncolawas Jawa Pos) kumpulan mantan Jawa Pos.

 Di kalangan teman-temannya, Jarwo dikenal rendah hati, suka berbagi, suka menolong, dan punya tingkat kepercayaan tinggi pada teman bisnis. Beberapa kali dia dikemplang (ditipu) rekan bisnisnya. Namun, dia lebih suka mengikhlaskan (hal.108). 

Perilaku bisnis yang mungkin tak pas di era milenial. Sebab, sikap ikhlas Cak Jarwo bisa disebut ''kebablasan.'' Hampir semua transaksinya tanpa dilengkapi invoice. Kerjasama tanpa MoU. Semuanya berdasar kepercayaan. Hal itu membuat Khoirul Anwar --sahabatnya sejak SMP yang bergerak di bidang hukum— kesulitan membantunya. Misalnya, membantu menagih utang.

Beruntunglah Jarwo punya istri sabar. Meski diakui sempat kaget mendengar Jarwo seringkali dikemplang rekan bisnisnya, Lisa Aristin lebih sering sabar. Dia mampu menjaga emosinya. Termasuk, ketika Jarwo dikucilkan teman-temannya.

cucu-Berto-Riyadi.jpgCucu cantik wartawan senior Berto Riyadi. (FOTO: istimewa)

 Semua kejadian yang menimpa Jarwo dinilai selalu mengandung hikmah. Dia mensyukuri kondisi keluarga sekarang. Menikmatinya. Menjauhkan diri dari rasa ketidakpuasan (qonaah).

 Sebagai istri, Lisa ikut cawe-cawe (membantu) juga dalam bisnis suaminya. Namun, tidak terlalu aktif. Bagi Lisa, hidup tak melulu untuk mengejar uang. Meski segala sesuatunya harus dilakukan dengan usaha, tapi tak perlu serakah dan memaksakan diri. Yang ada saja dirawat dengan baik (hal. 247)

 Jarwo, anak kedua dari Sembilan bersaudara itu dikenal suka bersedekah. Setiap Idul Adha hampir pasti berkurban sapi. Bahkan dua ekor. Namun, diakuinya salatnya masih sering bolong. 

 Obsesinya bisa manjalankan ibadah haji atau umrah bersama keluarga. Dengan kekayaannya sebetulnya bisa saja dia segera mewujudkan obsesinya itu. Namun, dia ingin lebih dulu meng-umrahkan adik-adiknya.

 Banyak sahabatnya yang mendesak agar salatnya tidak lagi bolong. Kehidupan duniawinya sudah lebih dari cukup. Maka dia perlu juga menyiapkan diri untuk kehidupan akhirat.

 Mengejar Bau Busuk

Buku yang diterbitkan PT Media Konco Lawas itu tidak hanya bercerita tentang success story seorang Jarwo. Tapi, juga mengulik bau busuk yang terjadi di tempat kerjanya. Yakni, bisnis illegal yang dilakukan beberapa pribadi karyawan.

Misalnya, titip harga pada customer. Tidak memasukkan order customer ke perusahaan, tapi malah dilimpahkan ke perusahaan lain. Juga, ada dugaan permainan yang dilakukan para petinggi perusahaan. (hal. 101,102)

Bisnis Jarwo —yang berkaitan dengan tempatnya bekerja— sebetulnya juga melanggar UU Ketenagakerjaan No.13/2003. Tapi, petinggi perusahaan tetap memberi peluang, meski tahu bahwa Jarwo menggunakan orang ketiga. Sebab, Jarwo memegang kartu truf para petinggi tersebut (hal.102)

Jajaran petinggi JP Holding —yang membawahkan perusahaan tempat Jarwo bekerja—bahkan mengembuskan suara minor pada direktur utama (dirut) percetakan itu. Bahwa sang dirut terlalu dekat dengan supplier. Kasarnya, ada main dengan supplier. Alasan itu pula yang  mendepak dirut tersebut dari perusahaan. 

buku18ffd6.jpg

 Bau kentut itulah yang dikejar Bahari sebagai penulis. Tapi, seperti mengejar pelepas kentut di ruang karaoke, Bahari tak menemukan jawaban. Suara kentut tertelan ingar-bingar suara musik. Bau kentut menguap bersama asap. Pengentut pun terkikik sambil berjoget.

Hanya kentut tipis yang berhasil diendus. Misalnya, penawaran Jarwo untuk limbah pelat dengan harga tinggi, dikalahkan oleh penawar harga rendah. Alasannya, bagi-bagi rezeki. (hal.127, 301)  

Satu hal yang lazim terjadi di perusahaan swasta, karyawan yang mendapat stigma dari pimpinan —meski hanya berdasar bisikan— karirnya akan sulit berkembang. Dalam istilah wartawan lawas, dia sudah masuk dalam buku inting-inting (black list). Apa saja yang dilakukan hampir pasti dinilai minor. 

Buku inting-inting tak melulu memuat karyawan yang dinilai salah. Tapi, juga bagi karyawan yang suka ngerecoki pimpinan. Misalnya, memperjuangkan pengangkatan, kenaikan gaji, asuransi, dan sebagainya (hal. 103). Mereka bisa dipaksa mengundurkan diri. Alasan bisa dicari.

Tak perlu mengingat sejarah. Apakah dia seorang pionir, hero, babat alas, atau tindakan heroik lainnya. Sejarah —bagi penulis buku inting-inting-- hanyalah memori sentimental yang bisa merintangi jalan ke masa depan.

Kekuatan sekaligus Kelemahan

 Buku Cak Jarwo disajikan secara utuh semua wawancara dengan narasumber. Ini merupakan kelemahan sekaligus kekuatan buku ini. 

 Kelemahannya antara lain, memboroskan halaman. Beda jika ditampilkan secara tematik per topik bahasan. Tulisan akan lebih padat dan ringkas. 

 Kelemahan lainnya, pembaca disuguhi penuturan yang berulang. Sebab, beberapa narasumber menceritakan hal serupa meski ada sedikit perbedaan.

 Sedangkan kekuatannya, pembaca mendapatkan tambahan profil narasumber. Sebab, penulis tidak hanya mencari bahasan topik bahasan. Melainkan juga mendiskripsikan profil, latar belakang, dan sedikit karakter narasumber. Pembaca juga bisa menilai sendiri semua yang diungkapkan narasumber.

Secara umum, buku Cak Jarwo mampu menginspirasi para start-up —utamanya yang tertarik dalam cetak-mencetak. Termasuk kejelian, keuletan, dan tidak jaga imej (jaim) Jarwo, yang tak semua orang bisa manjalani.

Yang tak boleh dilewatkan, Kata Pengantar dari Gus Abror mampu memberikan bobot buku ini. Tulisan bergizi dibalut dengan kocak yang enak nikmati.(*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda