Perang Meredam Covid-19

Boleh Bonek, tapi Harus dengan Perhitungan Matang

Foto-Foto: Istimewa

COWASJP.COM – Perang meredam Covid-19 belum diketahui kapan tuntas. Umat manusia di planet bumi masih menunggu sukses satu atau beberapa negara menemukan vaksin yang mujarab dan aman. Juga obat yang paten dan aman (tanpa efek samping yang membahayakan).

Mungkin saja diam-diam ada negara yang telah menemukan dan menggunakannya. Tapi belum berani memproduksinya secara massal. Untuk bisa dipergunakan semua orang di 213 negara yang terpapar.

Di masa penantian ini, yang bisa dilakukan adalah memotong “gerak” penyebaran Covid-19. Bagi yang sudah terinfeksi dilakukan isolasi, pemberian vitamin, makanan bergizi dan obat anti infeksi. Juga plasma darah warga yang telah sembuh.

Semuanya dilakukan serba spesial dan serba mahal. Tenaga medis dan relawan harus memakai APD (alat pelindung diri). Ruang perawatannya pun harus khusus: steril, tertutup, dan berjarak. Tidak bisa dilakukan di bangsal terbuka yang ditempati banyak pasien. Bagi pasien yang meninggal pun dilakukan proses pemakaman yang tidak sembarangan. Serba protokol (kesehatan).

Dalam situasi yang belum menentu ini, dibutuhkan kesabaran yang luar biasa. Dari semua pihak. Baik pemerintah, gugus tugas, relawan, tenaga medis, pedagang besar sampai kecil, dan semua lapisan masyarakat.

fis1.jpg

Bagi warga lansia harus bersabar melakoni lockdown mandiri. Pemerintah pun harus sabar dan berhati-hati untuk menerapkan kehidupan new normal. Benarkah pemerintah Indonesia bersama semua aparaturnya dan rakyatnya siap total?

Kalau toh nanti dilakukan juga, monitoring-nya harus sangat cermat. Begitu ada gejala peningkatan kasus Coronavirus (yang positif terinfeksi), pelonggaran PSBB harus segera diketatkan kembali.

JANGAN HANYA MELIHAT JUMLAH YANG POSITIF

Jerman misalnya.  Urutan ke-8 di dunia yang terbanyak pasien positif Covid-19. Marilah kita cermati perbandingan situasi beberapa negara. Kita lihat datanya di bawah ini:

Angka di depan menunjukkan urutan terbanyak yang positif di dunia.

DATA Rabu 3 Juni 2020

8.JERMAN

Total kasus: 184.163 positif.

Yang meninggal: 8.677 orang.

Yeng sembuh: 167.300 orang (90,84%)

Yang masih dirawat: 8.186 pasien.

Bandingkan dengan:

9.PERU

Total kasus: 174.884

Yang meninggal: 4.767

Yang sembuh: 69.257 (39,60%)

Yang masih dirawat: 100.860

10.TURKI

Total kasus: 165.555

Yang meninggal: 4.585

Yang sembuh: 129.921 (78,47%)

Yang masih dirawat: 31.049

11.IRAN

Total kasus: 160.696

Yang meninggal: 8.012

Yang sembuh: 125.206 (77,91%)

Yang masih dirawat: 27.478

12.PRANCIS

Total kasus: 151.325

Yang meninggal: 28.940

Yang sembuh: 68.812 (45,47%)

Yang masih dirawat: 53.573

17.CHINA

Total kasus: 83.021

Yang meninggal: 4.643

Yang sembuh: 78.314 (94,33%)

Yang masih dirawat: 73

Dari beberapa negara yang dicontohkan di atas, siapa yang paling sedikit jumlah pasien Covid-19-nya yang masih dirawat?

1.China “hanya” 73 pasien yang dirawat.

 2.Jerman: 8.186 pasien.

3.Iran: 27.478 pasien.

4. Turki: 31.049 pasien.

5.Prancis: 53.573 pasien.

6.Peru: 100.860 pasien.

KESIMPULAN:

1.Jumlah yang positif di Peru, Turki, Iran dan Prancis lebih sedikit dari Jerman. Namun, jumlah pasien yang masih dirawat di rumah sakit: Jerman-lah paling sedikit dari negara-negara itu.

Dan, jumlah pasien di China jauh lebih sedikit.

Sangat jelas bahwa kondisi China dan Jerman jauh lebih baik dari Peru, Turki, Iran dan Prancis.

2.Selain melihat jumlah yang masih dirawat, cermati pula persentase yang sembuh. 

uhus.jpgCafe dan Restoran di Teras dibuka kembali di Prancis. Setelah lebih dari dua bulan ditutup. (FOTO: euronews.com)

Maka, pancen wayahe (sudah saatnya) bagi terutama China (94,33%), kemudian Jerman (90,84%), Turki (78,47%), Iran (77,91%) menerapkan new normal. Melonggarkan pembatasan-pembatasan sosial. Dengan tetap memegang teguh protokol kesehatan.

PRANCIS BONEK

Prancis yang 3 Juni kemarin persentase kesembuhannya masih 45,47%, berani melonggarkan lockdown sejak 2 Juni. Wouw!

Prancis Bonek (bondho nekad) tenan. Vivere pericoloso! (Berani nyerempet-nyerempet bahaya!). Tapi memang kurva total kasusnya mulai melandai 11  Mei lalu. Perjuangan memperbaiki situasinya juga menunjukkan hasil positif.

fis.jpg

Diberitakan france24.com, 2 Juni, Prancis membuka kembali cafe dan restoran di zona hijau. Di zona kuning, taman dan restoran teras di Paris dibuka kembali. Travel di luar radius 100 km sudah boleh jalan lagi.

Tapi semuanya harus berjalan di “sirkuit” protokol kesehatan. “Kebebasan berjalan dengan rule dan pengecualian yang memaksa,” kata PM Prancis Edouard Philippe. Itulah aturan baru bagi Fase II pelonggaran lockdown.

uhus2.jpgPara pelanggan bisa hadir kembali di Mos Pub, Lyon, Prancis. (FOTO: Natalia Liubchenkova/euronews.com)

Yang terpenting, awal Juni ini tidak ada lagi zona merah di Prancis.

** 

BAGAIMANA ASEAN?

Mari kita bandingkan beberapa negara ASEAN dengan Indonesia.

Perlu dicatat, Rabu 3 Juni Indonesia turun satu tingkat. Dari urutan 33 ke 34 dalam daftar negara paling banyak yang terinfeksi Covid-19. Mesir naik dari peringkat 34 ke 33 karena total kasusnya kini lebih banyak dari Indonesia. Mesir 28.615 yang positif, Indonesia 28.233.

26.SINGAPURA

Total kasus: 36.405

Yang meninggal: 24

Yang sembuh: 23.582 (64,77%)

Yang masih dirawat: 12.799 pasien.

34.INDONESIA

Total kasus: 28.233

Yang meningal: 1.689

Yang sembuh: 8.406 (29,77%)

Yang masih dirawat: 18.129 pasien.

38.FILIPINA

Total kasus: 19.748

Yang meninggal: 974

Yang sembuh: 4.153 (21,03%)

Yang masih  dirawat: 14.621

62.MALAYSIA

Total kasus: 7.970

Yang meninggal: 115

Yang sembuh: 6.531 (81,94%)

Yang masih dirawat: 1.324 pasien.

79.THAILAND

Total kasus: 3.084

Yang meninggal: 58

Yang sembuh: 2.968 (96,23%)

Yang masih dirawat: 58 pasien.

Dari lima (5) negara ASEAN di atas, Malaysia sudah melonggarkan lockdown sejak Senin 4 Mei 2020. Lockdown dimulai 18 Maret 2020. Satu setengah bulan lockdown! Bandingkan dengan Indonesia yang PSBB-nya belum genap sebulan. Dua minggu diperpanjang  lagi dua minggu.

Hasil yang dicapai Malaysia memang menggembirakan.

Persentase yang sembuh 81,94%. Bandingkan dengan Indonesia yang masih 29,77%.

Yang masih dirawat: Malaysia 1.342 pasien Covid-19, Indonesia 18.129 pasien.

Pemerintah Thailand mulai melonggarkan lockdown Minggu 3 Mei 2020. Pelonggaran dilakukan dalam 4 tahap. Dievaluasi per 14 hari. Pemerintah Thailand mengingatkan, jika terjadi gelombang infeksi Covid-19 kedua, maka pelonggaran lockdown dicabut saat itu juga.

Tapi, sampai sekarang pelonggaran lockdown di Thailand berjalan terus. Ini karena persentase yang sembuh tinggi banget: 96,23%. Yang masih dirawat di RS hanya 58 pasien. Yang meninggal total juga 58 warga.

BAGAIMANA INDONESIA?

Pemerintah RI sudah mewacanakan dan menyosialisasikan the new normal. Dengan persentase yang sembuh masih jauh di bawah 40 persen. Dengan yang dirawat masih 18.129 pasien.

Memang, dibanding 22 Mei lalu persentase yang sembuh di Indonesia naik juga. Tapi sedikit. Dari 22 Mei 23,99% ke 3 Juni 29,77%. Kenaikan 5,78% tersebut dicapai dalam waktu 12 hari.

Kenaikan sedikit, tapi jelas menuju ke arah positif!

Saat inilah berat-beratnya perjuangan. Untuk melampaui 40% yang sembuh. Insya Allah setelah lewat 40 persen, perjuangan akan lebih lancar.

Masalahnya: apakah pemerintah sabar? Apakah pemerintah tahan terhadap tekanan para konglomerat Indonesia?

Marilah kita hargai perjuangan jutaan Laskar Kemanusiaan Indonesia dengan lebih bersabar. Hargailah para relawan, para tenaga medis, jajaran Gugus Tugas Percepatan  Penanganan Covid-19 yang sangat mulia itu. Hargailah prakarsa rakyat yang membangun Desa-Desa Tangguh yang sangat mengharukan itu. Juga perjuangan TNI dan Polri yang luar biasa itu.

Rasanya: pelonggaran PSBB lebih bijak dan pas dimulai Juli 2020. Semoga semua pihak ikhlas menyadari fakta sesungguhnya. Demi keselamatan bangsa. Sang Saka Merah Putih tetap berkibar! Aamiin YRA.(*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda