Yang Mati dan Yang Hilang (1)

Koesnan Soekandar bersama istri yang sudah 52 tahun dinikahi.

COWASJP.COM – Bulan Mei adalah bulan baik buat saya. Nanti 29 Mei 2020 usia saya 76 tahun. Sudah uzur memang. 

Tapi semangat menulis tetap terjaga. Tentu saja semua ini karena saya tetap berusaha menjaga kesehatan.

Tak cuma itu, isteri saya yang sudah 52 tahun saya nikahi, juga harus sehat. Saya harus menjaganya. Karena kalau isteri sehat, saya sehat, maka tulisan yang telah terekam, rasanya mudah mengalir.

Nah, sejalan dengan laju usia yang terus bergerak cepat, maka ingatan saya pada teman-teman kecil saya, semakin membayang. Maklum  mereka telah menemani saya bermain, berenang di kali Kembang Kuning. Atau ketika hujan-hujan kemudian rame-rame mencuri mangga muda di halaman rumah orang kaya di Jalan Diponegoro Surabaya.

Akh... ketika itu usia masih 10 tahun. Nakal nakalnya. Saya masih ingat, ketika  itu bulan Juni1954. Saya dibawa bapak dan emak saya pindah ke Jalan Ronggowarsito Surabaya. Yah...cuma saya Koesnan Soekandar kecil yang diajak pindah. Karena memang sayalah satu-satunya anak mereka. Ketika itu ayah saya Kandar, memang bertekad untuk memulai hidup baru dengan membuka toko peracangan. Dengan begitu sejak saat itu saya bersama bapak emak, harus meninggalkan Pasar Pakis. Memang, Pasar Pakis, selama hampir dua tahun jadi tempat tinggal keluarga Kandar. Selain sebagai tempat toko peracangan. Saya bersama bapak emak saya harus tidur di celah-celah tumpukan karung beras.

Begitulah sejak Pemilu pertama (29 April 1955), kami bertiga telah pindah di kawasan Ronggowarsito. Nah, sejak itu saya pun mulai mencari teman baru. Penyebabnya? Sebagai anak tunggal, saya memang agak manja. Apalagi emak saya sungguh luar biasa cintanya-cintanya pada anaknya. Sehingga saya tidak bisa berlama-lama tinggal di rumah yang menyatu dengan toko itu. Maunya bermain terus. Terus bermain. 

Apalagi rumah teman-teman baru itu memiliki halaman luas. Meski rumahnya

masih ada yang beratap welit (atap yang terbuat dari alang-alang). Tapi ya itu tadi, halamannya luas. Rimbun lagi.

Saya masih ingat rumah teman kecil saya Mardiono cukup luas. Sehingga banyak yang disewa-sewakan. Juga rumah teman saya Asnan Efendi yang sejak  tujuh tahun lalu tak pernah berjumpa lagi.

Tidak berjumpanya saya dengan Asnan, memang pernah dibahas oleh teman lainnya.

"Lha..Asnan itu sekarang di mana ya? Ilang nok endi arek itu," kata Loetfi (78) teman kecil ketika mengunjungi saya bulan lalu.

"Ya..wis onok nem tahun.. mungkin petung tahun gak rene (Ya sudah enam... mungkin 7 tahun nggak ke sini)," sahut saya.

Asnan memang teman kecil saya sekaligus teman Loetfi. Beberapa tahun lalu dia dan istri barunya ke Ronggowarsito. Mereka berdua diantar oleh Misjam (alm) yang tinggal di Banyuurip Wetan 4.

koesnan1.jpgJalan Ronggowarsito Surabaya sekarang penuh dengan mobil dan sepeda motor. (FOTO: dokumen Koesnan Soekandar)

Kehadiran teman kami itu memang membuat suasana rumah semarak. Kami bernostagia masa kecil. Di antaranya ketika kami cari kijing di kali. Sampai akhirnya saya didamprat habis-habisan oleh bapak. Tidak cuma itu, telinga ini memerah karena jeweran bapak. Kalinya memang tidak sekotor sekarang. Tapi  mulai banyak WC plung plas. 

Belum lagi, cerita tentang pencurian mangga muda yang membuat kami tergelak. Ini yang membuat kami tidak terlalu hirau dengan isteri baru Asnan. 

Asnan memang baru beberapa bulan menikah, setelah istrinya yang telah memberinya dua orang anak itu meninggal.

Itulah. pertemuan terakhir dengan Asnan. Setelah itu saya hanya bicara lewat telepon. Tapi sayang beberapa waktu kemudian, telepon rumah diputus, karena Asnan tidak terlalu membutuhkan.

Beberapa bulan kemudian HP Asnan pun tidak bisa dihubungi. Sejak itu hubungan kami putus. Sialnya, saya tidak mencatat alamat rumahnya dengan jelas. Konon katanya di kawasan Asemrowo Surabaya. 

Sulit memang, apalagi usia sudah menginjak 76 mana mungkin mampu masuk kampung keluar kampung

"Dadi...Misjam lara nemen gak isa ngabari ya.(Jadi Misjam sakit parah tidak bisa memberikan kabar ya)." sela Loetfi yang sudah lima tahun duda. Isterinya meninggal.

Sungguh, Kehadiran Loetfi semakin menggugah kenangan manis saya ketika masih berusia belasan tahun bersama satu lagi teman yang  bernama Subagio Legowo. Apalagi Loetfi yang  pensiunan Kementerian Keuangan itu mengingatkan keunikan Subagio. 

Bagaimana tidak tertawa, bayangkan di akhir tahun 50 an, dia sering menulis nama-nama cewek yang disukainya di pohon kelapa yang tumbuh di halaman depan rumahnya.

Kelucuan Subagio tentu saja mengingatkan kami untuk suatu waktu bisa bernosnalgia bersama laki-laki pensiunan guru SMA itu. Tapi apa mau dikata Subagio yang kira-kira 10 tahun lalu pernah berkunjung ke rumah saya, kini tak lagi terdengar beritanya lagi. (Bersambung)

Penulis: Koesnan Soekandar, Wartawan Senior di Surabaya.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda