Andes Bikin Masker Berpayet agar Perempuan Tetap Modis

COWASJP.COM – Ide dasar Andes Rahmawati memang simpel saja. Yakni agar setiap perempuan tetap fashionable, meskipun bermasker untuk mencegah ketularan Corona.

"Saya melihat banyak perempuan yang ingin selalu modis, walaupun harus bermasker di luar rumah," jelas Andes.

Maka sejak 3 pekan yang lalu dia mulai memproduksi masker berpayet. Pembeli pertamanya adalah staf Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Purbalingga (Jawa Tengah).

"Ternyata dia puas. Lantas promosi pun berjalan dari mulut ke mulut," lanjut lulusan Universitas Negeri Semarang, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (2017)  ini.

Dyah Hayuning Pratiwi, Bupati Purbalingga,  pun ikut memborong masker cantik bikinan Andes. "Beliau juga mengorder beberapa lusin masker tanpa payet, " kenang Andes. Order masker ini didominasi warna merah, hitam dan pink.

Andes sengaja memilih bahan khusus untuk masker kerennya tadi. Yakni katun, Oxford, cotton silk, dan Maxmara (satin). Untuk setiap satu meter kain tersebut Andes sanggup memproduksi 20-25 buah. "Semuanya bergantung bentuk dan lebar kainnya," ungkapnya. 

fiq1.jpg

Andes membutuhkan waktu 2-5 jam untuk memasang payet-payet impor di setiap masker. "Saya sengaja menggunakan produk impor, karena memang kualitasnya paling bagus. Lebih menciptakan kesan mewah," katanya.

Dia dibantu oleh 2 orang asistennya. "Khusus pasang payetnya, saya memutuskan untuk mengerjakannya sendiri saja,' sambung Andes.

Andes sengaja lebih banyak memproduksi masker berpayetnya dengan warna pink, hitam, hijau army, dan cokelat (ecoprint). "Selama ini warna-warna itulah yang paling laris-manis," papar Andes.

Andes --kelahiran Banjarnegara, 26 Desember 1983-- membanderol masker berpayetnya itu dengan  harga mulai Rp 35 ribu. "Kalau menggunakan kain ecoprint, harga paling murahnya, ya Rp 50 ribu," ujar dia.

Khusus untuk masker tanpa payet, Andes memasang harga mulai Rp 2.500,. "Sebenarnya saya justru mengawali membuat masker tanpa payet. Ketika itu saya bagi-bagi gratis saja," kenang ibu 2 orang anak tersebut.

Setelah membagikan masker secara gratis, Andes justru mendapat banyak pesanan dari RSUD Panti Nugroho, Pemkab Banjarnegara dan Pemprov Jawa Tengah. "Saya tidak pernah menyangka akan mendapatkan pesanan sebanyak itu. Alhamdulillah ... berkah Bulan Ramadhan," ucapnya, sambil tersenyum.

Andes sangat optimis, pasar masker berpayetnya tetap terbuka lebar. "Kita, kan belum tahu kapan Corona bakal berakhir. Di sisi lain hampir semua perempuan ingin tampil menarik dan berbeda dibandingkan orang lain," alasannya.

Andes sendiri sejak 7 tahun yang lalu dikenal di Purbalingga, sebagai desainer busana perempuan. "Sejak remaja saya hobi menyanyi dan menjahit. Karena itu sulit untuk lepas dari dunia jahit-menjahit," ungkap dia.

Andes mengaku tak pernah ikut kursus tata busana. "Saya benar-benar otodidak. Mungkin karena pada dasarnya saya sangat suka menjahit, maka saya benar-benar nyemplung ke bisnis ini," sambung Andes yang setiap busananya mengesankan simpel, namun tetap kuat unsur etnisnya.(*)

Penulis: Moch. Taufiq, Wartawan Senior di Surabaya. 

Pewarta : Moch Taufiq
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda