Ambyarkan "Banyu Langit", Dubes Agus Maftuh Dikagetkan Rudal

COWASJP.COM – Duta Besar Republik Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel terus mengampanyekan budaya Nusantara ke Saudi. Di tengah kesibukannya menjelang akhir jabatan sebagai Duta Besar, ia masih sempat merancang "misi seni budaya." 

Apa saja yang dilakukan oleh Dosen UIN Sunan Kalijaga Jogja ini? Berikut penuturannya yang disampaikan ke cowasjp.com lewat WA. 

"Tadi malam, 23.30 Waktu Arab Saudi, saya masih begadang untuk memonitor saudara-saudara para WNI terkait wabah virus corona di Arab Saudi. Saya juga sempat telpon seorang WNI yang positif corona untuk memberikan semangat agar virus tersebut cepat pergi dari tubuhnya.

Untuk mengisi waktu begadang biar tidak penat, saya lakukan editing lagunya Didi Kempot, “Banyu Langit” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Rencananya lagu tersebut akan saya jadikan alat untuk diplomasi peradaban tuk saya share ke kolega-kolega Saudi.

Di saat editing tsb, pukul 23.30, saya dikejutkan suara 3 ledakan besar, keras banget yang menggetarkan kaca-kaca wisma tempat saya tinggal di kawasan Diplomatic Quarter Riyadh.

Istri saya, Luluk Muniroh pun berlari keluar kamar dan langsung teriak: Bom Mas, Rudal Mas. Kami memang sudah sangat hapal dan bisa membedakan suara petir dan suara rudal.

Saya langsung naik ke atap untuk memastikan kawasan mana yang kena serangan rudal. Beberapa saat, saya temukan jawaban bahwa dua Rudal Balistik jarak jauh berhasil dilumpuhkan oleh Angkatan Udara Arab Saudi dengan rudal patriot.

Setelah mendapatkan kepastian arah dan dari mana rudal tersebut, saya pun meneruskan “otak atik” membuat “captions” untuk lagu "Banyu Langit" yang sangat terkenal di kalangan “Al-Ambyariyyun – Kaum Ambyar”, diantaranya adalah Mas Bambang Susanto dan Abangku Andi Muawiyah Ramly.

Kenapa saya pilih lagu beraroma ambyar? Karena lagu-lagu terkenal di Saudi juga bercorak “ambyar”. Lagu Talal Maddah yg dipopulerkan artis Saudi, Muhammad Abduh juga kental dengan ambyar, putus cinta dan nelangsa.

erwan1.jpgDidi Kempot. (FOTO: tempo.co)

Lagu “Ahibbak lau tikun hadir” ciptaan Talal Maddah, seniman kelahiran Makkah, malah syairnya lebih gila dan super nelangsa. Ada bait syair yg artinya:

"Aku tetap mencintaimu, meski cintamu untuk orang lain
Meski kau lupakan aku dan kau pergi di tempat yang jauh,
Aku hanya ingin dalam setiap waktumu
Engkau selalu Bahagia".

Artinya dalam versi ini: Cinta bukan berarti “mengawini dan ngrumati” tapi cinta itu soal “hati”.

Lagu “ib’ad” yang orang Indonesia sering menyebutnya dengan judul “killil asyiqin” juga ciptaan Talal Maddah yang versi ambyar.

Ambyar versi Mesir juga pernah dinyanyikan oleh Umi Kultsum. Lagu 52 menit (untuk 1 lagu saja) isinya juga ambyar pol. Judulnya : Ya Masaharniy (wahai kau yang membuatku tak bisa tidur).

Nah ini Banyu Langit yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab “Amiyyah” bukan Fusha oleh Falih Vava Al-Jamblawiy” (seniman Jomblo).

Saya sebenarnya pingin menggubah lagu ini agar bisa dinyanyikan dalam versi Arab dan saya lantunkan duet bersama istri untuk perpisahan dengan WNI di Saudi jelang selesainya tugas saya. Entah kapan?" (*)

Penulis: Erwan Widyarto, wartawan senior di Jogjakarta.

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda