In Memoriam

Selamat Jalan Mas Ugenk…

COWASJP.COM – Pohon kamboja kuning di sudut kiri depan rumah ini selalu pas berbunga setiap saya datang. Inilah rumah teman baik, senior saya, juga salah satu guru saya di Jawa Pos, Sugeng Santoso. Desainer grafis angkatan awal yang banyak berjasa membesarkan koran Jawa Pos.

Teman2 di kantor biasa memanggilnya Pak Ugenk. “Ugenk” adalah inisial nama yang disematkan di setiap karya grafisnya di Jawa Pos. Saya sendiri biasa memanggilnya dengan sebutan “Mas” sejak awal kenal di awal tahun 2000-an. Kenapa Mas? Karena saya melihat penampilan kesehariannya yang selalu muda dan “nyetil”. Celana jins dan kaus oblong dipadu jaket kulit dan topi, adalah “seragam” kerjanya. 

Orangnya kalem namun tidak kalem dalam bekerja. Dia selalu menyelesaikan tugasnya lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Dan setelah pekerjaan grafisnya selesai, dia selalu menghampiri teman lay-out untuk memastikan karya tersebut sudah terpasang di halaman dengan benar, Cek dan ricek setiap hari, sepanjang tahun. Benar-benar contoh yang baik bagi para juniornya.

Kebiasaan lainnya setelah pekerjaannya selesai, dia akan menghampiri teman2 desainer grafis yg lain untuk menanyakan, apakah masih ada pekerjaan yg belum tergarap. Kalau ada, dia selalu sigap membantu. “Kene tak garape,” (sini tak kerjakan) begitu kata-kata khasnya.  

Dulu, kami berdua sering pulang kerja berboncengan karena tempat tinggal kami searah. Saya sering menggodanya dengan memanggilnya Ian Antono, karena saat itu rambutnya memanjang dan kalau sedang serius di depan komputer, ekspresinya sangat mirip Ian Antono kala serius memainkan gitar. Di saat lain ketika dia memotong rambutnya, saya memanggilnya Pak Jacob, karena tampilan lay-out wajah dan rambutnya jadi mirip bos koran Kompas, Pak Jacob Oetama.

pemakaman.jpgPelepasan jenazah Mas Sugeng oleh Prof. Dokter Syukur. (FOTO: Yamin Ahmad)

Dari dia, saya banyak mengenal dan menikmati musik2 jazz dan bossanova. Dia sering memberi file2 musik jenis itu. Sementara saya memberinya file ludruk Kartolo dan lawakan lain. 
“Aku nduwe album Earl Klugh anyar, ngopi nggak?” (Aku punya album Earl Klugh baru, mau mengcopy tidak?), katanya sambil menghampiri. Saya jawab, “Earl Klugh iku wong ngendi Mas? Lucu nggak? Lucu ndi ambek Basman?” (Earl Klugh itu orang mana Mas? Lucu nggak? Lucu mana sama Basman?). Basman adalah pemain ludruk yg sangat lucu. Mas Ugenk terbahak sambil bergumam, “Dasar kartunis!”

Mungkin banyak yang belum tahu, Mas Ugenk adalah pembuat logo Jawa Pos yg kita kenal hingga sekarang. Logo lama dirasa kurang greget oleh Pak Bos (Dahlan Iskan). Pak Bos menginginkan logo yang lebih bagus, lebih mengena, namun juga evergreen, tetap enak dilihat untuk jangka panjang, saat itu di era 80-an.

Pihak Jawa Pos kemudian memesan logo ke Bintas Advertising, dan Mas Ugenk inilah (yg saat itu desainer grafis di Bintas) yang menggarap pesanan logo ini, Dia mengotak atik, memilih font, menentukan jarak dan persentase antar karakter dll. Pak Dahlan setuju, dan ternyata benar, logo Jawa Pos tetap enak dilihat berpuluh tahun hingga sekarang. Setelah berkarir di Bintas, pada tahun 90-an Mas Ugenk kemudian bergabung dengan Jawa Pos. 

Tuhan memang Maha Unik. Secara tidak sadar kita sebenarnya terhubung satu sama lain. Mas Ugenk teman baik saya, dan Mas Ugenk juga berkarib dengan pelukis Dwijo Sukatmo dan musisi Naniel (pencipta lagu Bento), mereka adalah teman seangkatan saat mengenyam pendidikan di Aksera (Akademi Seni Rupa Surabaya).

Anak Om Dwijo (Alfa) adalah adik kelas dan teman segerombolan saya di kampus, saya pernah beberapa kali diajak Alfa ke rumahnya dulu, meski nggak ketemu Om Dwijo. Sementara Naniel bersama Iwan Fals membentuk grup musik Swami, salah satu grup yang saya gandrungi sejak dulu. Nyambung juga kan? 

Hari ini saya mendapat kabar Mas Ugenk meninggal. Sangat mengejutkan, karena sepulang dari mudik dan balik, saya belum sempat mengunjunginya. Saya hanya bisa memohon maaf di depan jenazahnya seusai berjamaah menyolatkannya. Sekaligus memohon maaf dan sungkem ke istrinya yg ramah dan selalu memuji saya.

Sejak pensiun tahun 2010 lalu, Mas Ugenk mengisi hari-harinya dengan momong cucu sambil terus menggambar. Hari ini, sebelum dimakamkan, jenazahnya diletakkan dan disholatkan di depan dinding penuh gambar karyanya, semuanya gambar wajah cucu-cucunya.

Pohon kamboja kuning di sudut kiri depan rumahnya hari ini juga berbunga, saat saya kembali berkunjung. Namun seperti mengikuti perasaan saya dan seluruh keluarga Mas Ugenk di rumah ini, sebagian besar bunganya saya lihat tertunduk layu… 

Selamat jalan Mas Ugenk, doa terbaikku untukmu…(*)     

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda