Ramadhan Kareem

Ukhuwah

COWASJP.COM – Berumroh atau berhaji  adalah kesempatan berukhuwah dan berbincang dengan sesama muslim atau muslimah sedunia. Berinteraksi dengan mereka. Mengetahui cerita singkat mereka.  Namun itu tergantung kita, apakah ingin seperti itu atau hanya berinteraksi dengan teman sekamar saja. 

Waktu di masjid menunggu sholat,  adalah kesempatan untuk itu. Di antara jeda mengaji atau saat mengusir ngantuk. Maka salah satu sarananya adalah berusaha berbaur dan memilih shaf kosong yang bertetangga dengan penduduk jagat lain. Bukan menafikan WNI, karena momen berumroh dan berhaji ini kesempatan langka. 

BACA JUGA: Para Suami Penunggu Istri

Tak tahu apakah umur kita akan sampai untuk kembali lagi. Untuk hal tersebut, dari rumah saya berniat membawa gift sederhana yang saya siapkan untuk mereka. Gantungan kunci khas Indonesia,  small  money recehan Rp 2.000 atau Rp 5.000, kaus kaki atau sajadah kepala. Pertanyaan standard adalah pembuka ukhuwah.  Kadang Saya bertanya duluan atau ditanya duluan, dari mana, lalu pekerjaan,  dan berapa lama umrah, dan lain-lain. 

Jika interaksi berjalan baik, komunikasi akan lancar. Seperti saya berbincang dengan Dokter Fatima Khan dari Pakistan. Saat itu  saya ditanya dari mana, dan berapa lama di Madinah. Dan dia juga menanyakan job saya. "Notaris," jawabku. Sampai saya menuliskan kata Notary Public  atau Notary

arini1.jpgPenulis (kiri) bersama dengan dokter fatima khan dari Pakistan

Ternyata dia tak mengenal notary atau notary public. Bahkan dikira Notaris adalah sebuah NGO (non govermental organization = organisasi nonpemerintah atau lebih dikenal sebagai lembaga swadaya masyarakat ). Lalu saya tunjukkan tulisan notary in Pakistan. Dia baru mengangguk-angguk.

 Saya juga pernah bertertangga  dengan Ibu Emma Kadir dari Malaysia. Yang bercerita sedikit tentang politik di Malaysia, dan mengagumi keindahan Indonesia. Saya bercerita bahwa saya pernah meliput kasus Anwar Ibrahim dan bertandang ke rumahnya yang beristri Wan Azizah wan Ismail kala itu. Ibu yang bahasanya bercampur Melayu dan Inggris ini antusias mendengarnya. Bahkan akan berkunjung ke Banyuwangi, yang punya penerbangan direct ke KL. 

Dia seorang ibu dari seorang dokter, dan legal konsultan. Saat tanya tentang job saya seorang Notaris diapun tak mengenalnya.  Lalu ada juga tetangga shaf dari India, yang memberikan kenangan gelang dan cincin kepada saya. 

Tak kalah menarik adalah  Flight Attendant Saudi Arabian Airlines, pramugari yang bernama Sil yang jeprat jepret tulisan doa titipan temannya.  Pramugari dari Sudan ini pandai mengaji dan terkesan dengan Jakarta. Banyak cerita yang saya simpan dan berkesan dari bincang singkat dengan para tetangga shaf. Dan ukhuwah kami sambung dengan  Facebook, WA atau mesenger. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda