Tour ke Kuala Lumpur Bisa dengan Kantong Tipis

Penulis (Bambang Supriyantoro) bersama keluarga saat akan terbang ke KL. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – “Tarif biaya terbang ke Jakarta lewat Kuala Lumpur lebih murah,….”  berita yang membuat dahi saya berkenyit. Ini  kata calon penumpang dari Medan dan Aceh pada berita tersebut.  

Saya  pernah tinggal 2 tahunan di Medan. Memang biaya tour ke Malaysia 2 malam 3 hari  lebih murah dibandingkan ongkos terbang ke Jakarta. Tour ke Malaysia (Penang, Kuala Lumpur) tahun 2000-an berkisar Rp 900.000-an. Sementara biaya naik pesawat dari Medan - Jakarta berkisar Rp 1.250.000.

 Jadi, berita tersebut sebenarnya tidak mengherankan saya. Hanya saja, apakah sampai sekarang masih juga murah? Padahal telah berlalu 19 tahun.  Beberapa tahun sebelumnya,  terakhir mengunjungi Medan, ongkos dari Surabaya  memang berkisar hanya Rp 600.000 sampai Rp 800.000. Dengan  maskapai Air Asia. Dan Surabaya ke Lombok hanya Rp  300.000-an dengan Lion Air.  Akibatnya, terminal bandara mana pun sudah menyerupai terminal bus. Karena murah, semua bandara ramai dipenuhi penumpang yang menggunakan jasa pesawat  terbang.

Saya tidak mempermasalahkan kenaikan tarif  Medan ke  Jakarta yang dulu murah. Dan kini mahal. Tapi kata Medan mengingatkan janji saya pada anak-anak saya waktu mereka masih kecil.

Bambang-S-2.jpgSalah satu sudut Bandara KLIA 2 Kuala Lumpur yang khusus berbiaya rendah. Harus jalan cukup jauh lewat jalur mirip huruf U untuk sampai pemeriksaan imigrasi dan ambil bagasi. (FOTO: Bambang Supriyantoro)

“Nanti kalau sudah di Medan, bisa jalan-jalan ke Singapura atau Kuala Lumpur,” bujuk saya kala itu,  saat mereka saya ajak pindah dari Makassar ke Medan karena tugas kantor. 

Kedua anak saya pinginnya pulang  ke Malang saja. Ikut mbahnya (neneknya). Saat itu yang terkecil masih  umur 5 tahun, yang besar umur 12 tahun.   Bujukan saya waktu itu sukses, dan mereka menemani bapaknya pindah tugas ke Medan.  Tapi sampai selesai tugas di Medan kemudian kembali ke kantor pusat di Gresik, belum kesampaian juga ngajak anak-anak wisata ke SIngapura atau Malaysia.

Itulah sebabnya tiap mudik lebaran ke rumah mbahnya di Malang,  saat diajak balik ke  Medan pasti anak-anak saya ogah-ogahan dan alot. Terjadi  tarik ulur. Mereka lebih senang tak ikut balik ke Medan.

”Bapak dan ibu saja yang berangkat ke Medan. Saya dan  kakak tinggal di sini sama mbah,,”  rengek anak cewek paling kecil yang saya ingat.   Sehingga  rencana berangkat jam 07.00 pagi bisa  molor sampai jam 11.00-an karena "acara" membujuk agar kembali ikut ke Medan.

Penasaran dengan berita biaya penerbangan ke Kuala Lumpur lebih murah dibandingkan ke Jakarta, saya iseng membuka situs travel online. Benarkah harga tiket pesawat ke luar negeri lebih murah dari pada rute domestik? Ternyata benar. Ke Kuala Lumpur  dengan pesawat  City Link yang  membuka rute baru Surabaya - Kuala Lumpur tertulis hanya Rp 265.000. Murah amat, pikirku.  Kalau berempat, beli tiket PP hanya sekitar Rp 2 jutaan. Masih kejangkau.

Akhirnya, saya tunjukkan ke Istriku tiket promo murah tersebut. “Ayoo…jalan jalan ke Kuala Lumpur sama anak-anak,“ tawaranku ke Istri.  

“Kalau aku sih oke-oke saja, lha arek arek mau tidak?” balas Istriku.  

Anak-anak saya kini sudah besar. Beberapa kali sulit diajak untuk jalan bareng, entah itu makan di luar rumah atau ke luar kota, selalu saja ada alasan untuk menolak.   Singkat ceritera beberapa hari kemudian isteriku laporan. "Anak-anak mau ikut dan waktunya bebas. Karena yang kecil sedang nyusun skripsi, yang bisa ditinggal 4-5 hari," kata isteriku. 

Plong rasa hatiku. Pertama bisa memenuhi janji saat mereka masih kecil. Kedua bisa  jalan bareng saat mereka sudah besar. Kapan lagi pikirku. Kalau mereka sudah punya pasangan hidup, akan lebih sulit jalan bareng dibandingkan saat mereka masih kecil.

Saat itupun saya teringat Konco Lawas Wartawan Jawa Pos yang pernah bertugas di Kuala Lumpur relatif lama,  sekalian ingin memperoleh informasi secara umum tentang Kuala Lumpur.  Karena kami belum pernah  sama sekali ke Kuala Lumpur. Saya hanya pernah ke Johor Bahru, tapi 20 tahun yang lalu.   Saya bertanya lewat HP: ”Bos, gak ada acara Kuala Lumpur tah waktu dekat ini?“  “Sebetulnya pingin ngunjungi saudara dan konco-konco di sana, tapi masih ada pekerjaan sedikit yang mesti saya urusi,” jawab teman saya.  

“Sekarang  ada tiket murah Bos. Cuma Rp 265.000 ke Kuala Lumpur,” balasku promosi agar tertarik untuk berangkat. 

“Benarkah? Kalau gitu bulan depan saja. Saya bereskan dulu pekerjaan saya,” jawabnya. Mungkin teman saya heran koq bisa semurah itu biaya tiketnya.

Akhirnya saya minta isteri saya mengambil Passport yang dia simpan di lemari. Saya pingin mengecek masa kadaluarsanya. Ternyata masih cukup lama masa berlakunya. Baru Desember 2019  berakhir. 

"Wah ini harus segera dieksekusi," pikirku. Enam  bulan sebelum berakhir sudah tidak bisa lagi dipakai.   

Segera saja saya buka lagi situs travel online tersebut. Maksudnya mau pesan, ternyata sudah berubah harganya menjadi Rp 1,3 juta dari  semula yang hanya Rp 265.000.   Tapi karena terlanjur sudah janji sama anak-anak, maka rencana jalan-jalan ke Kuala Lumpur harus tetap dilaksanakan.   Setelah beberapa waktu mencari-cari akhirnya ketemu tiket murah lainnya Rp 405.000 sekali jalan dengan Pesawat  Air Asia untuk keberangkatan 30-an hari ke depan. Langsung saja saya pesan empat tiket untuk perjalanan pergi-pulang Rp 810.000 per orang. Berempat Rp 3.240.000.

Aman, pikirku. Anggaran sudah saya siapkan: tak boleh lebih dari Rp 10 jutaan.

Hari itu juga saya cari referensi hotel dan destinasi yang akan dikunjungi. Dari pengalaman orang-orang yang pernah travelling ke Kuala Lumpur.  Dan secara kebetulan, beberapa hari kemudian ada teman wartawan juga yang berkunjung ke Kuala Lumpur bersama anak-anaknya. Yang pengalaman perjalanannya ditulis dan dimuat di CowasJP.com. Yaiitu Mohammad Makruf.   

Dari berbagai informasi di Internet yang ditulis para traveller, akhirnya saya pesan hotel lewat biro travel online. Dengan mempertimbangkan aspek lokasi, harga, dan pengalaman orang lain yang menginap di hotel-hotel di Kuala Lumpur.

Setelah melalui pertimbangan dengan menyesuaikan  anggaran yang ada, saya putuskan milih satu kamar saja untuk berempat. Dengan harapan kebersamaan seperti waktu anak-anak kecil dulu terulang kembali.  Akhirnya saya milih Hotel Easy yang terletak di samping KL Sentral,  yang menjadi  stasiun pusat  transportasi Kuala Lumpur. Ke mana saja bisa dengan mudah dari KL Sentral.  Tarif hotelnya Rp 640.000 per malam berikut  sarapan gratis untuk berempat.

Pertimbangan berikutnya, berapa lama berada di Kuala Lumpur? Karena berkaitan dengan jadwal pesawat yang akan dipesan nanti.   Setelah mempertimbangkan destinasi yang akan dikunjungi, dan agar waktunya lebih longgar dan santai, saya putuskan booking 3 malam, sekaligus pesan pesawat sesuai dengan tanggal keberangkatan. Sekaligus kepulangannya.   Saat itu saya harus transfer Rp 3.240.000 (pesawat) dan Rp 1.920.000 (penginapan 3 malam), total  Rp 5.160.000. Beres sudah masalah berangkat  dan kepulangan berikut nginapnya.  Tinggal berapa ringgit (mata uang Malaysia) yang harus di bawa? Untuk biaya transpor keliling menuju destinasi yang akan dikunjungi nanti.

Dari hasil pencarian di internet, tentang biaya transportas serta  makan di tempat destinasi, maka saya putuskan membawa uang 1.000 Ringgit saja. Toh  nanti kalau kurang bisa menggunakan kartu ATM yang  dari pengalaman saat ke Singapura, maupun umroh bisa narik uang di negara setempat.   Di tempat  penukaran uang di Malang, uang Ringgit Malaysia dihargai Rp 3.600 tiap Ringgitnya. Saya harus bayar Rp 3.600.000. Belakangan saya baru tahu, mendingan tukar uang di Kuala Lumpur. 1.000 Ringgit hanya dihargai Rp 3.400.000.

Jadi, dengan menghabiskan biaya Rp 8.760.000 bisa berwisata ke Malaysia berempat, 4 hari 3 malam. Tiap orang hanya butuh biaya Rp 2.190.000. Dan destinasi yang dikunjungi adalah sekitar Kuala Lumpur, Museum Tentara Diraja Malaysia dan pantai Port Dickson di Negeri Sembilan, dan  kota cagar budaya Melaka.  Tulisan ini hanya ingin menginformasikan bahwa relatif murah berwisata ke Malaysia dibandingkan berwisata di Jakarta.    

Destinasi wisata menarik yang kami dikunjungi akan saya tulis pada kesempatan lainnya. Misalnya bagaimana keliling Kuala Lumpur tanpa harus mengeluarkan ongkos transportasi alias gratis dengan mode angkutan GO KL. Yang berbayar pun relatif murah. Ada  LRT, MRT, Komuter (KTM), sesuai dengan kantong wisatawan yang dananya pas-pasan.(*)

Penulis: Bambang Supriyantoro, mantan wartawan Jawa Pos dan karyawan Petrokimia Gresik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda