Komentar Dua Cowasers tentang Kereta Api

Bambang Indra Kusumawanto (kanan).

COWASJP.COM – Komentar dua Cowasers (mantan wartawan/karyawan Jawa Pos Group) ini perlu disajikan untuk melengkapi tulisan Cowaser: Tofan Mahdi, tentang Revolusi KAI. Kereta Api Indonesia.

Bambang Indra Kusumawanto (BIK - inisial di beritanya dulu di Jawa Pos) dan H. Nasaraddin Ismail (Din, inisial di beritanya dulu di Jawa Pos) memberikan komentar singkatnya.

"Pak Dahlan (Iskan) sangat concern pada angkutan kereta api. Saya ingat tulisan beliau saat naik kereta ekonomi Gaya Baru malam Jakarta - Surabaya. Gerbong penuh sesak. Listrik mati. Kaki beliau terinjak pula. Beliau," kata BIK. Dahlan Iskan menggambarkanya sebagai wujud kepasrahan total rakyat kecil. 

"Dari sinilah mungkin Pak Dahlan menyimpan dendam untuk  memperbaiki Kereta API Indonesia. Maka beliau nemu eksekutor yang hebat, yakni Jonan. Setuju tulisan Tofan. Ada revolusi di tubuh KAI," tuturnya.

Mas Nasaruddin membenarkan komentar BIK. Kedua Cowasers ini menuliskan komentarnya di WAG Cowas JP.

bik2.jpgNasaruddin Ismail bersama sahabat kecilnya dulu di Lombok.

"Ketika Pak Jonan mulai membenahi KAI, Pak Dahlan sering mengajak saya naik KA di Jakarta. Ketika beliau masih Menteri BUMN.

Habis senam di Monas,  langsung ke stasiun," kata Mas Din.

Pernah nggak dibukain pintu oleh security (Satpam). Tampaknya Satpam belum kenal. "Beliau senyum aja. Saya tidak boleh bilang,  kalau itu Pak Dahlan." 

Pak Jonan pernah cerita. Sebelum beliau memimpin PT KAI, BUMN ini sarat korupsi. 

Setiap kepala stasiun, antara lain Kepala-Kepala  Stasiun di Surabaya, menurut Ignatius Jonan, harus memberikan setoran dalam jumlah tertentu ke KAI pusat.

Lantas semua setoran itu diberantas. Beliau mengancam. "Kalau tidak bisa mengikuti caranya, mundur saja."

Lantas beliau mengajak kerja sama Marinir. Sebagian petugasnya dari Marinir. 

Pak Dahlan mendukung sepenuhnya.

Mungkin itulah cikal bakal Revolusi PT KAI.(*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda