Jonan, Dahlan, dan Revolusi Kereta Api

Penulis di dalam gerbong kelas Ekonomi KA Argo Parahiyangan. (FOTO: Rufi Yenuartik)

COWASJP.COM – Dalam perjalanan dari Jakarta menuju kota Bandung siang ini, saya sengaja memilih moda transportasi kereta api. Alih-alih membawa mobil sendiri yang  bisa memakan waktu 6-7 jam karena kemacetan akibat rangkaian kegiatan pembangunan di jalan tol Cikampek. Karena baru pesan tadi malam, ndilalah dapat KA Argo Parahiyangan Tambahan kelas ekonomi. Itung-itung mengenang masa lalu, naik KA ekonomi (kadang nunut/ gak bayar) dari kota kelahiran Pasuruan menuju Jember. Banyak kisah saat itu, yang tentu saja, tidak saya bagikan di sini.

Sudah lama kita mendengar bahwa manajemen dan pelayanan kereta api di Indonesia sudah jauh berubah. Kondisi di stasiun, sistem ticketing, boarding process, hingga pelayanan dan kenyamanan di dalam kereta. Semua berubah. Berubah menjadi lebih baik. Bahkan ada yang mengatakan, di Indonesia sudah terjadi revolusi, ya revolusi PT Kereta Api. Saya setuju, peningkatan kualitas manajemen dan pelayanan kereta api adalah contoh revolusi dalam pengertian yang baik.

gerbong-kereta-api-2.jpgKereta Api Indonesia paska revolusi. (FOTO: good news from Indonesia)

Boleh setuju atau tidak, tokoh dan pelopor revolusi kereta api ini adalah Ignasius Jonan. Menteri ESDM yang sebelumnya dipercaya menjadi Menteri Perhubungan dan Dirut PT Kereta Api Indonesia. Saya tidak mengenal Jonan, namun saya membaca banyak artikel tentang banker asli arek Suroboyo itu. Termasuk wawancara Jonan di salah satu media yang bercerita gajinya sebagai CEO PT KAI hanya separo dibanding gaji dia saat menjadi banker di Citibank. "Pada satu titik saya memang harus berkontribusi kepada bangsa ini. Kapan lagi kalau bukan sekarang."

Jonan diangkat sebagai Dirut PT KAI oleh Menteri BUMN Sofyan Djalil (2009). Jonan datang pada saat kondisi PT KAI berdarah-darah, rugi ratusan miliar rupiah. Meskipun tidak paham persoalan kereta api, dengan ilmu keuangan dan perbankan yang dimiliki Jonan, Sofyan Djalil yakin Jonan mampu memperbaiki kinerja keuangan PT KAI.

Jonan mendapatkan bos dan partner yang klop saat Dahlan Iskan diangkat Presiden SBY menjadi Menteri BUMN menggantikan Mustafa Abubakar dalam reshuffle kabinet tahun 2011. Meskipun duet Dahlan Iskan dan Jonan cukup singkat, hanya tiga tahun saja, namun itulah "golden moment" di mana revolusi kereta api benar-benar terjadi. Jonan merencanakan, Dahlan menyetujui tanpa basa-basi, Jonan dengan penuh percaya diri mengeksekusi. Bahkan Dahlan Iskan mendorong perbaikan pelayanan kereta api bisa lebih cepat lagi. 

Dalam sejumlah kesempatan, Dahlan Iskan bos saya selama 12 tahun bekerja di Jawa Pos, bercerita bagaimana para wartawan foto sejak sekitar tahun 2011 sudah kesulitan mencari foto penumpang yang uyel-uyelan saat mudik Lebaran. Penumpang di atas gerbong kereta api juga sudah tidak bisa ditemukan lagi. Dan kereta api Indonesia menjadi etalase pertama sistem manajemen transportasi darat yang beradab.

gerbong-kereta-api-3.jpgTidak ada lagi pemandangan seperti ini. (FOTO: akurat.co)

Dan, satu revolusi besar lagi di kereta api adalah bersih dari asap rokok. Tentang hal yang terakhir ini, saya yakin Dahlan Iskan yang punya peran sangat besar. Bukan tanpa alasan, jauh sebelum Dahlan Iskan diminta Presiden SBY menjadi Dirut PLN kemudian Menteri BUMN, saya berani memastikan bahwa Jawa Pos adalah kantor media massa pertama yang bersih dari asap rokok. Bisa dibayangkan betapa sulitnya meminta wartawan berhenti merokok. Dan Dahlan Iskan bisa melakukan itu semua, tentu saja dengan sedikit "ancaman", jika tetap merokok uang asuransi kesehatan tidak akan dibayar oleh perusahaan. Dan, seperti halnya kantor-kantor Grup Jawa Pos, gerbong-gerbong kereta api pun kini juga sudah bersih dari asap rokok. Termasuk dalam gerbong KA kelas ekonomi yang saya naiki siang ini. 

Setelah tahun 2014 menjadi Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan dipercaya Presiden Jokowi sebagai Menteri ESDM. Semoga juga ada revolusi yang baik di industri migas ini. Sedangkan Dahlan Iskan setelah tidak lagi menjabat Menteri BUMN memilih menikmati hidup bersama cucu-cucunya di Kota Surabaya. 

Tentu kita menunggu "revolusi-revolusi" baru terjadi hingga mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang beradab, makmur, dan maju. (*)

Pewarta : Tofan Mahdi
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda