Pementasan “Montserrat” Teater Alam Bakal Kebanjiran

Edo Nurcayho (tengah berambut gondrong), pimpro pementasan Montserrat Teater Alam dalam jumpa pers, Rabu (5/12/2018) di RM Kebon Ndelik Yogyakarta. (FOTO: Udik S)

COWASJP.COM – Salah satu teater tertua di Yogya, Teater Alam, bakal mementaskan lakon “Montserrat” di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu (8/12/2018). Pentas kali ini akan menjadi momentum penting, tidak saja bagi kelompok teater yang didedengkoti Azwar AN, tetapi juga bagi jagad teater Yogya dan Indonesia.

Di tengah banyaknya kelompok teater yang “mati suri”, kemunculan Teater Alam laksana oase di padang gersang. Tak heran jika Sabtu malam nanti, TBY bakal kebanjiran. Bukan banjir air –sekalipun turun hujan—melainkan banjir penonton. “Per hari ini, dari 1.000 seat yang ada, sudah hampir habis,” ujar Edo Nurcahyo, Pimpinan Produksi saat jumpa pers di RM Kebon Ndelik, Bausasara, Yogyakarta, Rabu (5/12/2018).

Montserrat-4.jpgSuasana jumpa pers pementasan Montserrat, Teater Alam. (FOTO: Udik S)

Pementasan “Montserrat” merupakan pementasan Teater Alam yang didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta. Karenanya, panitia tidak menjual tiket. “Yang menggembirakan, karena kami mendapat pesanan tiket justru dari generasi muda. Salah satu SMA di Purworejo (sekitar 75 km sebelah barat Yogyakarta) akan datang dengan dua bus. Dari Klaten, juga akan datang siswa SMA secara berombongan. Belum termasuk dari beberapa SMA dan SMK di Yogyakarta, selain mahasiswa ISI (Institut Seni Indonesia). Itu yang sudah kami catat dan penuhi. Dari ISI malah menanyakan harga tiket, tapi kami beri tahu bahwa pertunjukan ini gratis,” tambahnya.

Menurut Edo, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI, Prof Dr Hj Yudiaryani MA bahkan menjadikan pementasan
Montserrat Teater Alam Sabtu nanti sebagai bahan kajian akademik. “Saya dapat info, mahasiswa ISI bahkan ditugaskan tidak saja menonton, tetapi mengikuti proses produksi. Makanya, hampir tiap hari mereka banyak yang menyaksikan kami latihan di sekitar TBY,” ujar Pimpro yang dalam repertoar itu juga berperan sebagai penata lampu.

Buku Trilogi Teater Alam

Selain mementaskan ’’Monserrat’’, dalam rangka ulang tahun Teater Alam yang ke-47, juga diterbitkan 3 buah buku sekaligus (Trilogi Teater Alam). Ketiga buku itu ’’Biografi Azwar AN’’ (Buku 1), ’’Sejarah Teater Alam’’ (Buku 2), dan ’’Testimoni tentang Azwar AN dan Teater Alam’’ (Buku 3). Buku ini akan menandai hadirnya referensi komprehensif tentang sebuah kelompok teater tertua di Yogya yang hingga kini masih bertahan.

Montserrat-5.jpgAzwar AN (kanan). (FOTO: Korantangerang.com)

Azwar AN, tak bisa dipisahkan dari sosok WS Rendra, sebagai pendiri Bengkel Teater. Pertautan keduanya, menjadi trend setter teater modern Indonesia. Keduanya, bersama Bengkel Teater selalu mendapat panggung terhormat di Taman Ismail Marzuki (TIM) ketika itu.

Keluarnya Azwar dari Bengkel akhir tahun 1971, lalu membentuk Teater Alam awal 1972, justru makin menggairahkan dunia teater ketika itu. Perjalanan panjang Teater Alam, dengan sendirinya, telah melahirkan banyak aktor dan banyak manusia sukses, tidak saja di dunia keaktoran, tetapi banyak pula yang sukses merambah dunia lain.

Testimoni non anggota Teater Alam maupun anggota Teater Alam, harus diwadahi dalam satu judul buku tersendiri, mengingat begitu menariknya materi yang masuk. Tulisan berupa kesaksian orang luar maupun orang dalam terhadap Azwar AN dan Teater Alam, sungguh menempatkan Teater Alam dan Azwar AN berada pada “rumah kaca” yang telanjang dan terbuka.

Untuk menyusun buku Trilogi Teater Alam, telah dibentuk tim penulis yang sebagian besar adalah anggota Teater Alam, dibantu tim kerja yang terdiri atas profesional dan mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Sebagai penyunting, mempercayakan kepada dua “orang Teater Alam” yang telah berpengalaman menulis dan memproduksi buku. Mereka adalah Roso Daras dan Yudiaryani. 

Di deretan tim penulis, juga bercokol nama-nama Bambang JP, Gde Mahesa, Daru Maheldaswara, Wahyana Giri, Nur Iswantara, Odi SM, Latief Setia Nugraha dan lain-lain. “Jika pementasan dilakukan Sabtu, 8 Desember 2018, maka peluncuran buku kami targetkan awal Januari 2019, bertepatan ulang tahun Teater Alam yang ke-47,” ujar Bambang J. Prasetya, salah satu penulis buku yang hadir dalam jumpa per situ. (*)

Pewarta : Roso Daras
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda