Merebut Roti Senayan

FOTO Nyusul

COWASJP.COM – Ada anekdot kocak dalam buku Balada Paijo. Penulisnya almarhum pelawak Dono Warkop. Dalam salah satu bagian isi Balada Paijo, Dono menceritakan tokoh Paijo yang konyol. Ia, si Paijo, baru saja keluar dari tempat pemungutan suara (TPS) usai mencoblos partai yang dipilihnya dalam pemilu. 

‘’Selamat ya Pak Paijo, Anda baru saja meramaikan pesta demokrasi,’’ kata tetangga Paijo memberi ucapan selamat.

‘’Oh..terima kasih...terima kasih....,’’ jawab Paijo.

‘’Bagaimana Pak Paijo rasanya ikut pesta demokrasi?’’ sambung si tetangga dengan nada bertanya.

‘’Pesta demokrasi apaan?’’ Paijo balik bertanya

‘’Lha tadi yang Pak Paijo lakukan dalam TPS itu,’’ lanjut tetangga tadi.

‘’Ah... saya tidak berpesta kok. Saya cuma membantu teman untuk mendapatkan pekerjaan di DPR,’’ sergah Paijo. 

Senayan tiap lima tahun sekali ibarat lumbung padi bagi tikus. Semua berebut. Saling sikut untuk masuk ke timbunan padi. Setelah bisa masuk yang dilakukan bukan cuma memangsa padi sebanyak-banyaknya. Kalau perlu sekalian bikin sarang dan berbiak di sana. 

Bagi orang yang bernafsu jadi wakil rakyat road to Senayan (jalan menuju Senayan) ibarat pertempuran hidup mati. Agar aman sampai ke Senayan apa pun dilakukannya. Tak ada yang gratis. Harus direbut. Jika perlu siapa pun tak peduli, harus dikorbankan. 

Pertarungan menjadi calon anggota legislatif (caleg), saat ini, justru dimulai dari apa yang kata Filsuf Thomas Hobbes adalah homo homini lupus. Manusia adalah srigala bagi manusia yang lain. Jalan menuju Senayan seolah menjelaskan watak agresi manusia yang sering melebihi hewan. 

Pertempuran menuju Senayan dimulai dari internal partai. Di sana, para caleg harus bertarung dengan sesama rekan yang sama-sama ingin jadi wakil rakyat. Untuk sementara rasa kasih, setia kawan, dihabisi. Berbagai cara dilakukan untuk saling menjegal. 

Untuk berebut dukungan di internal partai saling sikat dibolehkan. Saling sikut dihalalkan. Saling tonjok diwajarkan. Di sinilah wajah politik yang sangar ditampakkan dengan sesungguhnya. Persis seperti yang lama dilontarkan Machiavelli. Kekuasaan politik harus direbut dengan menghalalkan segala cara. Tak ada kawan. Semua orang yang dianggap sebagai penghadang harus dilawan. 

Setelah lolos di internal partai masing-masing pertarungan babak berikutnya lebih seram lagi. Caleg masing-masing partai akan bertarung untuk mendapatkan dukungan pemilih sebanyak-banyak melalui kertas suara yang dicoblos dalam TPS.

Di sini praktis arena pemilu adalah pertempuran paling brutal. Agresi untuk saling mendapatkan dukungan pemilih bisa dipertontonkan dengan nafsu paling gila sekalipun. Adu fisik dan kekerasan siap ditunjukkan demi meraih tiket ke Senayan. 

Banyak bukti bisa dilihat telanjang. Dalam Pemilu 1999 sampai 2014 arena kampanye sering memicu bentrok dan kekerasan antar massa pendukung parpol. Bahkan ada yang meminta korban meninggal.

Mereka tewas sia-sia. Jadi tumbal arogansi partai yang merasa perkasa. 

Tetapi apa sebenarnya yang dicari para caleg? Kalau hanya ingin jadi wakil rakyat buat apa sampai harus berani pasang badan untuk adu fisik? Pemilu dalam terminologi politik adalah proses seleksi orang yang dapat dipercaya untuk diberi (dititipi) mandat menjalankan kedaulatan rakyat. 

logo-kpu.jpg

Kalau persoalannya seleksi politik, bukankah rakyat sebagai individu seharusnya memiliki kewenangan penuh untuk memilih orang yang paling dipercaya menjadi wakilnya di parlemen? 

Di negara-negara yang sistem demokrasinya sudah mapan (maturity) pemilu relatif bebas dari kekerasan dan adu fisik berebut dukungan. Lantaran para caleg dapat menjunjung tinggi nilai-nilai fairness dalam kompetisi politik. 

Mereka sadar pemilu adalah proses seleksi politik menjadi wakil rakyat. Karena itu, rakyat berdaulat penuh dan mandiri untuk memilih orang yang paling dipercaya menjadi wakilnya di parlemen. Tak ada intimidasi. Tak ada paksaan. Tak ada sogokan. Tak ada rokok cap partai. Tak ada gantungan kunci cap partai. 

Sebelum menjadi calon wakil rakyat di internal partai dilakukan seleksi moral dan kepatutannya menjadi politisi. Ada yang lebih prinsip. Ditanya asal usul pekerjaan dan penghasilan tetap sebelum jadi politisi. Tujuannya agar tugasnya sebagai wakil rakyat tidak dianggap sebagai pekerjaan. 

Anggota DPR bukan tempat mencari penghasilan. Dengan begitu, ketika telah jadi anggota DPR tidak rewel minta gaji tinggi. 

Dengan penghasilan yang relatif mandiri diharapkan tak mudah menerima sogokan ketika membahas RUU atau Perda. Korupsi dibatasi dari diri sendiri sebelum diatur melalui keputusan politik. 

Di sini, dalam banyak kejadian pertarungan di jalan raya menuju Senayan serba gelap gulita dalam ukuran moral dan kepatutan.

Tetapi yang paling konyol ialah kesan kuat bahwa duduk di kursi wakil rakyat adalah pekerjaan dengan gaji tinggi. Karena itu, masuk akal jika persaingan ke Senayan sarat 
dengan adu mulut. Bahkan adu fisik. 

Bahkan ada yang nekat. Membentuk barisan penakluk lawan yang siap adu 
kekuatan. 

Konyol bin kurang beradab. (*)

Pewarta : Maksum
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda