Catatan: Tofan Mahdi

Menjadi Penumpang Pesawat Terbang

COWASJP.COM – Alhamdulillah, setelah terbang selama sekitar 1 jam dan 45 menit dari Bandara Ngurah Rai Bali (DPS), pesawat Airbus A330-200 PK-GPQ dengan nomor penerbangan GA419 mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta (CGK). Dua jam sebelumnya, juga dari Denpasar, pesawat yang ditumpangi anak lanang SJ275 juga telah mendarat dengan selamat. Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan seluruh alam.

Bagi saya pribadi, penerbangan sore ini adalah penerbangan ke 95 sepanjang tahun 2018. Dari frekuensi tersebut, sebanyak 76 kali terbang dengan Garuda Indonesia. Selebihnya dengan Batik Air, Citilink, KLM, Qatar Airways, Emirates, dan Wuling Airlines (maskapai berbiaya murah dari Spanyol). 

Suasana batin terasa agak berbeda sore ini. Begitu roda pesawat menyentuh landasan, tak terasa ada rasa syukur dan haru dalam hati. Allah SWT masih memberikan keselamatan dan kesehatan kepada saya dan keluarga hingga hari ini. Padahal rasa syukur yang telah saya persembahkan kepada Tuhan, tidak sebesar nikmat yang telah Tuhan berikan. Astaghfirullah haladzim. 

Kecelakaan pesawat terbang yang kembali terjadi dalam dunia penerbangan sipil nasional, kembali mengusik batin kita. Hal yang sama mungkin juga dirasakan oleh teman-teman terutama mereka yang (karena tugas pekerjaan) harus sering berpergian dengan pesawat terbang. Amankah perjalanan udara kita hari ini? Amankah penerbangan kita esok hari? Wallahualam.

Saya bukan ahli pesawat terbang, juga bukan pakar industri dirgantara yang bisa menjelaskan, misalnya, mengapa pesawat yang baru dua bulan beroperasi bisa mengalami kecelakaan fatal. Saya hanya warga sipil biasa yang kebetulan, karena tugas pekerjaan, sering berpergian dengan pesawat terbang. 

Banyak aspek yang mempengaruhi tercapainya keselamatan penerbangan. Kelaikan pesawat, manajemen maskapai, pengatur lalu lintas udara, termasuk peran dan kerjasama dari penumpang. Dari semua aspek tersebut, tentu saja saya hanya kompeten menulis catatan berdasarkan pengalaman saya menjadi penumpang pesawat terbang.

Berbeda dengan moda transportasi darat dan laut, menjadi penumpang pesawat terbang kita hanya bisa pasrah bongkok'an (pasrah total). Sekali on board (masuk ke dalam pesawat), hanya satu hal yang bisa kita lakukan: menjadi penumpang yang baik dan patuh pada semua ketentuan dalam peraturan keselamatan penerbangan sipil internasional. Kita segera mematikan HP dan, terutama, tidak melakukan voice call di dalam pesawat, duduk  sesuai nomor kursi seperti tertera di dalam boarding pass dan mengenakan sabuk pengaman, tidak berbicara terlalu keras kepada teman satu perjalanan karena bisa mengurangi kenyamanan penumpang yang lain, tidak memaksakan membawa tas ukuran bagasi ke dalam kabin, hingga bersikap sopan dan menghargai kru pesawat yang bertugas. Terutama kepada para flight attendant perempuan. 

Dalam beberapa kesempatan terbang saya pernah menegur penumpang lain yang masih melakukan voice call ketika pesawat sudah push back (didorong ke belakang), apalagi jika pesawat sudah berjalan menuju landasan. Hanya itu yang bisa kita lalukan ketika kita sudah masuk ke dalam pesawat terbang. Selain tentu saja, berdoa sesuai agama dan keyakinan kita, agar Tuhan selalu melindungi perjalanan kita.

Kecelakaan pesawat terbang pada akhirnya adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Tetapi sebagai manusia adalah wajib bagi kita untuk melaukan ikhtiar terbaik. Dalam memilih maskapai, saya sering dibilang kolokan, karena hanya mau terbang dengan maskapai tertentu. Tapi ini pilihan saya dan saya menerima ketika beberapa teman memberikan sindiran. 

"Numpak pesawat podo wae, sing penting thuthuk (naik pesawat apa saja sama saja, yang penting sampai tujuan," kata seorang teman. Saya tidak setuju. Bagi saya, kredibilitas maskapai berbeda satu sama yang lain. Dan saya memilih maskapai yang setidaknya membuat saya nyaman selama penerbangan.

Seraya berdoa untuk seluruh korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 di Teluk Karawang, Senin (9/10) lalu. Juga untuk seluruh keluarga yang ditinggalkan semoga selalu diberi  ketabahan.
Besar harapan kami bahwa tidak akan pernah terjadi lagi peristiwa memilukan dalam dunia penerbangan. Dan  penerbangan sipil Indonesia menjadi sektor yang aman, nyaman, dan seluruh pemangku kepentingan berkomitmen  menjaga tercapainya keselamatan penerbangan dengan biaya berapa pun juga (at all cost).

Di tengah hujan rintik-rintik di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, saya mengucapkan selamat berakhir pekan bersama keluarga tercinta buat teman-teman semua. Mari kita gaungkan hastag #safetyhargamati. (tofan.mahdi@gmail.com)

*Tofan Mahdi, anggota Garuda Frequent Flyer Platinum (Sky Team Elite Plus): 225-524-036

Pewarta : Tofan Mahdi
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda