Setelah 115 Tahun Divakumkan

Meledak, Jumlah Pengunjung Wisata Bubohu

Desa Wisata Relijius Bubohu, Gorontalo. (Foto wikipedia)

COWASJP.COM – Diawali dengan mengindahkan kebebasan politik di era reformasi 1997. Seorang pemuda bernama Yosep Tahir Ma’ruf, menulis kembali catatan sejarah masa lampau. 

Dia menulis tentang Kerajaan Bubohu di Gorontalo. Bahan tulisannya berupa kumpulan seluruh data lengkap tentang Kerajaan Bubohu yang berdiri pada tahun 1750. 

‘’Setelah bahannya lengkap, kerajaan itu kami rekonstruksi seperti sedia kala. Paling tidak, setiap bagiannya banyak yang sama,’’ kata Yotama, demikian namanya disingkat.
Kegiatan rekonstruksi sejarah Kerajaan Bubohu itu penting. Maklum sudah 115 tahun divakumkan oleh Belanda. Kerajaan itu dibubarkan pada tahun 1902. Rekonstruksi kerajaan dilakukan Yotama melalui pendirian Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Lingkungan Hidup. Kemudian LSM itu dilebur menjadi PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Yotama. 

‘’Dalam merekonstruksi sejarah Kerajaan Bubohu, kami benahi menjadi Desa Wisata Religius, kemudian dikelola oleh PKBM,’’ ungkapnya.

Tidak perlu lama membangun rekayasa kerajaan. Dijalankan hanya sekitar satu tahun untuk tahap awal. Ternyata, dampaknya dasyat. Dalam seminggu tidak kurang didatangi sekitar 2.000 pengunjung. Pengunjungnya kebanyakan orang dari sekitar wilayah bekas Kerajaan Bubohu. Melihat perkembangan menarik ini, PKBM Yotama segera mendirikan Yayasan Walima Emas Bubohu.

Yayasan tersebut mengelola SMK Pariwisata dan Masjid Walima Emas Sultan Hilalumo Amay Bubohu I bin Lala bin Sultan Botutihe Abdul Malik. 
Diakui Yotama, meski sudah dikunjungi sekitar 2.000 pengunjung setiap minggunya, dia ragu untuk melanjutkan.

Pesantren Alam dan Serba Gratis

 Untuk menjawab keraguan itu, Yotama menciptakan teknologi Panen Air Hujan Ecogreen Yotama. Dengan teknologi ini dia mampu bertani di lahan sempit tanpa pupuk.
Konsep rekonstruksi kerajaan pun dilengkapi dengan membangun sebuah danau. Sumber airnya hanya dari menampung air hujan. Di sekeliling danau ditanam berbagai jenis pohon. Burung-burung pun dilepas di lokasi seputar danau. Kebanyakan jenis burung merpati. Para siswa SMK Pariwisata diajak dan dididik berkebun berbagai jenis tanaman. Tanaman khusus yang ada di Gorontalo. ‘’Wisatawan diajarkan sejarah Gorontalo. Para orangtua dibuatkan pesantren alam. Anak-anak dibuatkan tempat bermain. Sambil mengaji, anak muda diajak ke masjid,’’ paparnya.

Lambat laun jumlah pengunjung meledak. Belakangan sudah mencapai 10.000-an pengunjung tiap minggu. Betapa tenteram dan nyaman berwisata di lokasi Kerajaan Bubohu? 

Seluruh fasilitas bisa dinikmati secara gratis. Tanpa bayar sepeser pun. Rumah makan pun tersedia gratis. Pengunjung sudah berdatangan dari seluruh penjuru dunia. 

nov.jpgMasjid Walima Emas Bubohu. Foto pictame

‘’Saya berkeliling ke seluruh Indonesia untuk menceritakan rekonstruksi Kerajaan Bubohu ini. Setiap daerah saya kunjungi untuk menceritakan keberhasilan rekonstruksi kerajaan ini,’’ papar Yotama bersyukur.

Hingga pada tahun 2017 diadakan pemilihan pemimpin untuk pengelolaan kawasan rekonstruksi Kerajaan Bubohu tersebut. Bisa dipastikan Yotama yang terpilih. 

Kawasan rekonstruksi kerajaan itu diubahnya menjadi kesultanan. Kini dia bergelar Sultan Bubohu XII. Nama lengkapnya: Sultan Yotama Bubohu XII Gorontalo bin Tahir Ma’ruf bin Danial Ma’ruf bin Sultan Ma’ruf Bubohu X bin Butingo Limutu. Kesultanan baru ini sudah bergabung dan tercatat sebagai anggota dalam Asosiasi Raja dan Sultan se-Indonesia.

Cara menghitung pengunjung di Kawasan Desa Wisata Religi cukup unik. Karena serba gratis, tentu tidak ada tiket masuk. Menghitung pengunjungnya dengan kelereng. Ribuan kelereng diletakkan di satu tempat. Pengunjung wajib mengambil satu biji, lalu diletakkan di tempat yang lain. Di tempat terpisah agak jauh. Sejumlah kelereng di tempat baru inilah yang dihitung. Jumlahnya akan sesuai dengan jumlah tamu yang berkunjung pada hari itu. Kemudian dicatat per harinya. Demikian seterusnya. 

Oleh karena serba gratis, pengunjung pun ternyata merasa tidak merasa nyaman begitu saja. Saat mampir di masjid nan indah itu mereka menaruh sumbangan sejumlah uang. Rata-rata mereka bersedekah. Namanya sumbangan, sudah pasti tidak ada kepastian angka rupiah. Tidak menyumbang pun tidak apa-apa. Memang Yotama sudah meniatkan serba gratis. Tapi, mau tahu hasil pengumpulan uang yang disedekahkan di masjid itu? 

nov2.jpgPara santri remaja Bubohu. Foto Bubohu Gorontalo

Konon, tahun-tahun belakangan ini jumlah sumbangannya sudah mencapai sekitar Rp 17 miliar per tahun. Uang sebanyak itu oleh para pengelola Desa Wisata Religji Kesultanan Bubohu selalu dikembalikan ke masyarakat lagi. Di antaranya, diwujudkan dengan mengadakan Festival Walima. Meriah bak pesta rakyat. Pun serba gratis. 

Festival ini diadakan setiap tahun pula. Luar biasa kiat Pak Sultan ini. Suasana yang terbangun sangat relijius. Pengunjung juga banyak dari luar negeri.

Untuk proses pengembangan Kesultanan Bubohu ke depan selalu dilakukan. Terutama untuk mengabadikan sejarah yang sudah tergali ini. Hingga kini Sultan Bubohu XII baru memanfaatkan cuma sebagian lahan yang sudah tersedia seluas 6.000 hektare. ‘’Dari total lahan seluas itu sekarang baru terpakai lima hektar. Hanya khusus untuk wisata religi sekarang ini,’’ tegasnya. (arif novantadi/DL).

Urutan Raja-Raja Bubohu-Gorontalo 1750-1902

Hilalumo Amay (1750-1792)

Umihi (1792-1797)

Ishak (1797-1815)

Hulao (1815-1825)

Dialomo (1825-1840)

Naaku (1840-1857)

Motilatipu (1857-1862)

Hippy (1862-1868)

Yainto (1868-1876)

Ma’ruf (1876-1884)

Botutihe (1884-1902) 

(lalu vakum selama 115 tahun)

Yotama (2017-sekarang).

Pewarta : Arif Novantadi
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda