Eks Napi Teroris yang Jadi Duta Perdamaian (9)

Rela Jualan Kopi agar Dekat Anak, Bisa Sembuhkan Istri

TEGAP: Salman (paling depan) saat mengikuti upacara HUT RI ke 73 di Alun Alun Lamongan (Foto: Bahari/CoWasJP)

COWASJP.COMBeragam cara dilakukan eks kombatan dan napiter untuk memulai hidup baru. Ada yang rela jualan kopi, kerja di proyek, jualan telur ayam, jadi makelar dan kerja serabutan lainnya. Itu pun masih kerap dicibir, dihujat, dicap kafir oleh kelompok lama mereka karena dianggap murtad bahkan diancam dibunuh. Tapi, eks kombatan dan napiter istiqomah, tabah tak terpancing  provokasi.

***

SAAT bertemu penulis  di sela sela mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI ke 73 di Alun Alun Lamongan baru baru ini, Salman alias Ibrahim , 30, mantan napiter konflik Poso tampak semringah.

‘’Bagaimana  kabar keluarga di Klaten?’’ tanya penulis. ‘’Alhamdulillah.. Sehat semua, Pak, ’’ jawab Salman yang terus menebar senyum. Sembari sarapan nasi goreng pagi itu, Salman pun bercerita keluarganya. Dua anaknya masih balita. Satu berumur 1 tahun,  yang sulung kini berumur 3 tahun.

Untuk sementara anak anak Salman dan istrinya ikut mertuanya di kota Klaten, Jateng, dekat kawasan candi Prambanan. ‘‘Kondisi kesehatan istri sudah ada kemajuan, Pak. Tapi, masih rajin konsultasi ke dokter agar stresnya benar benar hilang,’’ tutur Salman.

Guna penyembuhkan istrinya dari stres berkepanjangan sekaligus mendekati dua buah hatinya, Salman memutuskan meninggalkan pekerjannya sebagai pedagang telur di Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan. Dimana Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) yang diketuai Ali Fauzi Manzi berkantor. Sehari hari Salman sebelumnya menumpang di kantor YLP.

BACA JUGA: Tiga Kali Masuk Bui, Kini Hanya Fokus Dakwah​

Tapi, sejak dua bulan lalu  saat ramadlan Ali Fauzi Manzi menitipkan Salman pada pemilik café atau warung kopi di Jogjakarta untuk bekerja di sana. Tujuannya, agar lebih dekat keluarga dan bisa membantu proses pemyembuhan istrinya. ‘’Tiap hari melaju Jogjakarta—Klaten. Paling 30 menit dari rumah sudah sampai tempat kerja. Enaknya kerja di Jogja dekat keluarga,’’ aku Salman.

salman-sarapan.jpgANTAR ISTRI: Salman di rumah mertuanya Klaten. (Foto bahari/CoWasJP)

Di café yang cukup ramai itu, tugas Salman sementara ini sebagai pengantar pesanan makanan ke pengunjung sambil belajar meracik kopi. Salman mengaku giat belajar agar bisa menjadi peracik kopi atau barista handal. ‘’Suatu saat nanti kalau sudah bisa meracik kopi dan punya modal akan mendirikan warung kopi sendiri,’’ akunya berangan angan. 

Soal bayaran, Salman mengaku tergantung ramai tidaknya pengunjung. Kalau pas lagi ramai bayaranya ya lumayan untuk menopang kehidupan keluarganya. ‘’Cukup nggak cukup ya… harus dicukup- cukupkan. Disyukuri saja. Yang penting ada pekerjaan dan pemasukan rutin,’’ akunya.

BACA JUGA: Dijebak Intel, Tawari Order Melatih Kelompok Militan

Seperti diketahui, Salman adalah napiter konflik Poso. Salah satu orang kepercayaan Santoso buronon nomor wahid yang ditembak mati polisi. Salman dua kali ke Poso membantu warga muslim saat meledak konflik Poso. Tahun 2002 dan tahun2012 yang berujung penangkapan dirinya.

Salman tertangkap bersama satu temannya di Poso tahun 2012 silam saat turun ke kota. Meski tidak membawa senjata Salman tetap dituduh anggota kelompok radikal dan turut menyembunyikan buronan kalas wahid Santoso. Oleh pengadilan Salman dijatuhi hukuman 3 tahun penjara. Salman ditempatkan di Lapas Cibinong, Jabar. Baru bebas 2015 silam.

Sayangnya setelah bebas Salman menurut Ali Fauzi, Direktur Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP)  mendarat di tempat salah. Kembali bergabung kelompok garis keras. Mungkin istrinya tidak sreg, tidak betah di komunitas tadi akhirnya stres. Ditambah himpitan ekonomi.Sebagai penjual telur, pendapatan Salman pas pasan.

BACA JUGA: Menyusup ke Militan Kashmir, Intel Pakistan Ditangkap 

Istri Salman stres berat sambil membawa anaknya sempat jalan tak tentu arah sampai ke Palang, Tuban, dari Paciran, Lamongan. Berjarak lebih 70 kilometer. Beruntung polisi menemukan dan mengembalikan kepada keluarganya di Paciran.

ali59b34a.jpgTETAP SEMANGAT: Anggota YLK sebelum mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI ke 73 di Alun Alun Lamongan (Foto bahari/CoWasJP)

Sejak itu kehidupan Salman tidak tenang. Mertuanya akhirnya mengambil istri Salman dibawa pulang ke Klaten guna menjalani pengobatan. Ikut serta anaknya berusia 7 bulan saat itu. Sementara Salman tinggal di Lamongan bersama anaknya berusia 2,5 tahun. Karena ditinggal ibunya ke Klaten, putrinya rewel dan terus menangis selama seminggu ditinggal ibunya. Akhirnya pekerjaan Salman terganggu karena harus mengurusi anaknya.

Kondisi Salman sangat memprihatinkan. Kalau anaknya tetap ikut Salman, kerjanya akan terganggu karena harus mengurusi anaknya. Makanya, Ali Fauzi dkk di YLP memeras otak, mencarikan jalan keluar bagi Salman. Salman saat itu baru seminggu bergabung YLP. Atas rekomendasi teman, akhirnya Salman diterima di YLP karena sangat membutuhkan pertolongan.

BACA JUGA: Mandi Seminggu Sekali, Menu Makan Roti Cane​

RABU  malam itu (21/2/2018) Ali Fauzi dkk menggelar rapat. Akhirnya, diputuskan mengantar anak Salman ke ibunya di Klaten. Ali menyimpulkan tangisan anak itu sebagai ungkapan rindu ibunya. Jadi, mengantar anak ke ibunya solusi terbaik.

Sekitar pukul 23.30, dari Tenggulun kami berenam termasuk Radar Jogja naik Innova ikut mengantar Salman ke Klaten. Salman duduk di jok belakang sambil mendekap putrinya ia tertidur pulas karena kecapaian. Beruntung selama perjalanan, anak Salman tidak rewel.

Tiba di Tegalrejo, Prambanan, Klaten hari masih pagi. Mulyono, mertua Salman  menyambut kedatangan Ali Fauzi dkk dengan ramah. Pria dengan jenggot putih tipis itu tabah menerima musibah menimpa anaknya. ‘’Sudah diperiksakan  ke dokter. Sekarang sudah lebih baik. Tapi, ya itu tadi sering minta keluar. Jalan jalan. Katanya mau mencari pekerjaan,’’ ujar Mulyono. Keluarga hanya mengiyakan saja karena kondisi pikirannya putri bungsunya belum stabil. 

BACA JUGA: Rampas Tank Rusia, Tak Bisa Kendarai, Diledakkan​

‘‘Makanya, sama dokter diberi obat  dicampur dalam minuman agar anak saya lebih tenang,’’ tambah Mulyono. Yang mengembirakan, anak Salman yang semalam terus rewel mulai bisa tersenyum. Itu setelah berkumpul ibu atau uminya. Ia tampak mondar mandir, mengintip tamu dari celah gorden yang datang ke rumah kakeknya. Sebaliknya, Umi, atau istri Salman  tak kalah gembiranya bisa berkumpul kembali dengan anaknya. ‘’Ini akan mempercepat proses penyembuhan istri Salman,’’  kata Ali Fauzi.

Ali Fauzi dkk hanya beberapa jam bertamu ke rumah Mulyono  karena harus segera balik ke Lamongan. Setelah menyerahkan putrinya ke mertua, Salman ikut balik bersama rombongan ke Lamongan. ‘’Salman nanti kalau sudah punya gaji, keluarga segera dikirimi,’’ pinta Sumarno salah satu pengurus YLP. ‘’Ya Ustad,’’ jawab Salman. ‘’Nanti no rekeningnya dikirim lewat SMS,’’ ujar Mulyono.

mulyono.jpgMulyono, mertuanya Salman saat berbincang dengan penulis (Foto: Bahari/CoWasJP)

Apa tidak pernah diajak gabung kelompok lama, atau bahkan diancam seperti napiter  lainnya?

Salman  mengaku bersyukur tidak pernah diancam kelompok radikal. ‘’Berhubungan  dengan mereka (kelompok lama) juga tidak. Sekarang saya fokus membesarkan anak dan kehidupan keluarga,’’ aku Salman.

Lain halnya Hasan alias Agus Martin , 36,  eks kombatan konflik Ambon. Sejak memilih hidup damai, diakui Hasan memang banyak cemohan dari rekan mereka  yang sama sama pernah berjuang di Ambon. Tapi, Hasan memilih tidak menanggapi terlalu keras. 

Apakah sampai sekarang kelompok lama masih mengancam Anda? Hasan menganguk . Tapi, tidak sesering dulu. Hasan pun memilih cold dalam menanggapi cacian mereka. ‘’Kita pelan pelan menanggapinya. Jangan keras dilawan keras. Nggak ketemu,’’ kata Hasan kepada Radar Jogja di sela sela mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI ke 73 di Alun Alun Lamongan belum lama ini.

BACA JUGA: Ikrar Kesetiaan NKRI, Laris Diajak Selfie Pejabat Muspida​

Ini kali kedua penulis bertemu Hasan. Kali pertama ketemu di kantor Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) di DEsa Tenggulun, Solokuro, Lamongan, Februari 2018 silam.

Hasan, biasanya menjelaskan  bahwa tundingan mereka dialamatkan kepada yang bergabung YLP kafir, tagut, menjilat polisi  tidak lah benar. ‘’Mereka ini keras. Kalau dilawan tambah jadi. Makanya, harus kita sikapi lembut,’’  aku Hasan. ‘’Saya berharap suatu saat mereka juga bergabung YLP untuk menjalani hidup secara damai,’’ harap Hasan.

Hasan taat beribadah. Setiap waktunya salat, Hasan selalu  berjamaah di masjid Baitul Muttaqin, yang lokasinya satu komplek dengan YLK di Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan. Penulis melihat Hasan selalu salat berjamaah di masjid. Baik  Ashar, Magrib dan Isya.

Hasan sendiri  ditangkap terkait penyerangan polisi di Bintaro Sektor IX, Tangerang, Banten tahun 2012 silam. Sebenarnya, Hasan tidak terlibat langsung penyerangan. Hanya  saja senjata temannya yang dibawa Hasan dipinjam oleh temannya lalu dipakai menyerang petugas.

BACA JUGA: Dulu Dendam, Anggap Polisi Togut, Sekarang Bermesraan

Temanya tadi tertangkap lalu nyokot Hasan. Tak lama petugas pun meringkus Hasan di rumahnya Jakarta Timur. Dalam persidangan  Hasan divonis 4 tahun penjara. Hasan mendapat remisi 6 bulan. Tahun 2016 lalu Hasan bebas. ‘’Setelah itu bergabung YLP bersama Ustad Ali Fauzi,’’ aku Hasan di kantor YLP saat itu.

Untuk menghidupi ketiga anaknya, sehari hari Hasan bekerja di CV  At Taubah milik keluarga besar Ali Fauzi yang bergerak di bidang jasa dan kontraktor.Hendra, anak terpidana mati Amrozi tercatat sebagai Direktur Operasional CV At –Taubah. ‘’Sekarang saya fokus pada keluarga. Hidup tenang untuk membesarkan anak anak,’’ aku Hasan.

Hasan sendiri beberapa kali ke Ambon. Terakhir sekitar tahun 2012 silam. Saat itu Hasan dan teman-teman  sedang berjaga di kampung pedalaman Ambon. Isunya akan ada RMS bangkit dan menyerang perkampungan muslim. Eh..nggak tahunya mereka malah menyusup di Lapangan kota Ambon saat digelar upacara 17 Agustus dihadiri Presiden SBY kala itu.

BACA JUGA: Akta Notaris Selamatkan Ponpes Al Islam dari Bom Bali

Sedangkan Sumarno  , 42,  masih tergolong keponakan Ali Fauzi maupun almarhum Amrozi. Anak kakak perempuan trio bom Bali (Ali Imron-Amrozi-Ali Gufron) mengurusi banyak hal. Tak hanya membantu menjadi pengurus di YLP, Sumarno yang cukup cekatan itu juga aktif mengelola bisnis keluarga. Mulai biro travel dan bisnis lainnya yang dijalankan pamannya Ustad Ali Fauzi. ‘’Sumarno orangnya cekatan dan sabar. Hampir semua yang mengerjakan dia (Sumarno). Saya hanya menyemangati dan tunjuk ini itu saja ha..ha ha,’’ aku Ali Fauzi.

Sumarno benar benar menjadi tangan kanan Ali Fauzi.  Semua urusan YLP dan bisnis yang ditangani Ali Fauzi yang mengurusi Sumarno. Termasuk mengurus segala keperluan napiter yang baru bergabung YLP.

Radar Jogja sudah tiga kali ketemu Sumarno. Saat kali pertama di kantor YLP. Terakhir ketemu di Alun Alun Lamongan di sela sela mengikuti upacara HUT Kermedekaan RI ke 73. ‘’Ya masih sibuk seperti dulu,’’ aku Sumarno kepada penulis.

Hampir semua kegiatan berkaitan YLP dan eks kombatan dan napiter Sumarno yang mengurusi. Termasuk akomodasi mendatangkan eks kombatan dan napiter dari berbagai kota ke Lamongan. Sebab, ada napiter yang tinggal Jakarta, Jogjakarta dan kota lainnya.Semua yang mengurus Sumarno. ‘’Intinya harus sabar dan pakai hati. Kita harus bisa ngemong mereka,’’ aku Sumarno.

Selain mengurusi beragam bisnis keluarga Tenggulun seperti biro haji dan umroh, Sumarno menjadi ujung tombak YLP saat berhubungan dengan polisi dan pengusaha guan mencarikan pekerjaan para eks kombatan dan napiter. ‘‘Kalau tidak kita yang bantu siapa lagi,’’ ujarnya.

Sumarno juga punya tugas lain membangun lobi dengan para pengusaha agar mau menampung napiter binaan YLP untuk dipekerjakan. Tapi, itu tidak mudah. Begitu tahu yang dibawa Sumarno mantan napiter, mereka takut memperkerjakan. ‘’Tapi, tidak semua pengusaha menolak. Ada juga yag mau menerima napiter menjadi pekerja,’’ akunya.

Karena itu Sumarno berharap masyarakat menaruh empati terhadap para napiter dan eks kombatan yang sadar,  untuk memulai hidup baru yang damai. Jangan malah dikucilkan apalagi dicurigai yang tidak tidak. ‘’Bagi pengusaha jangan takut mempekerjakan mereka,’’ harapnya.

Soal  ancaman dari kelompok lama terhadap eks kombatan dan napiter yang tergabung YLP sampai sekarang lanjut Sumarno, masih ada. Yang disebut kafior lah, tagut, penjilat polisi sampai akan membunuh. ‘Hampir semua anggota YLP pernah diancam,’’ paparnya.
 
Sumarno sendiri pernah berjihad di Ambon setelah kerusuhan meledak tahun 1999 akhir. Sumarno setahun di Ambon lalu balik ke Lamongan. Setelah Bom Bali I meledak 12 Oktober 2002 lalu pamannya Amrozi tertangkap.

Begitu Amrozi tertangkap mendadak Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan senyap. Semua pamannya kabur. Ali Imron kabur ke pertambakan di Samarida, Kaltim. Ali Gufron alias Mukhlas memilih bersembunyi di Klaten. Sedangkan Ali Fauzi yanga masuk 250 DPO sebagai peracik bom alumni kamp militer MILF ikut diburu memilih balik ke Mindanao, Philipina.

Yang di Tenggulun hanya tersisa Sumarmo. Laki laki dan keponakan trio bomber Bali paling besar. Maka, Sumarno ditugasi pamannya menyembunyikan senjata, sisa bahan bom ke hutan jati Solokuro.

Tapi, akhirnya polisi berhasil membongkar, menemukan senjata dan sisa bom  yang ditanam di hutan Solokuro. Sumarno pun dicokok. Dalam persidangan Sumarno divonis 6 tahun penjara. Sumarno juga menjadi saksi penting di berbagai persidangan. Baik Jakarta, Surabaya , maupun Bali. ‘’Termasuk menjadi saksi Ustad Abu Bakar Ba’asyir.’’ 

Sumarno juga menjalani hukuman berpindah pindah. Mulai Polda Metro Jaya, Polda Jatim, terakhir di Lapas Lamongan sampai hari pembebasan tahun 2008. ‘’Sekarang saya membantu Mas Ali Fauzi di YLP,’’ aku Sumarno. (Bersambung)

Pewarta : Bahari
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda