Baik Mana Bekam Toreh atau Tusukan Lancet?

COWASJP.COM – Banyak pasien yang masih bingung untuk membedakan praktik bekam yang menggunakan metode menusukkan jarum yang biasa disebut lancet, dengan praktik bekam menggunakan metode torehan atau syarthah.

Banyak yang tidak tahu. Apalagi masing-masing mengklaim bahwa metodenyalah yang paling baik, paling efektif, paling nyunnah. Namun tidak sedikit pula yang cuek. Tidak mau ribet dengan perbedaan keduanya. Sing penting metu getihe.

Beberapa Perbedaan.

1. Dimulai dari aspek alat yang digunakan. Bekam toreh menggunakan pisau bedah atau surgical blade atau bisturi. Steril. Disposable alias sekali pakai. Yang pakai silet cukup diabaikan saja. Karena dia bodoh. Tanpa ilmu. Ini meminjam istilah Az-Zahrawy yang sering geram melihat para dokter yang sering melakukan malpraktik. Sedangkan model tusukan menggunakan jarum khusus yang disebut lancet. Standar awalnya, lancet ini digunakan sebagai alat laborat untuk mengeluarkan darah dari ujung jari. Lalu dikreasikan sebagai alat bekam. Melihat bentuk alatnya saja sudah berbeda. 
Maka mekanisme sebagai alat mengeluarkan darah otomatis juga akan berbeda. Tidak mungkin sama.

2. Mekanisme bisturi sebagai alat mengeluarkan darah dilakukan dengan cara menorehkan, menyayat, skarifikasi. Harus tipis, hanya sebatas mengenai jaringan kapiler. Dan mungkin mengenai anastomisis, sedikit di bawah epidermis. Ada teknis tersendiri untuk menghasilkan torehan bekam yang ideal. Sementara mekanisme lancet dilakukan dengan cara menusukkan lancet ini ke kulit, dengan mengatur ukuran kedalamannya di lancing device. Jika disetel pada angka satu, maka torehan akan dangkal sekali dan tidak akan keluar darah. Jika diatur pada angka 5, maka jarum akan menusuk hingga lebih dari 1 mm. Maka dua mekanisme ini sudah menunjukkan perbedaan yang signifikan.

3. Sistem torehan yang tipis hanya akan mengenai jaringan kapiler dan sebagian anastomosis. Konsentrasi darah yang tidak baik yang memang harus dibuang melalui bekam ada di kapiler ini. Sementara tusukan lancet akan melebihi lapisan kulit yang rata-rata ketebalan kulit hanya 0.8 mm. Kalau tusukan lancet mencapai lebih dari 1 mm, sementara tebal kulit manusia hanya sekitar 0.8, maka ujung lancet menusuk ke dalam melebih lapisan kulit. Sehingga lancet akan mengenai pembuluh darah utama. Berarti darah yang dikeluarkan dengan metode lancet adalah darah segar dari pembuluh darah utama.

4. Para pembekam pengguna sistem tusukan lancet berpikir simpel dan sederhana karena penggunaannya dalam praktik bekam juga sangat sederhana. Masukkan lancet ke lancing device atau penanya, atur kedalaman, tinggal tekan secara terus-menerus pangkal lancing device seperti sedang mainan ballpoint, maka seketika lancet akan menusuk kulit. Efek psikologis dari hal ini, mereka cenderung menganggap remeh masalah sterilisasi, terutama di ujung lancing device yang tidak dibersihkan, atau cukup dengan menyemprotkan alkohol, dilap, tanpa proses sterilisasi. Padahal penggunaan alkohol belum berupa sterilisasi, tapi hanya desinfeksi. Itu pun hanya desinfeksi tingkat rendah (DTR) atau setidaknya tingkat sedang (DTS). Dalam dunia psikologi, efek seperti ini sangat lumrah.

5. Jika kedalaman antara bisturi dan lancet berbeda, maka obyek pembuluh darah yang disasar juga berbeda. Otomatis jenis darah yang dikeluarkan juga berbeda. Ini logika yang sangat mudah untuk dicerna. Konsentrasi darah yang tidak baik sehingga harus dikeluarkan, hanya ada di kapiler. Dalam istilah orang awam disebut darah kotor. Sementara jika darah keluar dari pembuluh darah utama, maka sebenarnya itu adalah darah normal.

6. Tusukan lancet justru lebih nyeri, lebih sakit daripada torehan bisturi. Pengakuan dari pasien tentang fenomena ini tidak hanya satu dua, tapi banyak, ketika sebelumnya mereka biasa bekam dengan lancet lalu beralih ke sistem torehan. 
Tentu saja torehan yang dimaksud adalah torehan yang standar, tipis. Jika torehannya ngawur dan dalam, tentu akan lebih sakit daripada menggunakan lancet. Memang terdengar aneh. Tapi begitulah kenyataannya. Mengapa begitu? Karena penggunaan lancet akan mengenai ujung-ujung saraf yang lebih banyak sehingga lebih banyak menimbulkan efek nyeri.

7. Penggunaan bisturi lebih mendatangkan algophobia ketimbang penggunaan lancet. Artinya, orang yang sebelumnya tidak pernah bekam, cenderung terserang perasaan takut ketika hendak dibekam denngan sistem syarthah, tidak seperti penggunaan lancet.

8. Darah yang keluar dengan bekam syarthah lebih sedikit daripada bekam dengan menggunakan lancet. Sebab, ujung lancet mengenai pembuluh darah utama, sementara bekam syarthah hanya mengenai pembuluh tepi saja. Bahkan darah bekam sistem lancet hampir memenuhi seisi kop. Padahal pada dasarnya darah harus tetap berada di dalam tubuh dan boleh dikeluarkan sesekali waktu berdasarkan hitung-hitungan jumlah sel darah dan masa recovery hingga menjadi normal kembali.

PMI.jpg

9. Ada sisi keuntungan penggunaan lancet bagi pembekam pemula, yakni tidak menimbulkan efek scar seperti halnya yang bisa terjadi pada pembekam pemula yang menggunakan bisturi. Kuncinya dalam hal ini sebenarnya bukan terletak pada lancet atau bisturi, tapi pada ilmunya. Jika praktik bekam metode syarthah dilakukan dengan baik dan mengikuti pelatihan yang baik pula, insyaa Allah hal itu tidak akan terjadi. Berarti ini masuk ke ranah man behind the gun. Unsur manusianya dan bukan unsur alatnya. Toh alat adalah benda mati. Tinggal bagaimana manusia.

10. Terkadang efek bekas tusukan lancet justru lebih lama daripada efek syarthah menggunakann bisturi. Hal ini juga terkait erat dengan sistem antisepsi dan penatalaksanaan luka.

11. Kelebihan penggunaan lancet ketimbang bisturi karena harganya yang sangat murah. Apalagi jika bisturi yang digunakan merk aesculap atau braun dari Jerman asli, bukan bisturi merk lainnya yang lebih murah. Dalam hal ini Assabil konsisten menggunakan yang terbaik walau lebih mahal.

Solusi Utama

Semua poin dan pertimbangan ini berpotensi menimbulkan perselisihan dan perdebatan, karena klaim masing-masing pihak, yang bisa-bisa menimbulkan debat kusir. Apalagi jika alasannya hanya modal ngeyel, atau karena faktor-faktor lain.

Ada satu hujjah yang tak kan terbantahkan oleh alasan apa pun dan oleh siapa pun, bahwa bekam syarthah adalah metode yang paling sesuai dengan matan atau teks ucapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, syarthah mihjam, atau torehan alat bekam. Dari sisi ilmu riwayah dalam memahami suatu hadits, makna syarthah adalah syaqq, membelah, merobek atau seperti bentuk hypent (tanda hubung). Hal ini akan berbeda bentuknya dengan mengeluarkan darah menggunakan lancet dalam bentuk menusuk, yang dalam bahasa Arabnya disebut tsaqaba.

Jika masih ada yang berargumen dengan selain hujjah ini, maka sudah saatnya beralih kepada hujjah pemahaman Sunnah Nabawiyah ini. Jika tidak, maka klaim mengamalkan dan mendakwahkan Sunnah layak dipertanyakan, karena dalam praktiknya justru tidak mengamalkan sesuai pemahaman Sunnah yang baik. Maka kepada teman-teman pembekam yang mengusung jargon Bekam Sunnah, atau mereka mengamalkan bekam dan mengklaim mengamalkan Sunnah, dianjurkan segera beralih ke metode bekam syarthah. Sebab jangan-jangan mereka akan terjerumus pada pendustaan terhadap Sunnah Nabawiyah yang efeknya fal yatabawwa’ maq’adahhu minan-nar. Silahkan ambil sendiri posisi duduk di atas kursi yang terbuat dari api neraka. Wa Alahhu a’lam bish-shawab.(*)

Penulis adalah: Lusi Damayanti

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda