Eks Napi Teroris yang Jadi Duta Perdamaian (5)

Dijebak Intel, Tawari Order Melatih Kelompok Militan

CINTA NKRI. Yusuf Anis mewakili anggota YLK membacakan ikrar di hadapan Bupati Lamongan, Fadeli saat acara HUT ke-73 Kemerdekaan RI di Alun Alun Lamongan. (Foto-Foto: Bahari/CoWasJP)

COWASJP.COMSungguh tidak mudah meniti hidup sebagai eks kombatan. Pilih hidup normal, damai  dicaci maki kelompok radikal. Dituding murtad sampai diancam bunuh segala. Yang lebih mengerikan ada oknum intel tak bertanggungjawab ikut menjebak. Menawari order menjadi pelatih kemiliteran kelompok militan. Begitu masuk perangkap, tinggal menangkap. Siapa kawan, mana lawan dalam dunia bawah tanah kelompok militan batasnya tipis. Setipis sudut pandang pahlawan dan pengkhianat.

***

bahari-lamongan.jpg

TIGA tahun Yusuf Anis aktif di Darul Islam/ Negara Islam Indonesia (NII) mulai 1985. Berbagai pengajian didatangi hingga Yusuf menjadi militan. Menjelang kelulusannya sebagai sarjana ekonomi Universitas Brawijaya (UN) Malang tahun 1988, Yusuf ditawari pengurus DI/NII untuk bergabung pejuang Mujahidin mengusir penjajah Uni Sovyet dari bumi Afghanistan. 

Yusuf muda kelahiran Lamongan yang kala itu baru 25 tahun tanpa pikir panjang menyatakan setuju. Setelah meraih gelar sarjana 1988, Yusuf bersama tiga rekannya berkumpul di Jakarta. Selanjutnya  menuju Pulau Batam terus menyeberang ke Malaysia. Dari Kuala Lumpur terbang ke Karachi, Pakistan. Naik kereta api dua hari, tiga malam sampai Islamabad, ibukota Pakistan. Disambung ke Peshawar kota di perbatasan Pakistan-Afghanistan.

Dari Peshawar,  Yusuf dkk dibawa ke Camp Pelatihan Militer Mujahidin di dekat kota Kandahar, Afghanistan Selatan yang berbatasan dengan Pakistan.  Hari hari Yusuf diisi latihan dan latihan militer, mengasah berbagai ketrampilan berkaitan perang gerilya. Lalu dipraktikan di palagan menghadapi penjajah Uni Sovyet. Setelah Uni Sovyet terusir 1989, Afghanistan dikendalikan pemerintah boneka komunis Najibullah, mantan Kepala Intelejen Afghanistan. 

Najibullah   yang terus mendapat serangan gencar pasukan Mujahidin akhirnya tumbang 1992.  Afghanistan pun dikuasai para pejuang Mujahidin yang pecah menjadi tujuh faksi. Pasukan Mujahidin kelompok Yusuf ikut merebut kota Kandahar dari tentara rezim komunis  Najibullah.

Setelah malang melintang bergabung pasukan Mujahidin selama lima tahun, Yusuf Anis akhirnya memutuskan keluar Afghanistan 1993 dan menetap di Malaysia selama delapan tahun sampai 2001. ‘’Saya kerja serabutan. Jualan kue, dagang kain, ngantar surat. Pokoknya kerja apa saja yang penting halal,’’ aku Yusuf Anis.

Selama di Malaysia, Yusuf tinggal di Kampung Banting, Johor Baru, Malaysia bersama kelompok radikal Indonesia lainnya. Ada Ustad Abdullah Sungkar sebagai Amir Jamaah Islamiah (JI)  dan wakilnya Ustad Abu Bakar Ba’asyir. Ada Hambali komandan militer atau taj’nih Jamaah Islamiah (JI) wilayah Malaysia-Sabah yang kini ditahan di Guantanamo, Kuba. Hambali  adalah atasan langsung Yusuf Anis. Juga ada Imam Samudra, Ali Gufron, Ali Fauzi, Umar Patek dan lainnya.

Juga banyak aktivis radikal, mantan kombatan Afghanistan maupun  mujahid Indonesia jebolan Moro. Kampung Banting juga menjadi transit kelompok radikal yang hendak jihad ke Afghanistan maupun ke Moro, Philipina Selatan. 

Selain berdagang apa saja untuk menghidupi diri selama bermukim di Malaysia, Yusuf Anis juga aktif di kelompok DI/NII.  Beberapa prestasi yang ditorehkan Yusuf selama aktif di gerakan itu diantaranya, menjadi anggota tim perumus perubahan nama dari DI/NII menjadi Al Jamaah Al Islamiah (JI). Yusuf juga perintis berdirinya JI Cabang Australia  tahun 1989. Yusuf juga menjadi perintis berdirinya akmil JI di Moro, Pulau Mindanao, Philipina Selatan. 

Atas jasa dan prestasinya, Yusuf dipercaya menjadi Ketua I Bagian Mantiqi I JI Malaysia—Singapura sebagai Wakil Hambali atau Isamudin.

Pemukiman kelompok militan Indonesia di Kampung Banting, Johor Baru,  Malaysia juga membina, mengkader  kelompok militan setempat (Malaysia) yang kemudian dikenal  kelompok Mujahidin Malaysia. Kelompok ini kerap mengikuti pengajian rutin yang diselenggarakan para tokoh radikal Indonesia.

Kelak kelompok Mujahidin Malaysia sempat merepotkan kelompok radikal Indonesia yang bermukim di Malaysia. Sebab, tahun 2001 kelompok Mujahidin Malaysia terlibat berbagai perampokan diduga untuk mencari dana perjuangan atau fai. Mereka pun diburu aparat Malaysia. Kelompok radikal Indonesia yang bermukim di Malaysia pun kena imbasnya. 

Itu  karena kelompok Mujahidin Malaysia pernah berhubungan dengan kelompok radikal Indonesia di Malaysia. Maka, polisi menggencarkan razia terhadap orang Indonesia di Malaysia ‘’Karena situasi tidak aman tahun 2001 saya pulang ke Indonesia,’’ aku Yusuf Anis.

Selama aktif di kelompok radikal Indonesia di Malaysia dan berdagang apa saja untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, Yusuf kerap bertemu seorang pedagang dari Indonesia. Daganganya beragam mulai pakaian, makanan apa saja dijual. Sangat laris.

Orang ini juga aktif dan mengikuti kelompok radikal Indonesia yang bermukim di kampung Banting, Johor Baru, Malaysia. Orang ini juga keras bahkan cenderung provokatif.

Yusuf Anis dan tokoh JI Abdulah Sungkar dan Ustad Abu Bakar Ba’asyir menaruh curiga kalau pedagang tadi seorang intel dari Indonesia yang ditugasi mengawasi kelompok radikal Indonesia di Malaysia. Yakni,  Ustad Abu Abkar Ba’asyir dkk. Maka Yusuf Anis dkk menangkap orang tadi untuk diiterogasi. Tapi, tidak ada bukti kalau yang bersangkutan seorang intel. Tapi, ketika ditawari bergabung JI, dia  menolak.

Saat meletus konflik Ambon, pedagang yang dicurigai intel tadi sangat aktif di Jakarta. Tak hanya mengirim para jihandis ke Ambon tapi juga mengirim perlengkapan senjata segala ke Ambon. ‘’Kita jadi bertanya tanya. Apa peran sesunguhnya orang yang menyaru pedagang tadi,’’  kata Yusuf.

Keanehan muncul lagi terkait orang tadi. Saat Ustad Abu Bakar Ba’asyir ditangkap polisi. Orang tadi juga ikut dtangkap. Tapi, setelah itu tidak ada kabarnya. Disidang juga tidak. Dia menghilang.

Mendadak tahun 2004 orang tadi mengkontak Yusuf Anis untuk menawri kerja melatih kemiliteran kelompok militan di Jakarta untuk dikirim ke Ambon. Sebab, Ambon saat itu bergejolak lagi. Hampir  saja Yusuf Anis mengiyakan.

Tapi, Yusuf Anis mengontak koleganya terkait latar belakang orang pemberi order tadi. Kata rekan  tadi Yusuf diminta hati hati. ‘’’Setelah itu saya batalkan. Sebab, saya curiga orang tadi intel yang ingin menjebak,’’ aku Yusuf Anis.

Belakangan dugaan Yusuf Anis mendekati kebenaran. Sebab, Yusuf mendapat informasi intel yang menyaru pedagang di Malaysia tadi memang ditugaskan khusus mengawasi kelompok militan  Indonesia yang bermukim di Malaysia. Termasuk Ustad Abu Bakar Ba’asyir. ‘’Alhamdulilah saya terhindar dari jebakan maut yang bersangkutan (intel),’’ aku Yusuf. 

Yusuf Anis yang beristrikan warga Malaysia itu sejak kepulanganya ke Indonesia tahun 2001 memilih pasif. Yusuf mengisi hari harinya di Lamongan dengan meneruskan usaha keluarganya berupa toko kelontong milik. ‘’Sampai saat ini saya  ya sibuk di situ. Saya fokus keluarga dan hidup damai,’’ akunya. 

Tapi, kelompok radikal berulang kali mengusiknya, mengajak Yusuf aktif kembali di JI. Tapi, Yusuf menolak dengan alasan ingin fokus untuk kehidupan keluarganya. Yusuf pun dituduh macam. Kafir, murtad, senior penakut dan tuduhan lainnya yang menyesakkan dada. Apakah sampai diancam dibunuh? ‘’Kalau ancaman dibunuh, tidak,’’ aku Yusuf.

Hebatnya selama berkecimpung di dunia pergerakan kelompok militan Yusuf tidak pernah ditangkap apalagi masuk penjara  seperti umumnya rekan rekanya. Itu karena Yusuf berprinsip dalam melakukan aksinya tidak mau sasaranya orang sipil. Tapi, target pangkalan militer sejenisnya. ‘’Karena saat itu belum ada UU Terorisme yang baru,’’ ujar Yusuf.
Karena itu, saat Imam Samudra dkk melakukan peledakan bom di Paddys Café, Kuta, Bali yang menimbulkan korban tewas 200 orang yang umumnya para bule, Yusuf tidak mau terlibat. ‘’Kalau sasaranya sipil saya tidak mau. Kami beda prinsip,’’ aku Yusuf.

Bahkan saat dipercaya menjadi Amir JI wilayah konflik Ambon-Maluku 2000-2001, Yusuf tidak terjun langsung ke medan konflik. Tapi, Yusuf sebatas memberi pelatihan militer kepada warga muslim Ambon bagaimana mempertahankan kampung halamanya dari serangan musuh. 

Sekitar tahun 2006, seorang pentholan mantan Jamaah Islamiah  (JI) Nasir Abbas mengunjungi kawannya narapidana teroris (napiter) di Lapas Lamongan. Karena sama sama pernah di Moro, Nasir pun mengontak Yusuf untuk bertemu di sebuah restoran di Lamongan.

Yusuf pun menyanggupi karena sudah lama tidak pernah berjumpa Nasir Abbas yang berkewarganegaraan Malaysia itu. Setelah kangen kangenan, Nasir memperkenalkan Yusuf kepada Ketua Satgam Bom yang kini namanya berubah Densus 88 yakni, Irjen Pol Surya Dharma Salim lewat telepon. ‘’Sedang kumpul di restoran mau  merakit bom tah?’’ kelakar Surya Dharma Salim kepada Yusuf. ‘’Main ke Jakarta… kalau mau ketemu Ali Imron (napiter seumur hidup) nanti bisa saya fasilitasi,’’ kata Surya Dharma. ‘’Ya Pak…. Saya juga kangen sama Ali Imrron. Sudah lama tidak ketemu,’’ timpal Yusuf.

Setelah itu Nasir Abbas telepon Ali Imron. Telepon lalu diberikan kepada Yusuf Anis. ‘’Pak nggak usah melok arek arek ngebom ngebom (Pak tidak usah ikut anak anak ngebom-ngebom),’’’ kata Ali Imron di seberang telepon kepada Yusuf Anis. ‘‘Ya..ya,’’ jawab Yusuf Anis.

Beberapa tahun kemudian Yusuf Anis ke Jakarta bertemu Komandan Satgas Bom Irjen Pol Surya Dharma Salim. Yusuf lalu difasilitasi bertemu muridnya Ali Imron yang kini berstatus narapidana seumur hidup. ‘’Kami kangen kangenan sama Ali Imron,’’  aku Yusuf.

Sekitar tahun 2012 Yusuf Anis ikut program deradikalisasi yang diisi oleh psikolog UI  Prof Dr Sarlito Wirawan. 

Tekad Yusuf Anis untuk hidup normal dan fokus untuk kehidupan keluarganya sudah bulat. Karena itu, saat Ali Fauzi Manzi mendirikan YayasanLingkar Perdamaian (YLP) tempat menampung para kombatan dan napiter untuk deradikalisasi, Yusuf pun bersedia bergabung saat diminta Ali Fauzi. Di YLP Yusuf sebagai pendiri sekaligus penasehat.

lamongan5.jpg

‘’Menyadarkan kombatan dan napiter harus pelan pelan. Mereka tidak bisa dikerasi,’’ ingat Yusuf. (bersambung)

 

Pewarta : Bahari
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda