Dikira Dokter

ILUSTRASI: CoWasJP/Foto-Foto: istimewa

COWASJP.COM – Enak juga dikira dokter. Tadi siang saya ke RS Dr Soetomo untuk menjenguk redaktur Jawa Pos Arief Santosa yang sudah sebulan dirawat karena pendarahan otak.

Wartawan kelahiran Jogja yang memegang halaman budaya ini dirawat di ICU. Tepatnya di ROI Instalasi Rawat Darurat. Bukan di ICU rawat stroke. Ia terkena penyakit yang namanya seperti walikota Surabaya: Aneurysma. Ini semacam penggelembungan saraf otak yang pecah.

Karena sdh lama tdk ke RS Soetomo, saya menelpon Dr Hendrian, wakil direktur RS tersebut. Tanya di mana ICU tempat penderita stroke dirawat. Spesialis mata yg juga pejabat RS ini pun menunjukkan tempat para penderita stroke dirawat.

Setelah dua kali memutari RS milik Pemprof Jatim itu, barulah mendapat tempat parkir. Begitu masuk, celingak-celinguk mencari tempat. Tiba-tiba ada petugas parkir mengarahkan ke tempat parkir dokter. Saya pun mengikutinya dengan senang hati.

Langsung saya menuju ke ICU. Sempat keliru di ICU dekat instalasi bedah. Ternyata tak ada pasien bernama Arief Santosa. Petugas mengarahkan ke gedung sebelah. Di gedung IRD (Instalasi Rawat Darurat).

Setelah tanya petugas ditunjukkan ke lantai 3, tempat para pasien serius dirawat. Begitu masuk, seorang dokter bertanya, "Bapak keluarga pasien? Tadi dipanggil masuk?."

Saya bilang tidak. "Saya cari pasien bernama Arief Santosa," kata saya singkat. 

"Situ Pak tanya perawat," katanya.

Saya pun ke meja perawat. Setelah tanya langsung ditunjukkan Arief Santosa yang sedang dirawat berjajar dengan pasien lainnya.

"Sudah sadar?," tanya saya.

"Sudah. Cuma belum bisa bicara karena ada alat bantu di tenggorokan," tambahnya.

jatmiko.jpgDi Surabaya, Arif Afandi, Oemiati Theresia dan Jatmiko menjenguk Arif Santoso yang sakit di RS Dr Soetomo 

Saya pun mendekati Arif. Kebetulan ia sedang terjaga. Saya salami. Dia tampak tersenyum dan berusaha bicara. Alhamdulillah.

Sejenak saya menyemangati Arif, datang seorang dokter muda. Saya pun bertanya tentang perkembangan pasien yang sama-sama mengawali karir wartawan dari Biro Jawa Pos Jogja ini. 

Sekian lama di ruang ICU itu, saya ternyata satu-satunya penjenguk pasien.

"Keluarganya meunggu di mana?."

"Di luar Pak. Pasien di sini tidak boleh ditungguin," katanya.

Merasa cukup, saya pun pamit ke Arief. Juga ke dokter dan perawat di ruang.

Baru setelah keluar bertemu kawan mantn Jawa Pos, Mbak Umi dan Jatmiko. Ia sedang bersama istrinya Arif Santosa.

Saya pun segera pamit pulang karena harus siap-siap ke Jogja untuk nyambangi anak dan menghadiri sebuah acara.

jatmiko2.jpgDi Malang, Sukma, Slamet, Bambang Supriyantoro dan Arif B. Rahardjo menjenguk Widodo Irianto (kedua dari kiri) yang akan pasang ring 18 September 2018.

Begitu melihat saya, penjaga parkir yang tadi mencarikan tempat langsung menghormat. Demikian juga penjaga loket parkir di jalur keluar.

"Selamat siang Dok," kata penjaga dari kotak parkir.

Saya sempat kaget karena dipanggil dokter.

Saya baru sadar kalau saya pakai pakaian putih seperti layaknya dokter. Mobil saya kebetulan juga berwarna putih.

Eh...jangan-jangan saya tadi bebas blusukan di ICU karena saya dikira dokter.
Asyik juga dikira seorang dokter. (*)

Penulis adalah Arif Afandi mantan Pemred Jawa Pos dan Wakil Walikota Surabaya.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda