The Power Of Silaturahim

Silaturahmi Makin Marak Yang Berbagi Kian Banyak

Penulisa Fua Ariyanti (kanan) bersama DR Aqua Dwipayana (Foto: Fuad Ariyanto/CoWasJP)

COWASJP.COM – Ketika sedang rame-ramenya Kasus Ahok, seorang guru ngaji di kampung berpesan kepada murid-muidnya agar tak ikut-ikutan menghujat. Sebab, Allah menyimpan banyak rahasia. Siapa tahu, suatu saat Ahok mendapatkan petunjuk Allah dan jadi ustad.

Marah boleh saja. Tapi jangan berlebihan. Selain itu, Ahok secara terbuka sudah minta maaf. Sebaiknya dimaafkan. Apakah permintaan maafnya sekadar di bibir atau betul-betul tulus, itu bukan urusan kita, tapi sudah menjadi domain Gusti Allah. 

Sebaiknya doakan dia agar Allah memberikan petunjuk. Bukankah di kala perang Nabi Muhammad melarang umatnya membunuh musuh yang sudah angkat tangan? Umar bin Khattab dulu juga tokoh jahiliyah yang memusuhi Nabi. Tapi, Nabi berdoa agar Allah membuka hati Umar. Ternyata —sebagaimana diketahui umum—Umar menjadi sahabat Nabi bahkan salah satu khalifah yang dijamin surga. Memaafkan rasanya akan lebih nikmat daripada melihat manusia menderita di penjara.

Memang pikiran kadang dikuasai prasangka berlebihan (stereotipe) sebagaimana postingan Yai Darul Farokhi, ustad petani yang tak banyak bicara itu.  Prasangka muncul —utamanya terhadap orang baru, kelompok baru, ide baru, dan sebagainya.

a.jpg

Tapi, dalam kasus pro-kontra penerimaan Aqua Dwipayana di grup Cowas, bukan sepenuhnya karena prasangka (negatif). Waktu itu Cowas baru berdiri dan sedang getol menyosialisasikan karakter Berpikir Positif.

Cowas adalah kumpulan para mantan Jawa Pos (JP). Yang pensiun, mengundurkan diri, atau dipaksa mengundurkan diri. Mayoritas merasa kurang puas —untuk tidak menyebut sakit hati-- terhadap perlakuan perusahaan. Cowas berusaha agar anggotanya tidak mengumbar cacian terhadap perusahaan, pemilik, atau pejabatnya.

Karena itu, mereka perlu selektif menerima anggota. Mantan JP garis keras dipending dulu keanggotaanya. Setidaknya, begitulah yang terlintas pikiran saya.

Sedangkan tentang pro-kontra Aqua, lebih karena banyak Cowasers yang tidak pernah tahu (atau mendengar) dia pernah di JP. Memang Aqua hanya tujuh bulan di JP. Tugasnya pun hampir tidak pernah di Surabaya. Tapi, di Malang dan sekitarnya.

Anggota Cowas bukanlah kumpulan orang berkepala batu. Setelah ada ''verifikasi'' dari redaktur generasi tua —termasuk bos Dahlan Iskan—bahwa Aqua pernah menjadi wartawan JP, Cowasers pun menerimanya dengan tangan terbuka. Memang ada satu dua personel yang kritis, tapi itu hanya proses.

FU.jpgPenulis kedua dari kiri bersama isteri dan Darmadi

Bagi Aqua, kekritisan itu menjadi ujian dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan. Ternyata, dia mampu mengatasi dengan cara yang mengagumkan, eksyelen. (Tentang ini sudah banyak ditulis)

 Kehadiran Aqua di Cowas mampu memberi warna baru. Gebyar kegiatan makin marak, Cowas dikenalkan ke banyak institusi. Mulai kalangan militer, BUMN, swasta, sampai grup media kompetitor JP. Mereka menyambut dengan senang dan semangat.

 Janda-janda wartawan dan karyawan mantan JP dirangkul sehingga mereka merasa tidak sendirian. Yang terbaru, Aqua memprakarsai pembentukan Cowas Junior untuk memberi kegiatan pada anak-anak Cowasers.Tentu Aqua tidak meninggalkan misi utamanya, menebar kebiasaan bersilaturahmi dan berbagi kepada sesama. Kini, undangan silaturahmi makin marak. Termasuk dari kalangan janda.

Virus silaturahmi tampaknya mulai menancap di sebagian Cowasers. Salah satu buktinya, Pak Dirman (Ki Sudirman), wartawan senior yang pernah menjabat sebagai koordinator liputan JP, ketika sambang ke Jogja bersama istri, lebih memilih silaturahmi ke rumah teman-teman dari pada pelesir ke tempat-tempat wisata. 

ika7.jpgDari kiri: Iwa, Tofan Mahdi dan Fuad Ariyanto (penulis)

Pak Tony (Wijoyo Hartono) yang masih capai karena baru tiba di Surabaya, juga rela kembali ke Surabaya demi silaturahmi. Koh Tik (Sutikno) juga menyempatkan hadir bersilaturahmi ke rumah makan New Pelabuhan di tengah merawat istrinya yang sakit. Dia bahkan memimpin doa untuk kesembuhan Arif Santoso, wartawan JP yang menjalani operasi.

Semangat berbagi juga mulai menular di kalangan Cowas. Pak Tony yang mendapat hadiah Rp 2 juta dari lomba karya tulis Reuni IX Cowas, memberikan seluruhya untuk saudaranya yang sakit kanker. Sedangkan Mohammad Hakim yang mendapatkan hadiah Rp 1 juta, sebagian disumbangkan untuk Cowas. Mungkin masih banyak lagi yang berbagi secara diam-diam.

Harus diakui Cowas berkembang ke arah yang benar. Positif, manfaat bagi banyak anggota. Tidak merugikan atau menyakiti siapa pun. Masih perlukah kita mempersoalkan kiprah Aqua? Masih perlukan kita menilai bahwa semua ini merupakan perilaku membanggakan diri sendiri? Rasanya tidak penting. Tapi, semua berpulang pada pribadi masing-masing. Pada kelapangan hati masing-masing. Mencoba mengajak kompromi nafsu intrik kita dengan hati nurani, barangkali lebih menyejukkan. insya Allah.

Tidak ada manusia yang sempurna. Jika dipetani (dicari-cari) kesalahannya, tentu akhirnya akan ketemu juga. Hanya, menemukan satu titik kesalahan orang lain, barangkali ekual dengan empat kesalahan kita yang mungkian tak kasat mata. Wallahu alam. 

(Salam, cakfu)

Pewarta : Fuad Ariyanto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda