OBITUARI

Syukurilah Apa Adanya

COWASJP.COM – Saya baru pulang dari Ambon. Baru sampai di kantor Tebet. Belum selesai berdiskusi dengan tim webinar. Tiba-tiba Agus, adik saya, menelepon. "Mas Dedy meninggal dunia," kata Agus.

Telepon yang sangat singkat. Mungkin ia sedang panik. Mendengar kabar dari Rumah Sakit Sulianti Saroso yang mengabarkan kakaknya meninggal dunia.

Bergegas saya naik sepeda motor. Pulang. Hanya ada anak saya di rumah. Baru pulang dari sekolahnya. Di SMA Negeri 72 Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara.

Tiba di rumah, tetangga sudah berkumpul. Mendirikan tenda. Menyiapkan tempat duduk para pelayat. Juga mengurus jaringan listrik.

Dedy belum lama pulang ke Tanah Air. Separo usianya dihabiskan di Australia. Ia memang bekerja di sana. 

Saat tiba di Indonesia, badannya gemuk. Berat 110 Kg. Tinggi 170 Cm. Ia memang 20 Kg lebih gemuk dibanding kepulangan sebelumnya. Dan ia ingin kembali seperti dulu: lebih langsing.

Maka ia ikut treatment. Diet ketat. Agar badannya bisa kembali seperti sebelumnya.

Ajaib. Dia berhasil. Dalam dua bulan berat badannya turun 20 Kg. Terus terang saya sempat takjub. Melihat keberhasilannya menurunkan berat badan. Dengan diet ketat plus olahraga badminton. Hampir setiap malam. Juga berenang dan bersepeda.

Tapi lama-lama saya ngeri. Karena dietnya tidak kunjung berhenti. Dia tidak bisa berhenti mengonsumsi "obat diet" yang diperoleh entah dari mana dan direkomendasi siapa?

Katanya setiap berhenti minum obat, lambungnya terasa sakit. Ususnya melilit-lilit. Begitu terjadi berulang-ulang. Selama enam bulan terakhir.

Rupanya lambung dan ususnya meradang. Dan luka. Itulah penyebab rasa sakit dan melilit. 

Walau demikian, kegiatannya tak pernah berkurang. Masih mengajar anak-anak berbahasa Inggris. Juga olahraga badminton.

Beberapa kali saya sarankan untuk berobat ke dokter. Toh dia punya asuransi kesehatan. Tapi ia tak pernah mau. Sampai akhirnya dia ambruk. Tak sanggup berdiri lagi tiga minggu yang lalu. 

Dokter di RS Islam Cempaka Putih yang berhasil menemukan penyebabnya. Obat diet itu merusak lambung dan usus. Menyebabkan radang. Lalu luka. Dan infeksi. 

Pendarahan itu terjadi terus-menerus, tetapi tak ketahuan. Dalam jangka waktu yang lama. Karena keluar bercampur dengan BAB. Yang berwarna gelap.

Setelah sepekan di RSIJ, Dedy boleh pulang. Tapi dua hari kemudian kondisinya kembali memburuk. Terpaksa dibawa ke RSIJ lagi. Kali ini ditemukan penyebab lain: infeksi paru.

Rupanya ada virus TB bersarang pada tubuhnya. Virus itu mengganas bersamaan dengan kondisinya yang memburuk enam bulan terakhir. Sejak ikut diet pe-ngurus badan dengan metode tidak jelas itu.

Rekomendasi dokter, Dedy harus dirawat di kamar khusus infeksi. Di rumah sakit khusus infeksi. Dirujuklah ke RS Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Pusat.

Setelah Dedy masuk RS khusus infeksi, saya sedikit lebih tenang. Meski terlambat sehari, saya putuskan tetap terbang ke Ambon. Ada tugas yang harus saya kerjakan di sana. Tugas dari Lazismu dan Baznas. Selama empat hari. Selesai Minggu malam lalu. Kembali ke Jakarta Senin siang.

Seperti serba kebetulan. Begitu tiba di kantor Tebet, saya terima kabar duka itu. Pada usia 48 tahun. Tanpa meninggalkan anak-istri. 

Dedy memang memilih hidup sendiri. Sampai ia pergi menghadap Ilahi.

Satu pelajaran penting dari kejadian ini: syukurilah apa adanya. Tak apa-apa kalau badan sudah terlanjur bongsor. Terima saja. 

Kalau pun ingin menurunkan berat badan, konsultasilah dengan ahlinya. Jangan asal percaya iklan. Yang janjinya sundul langit. (*)

Pewarta : Joko Intarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda