Solihin, Juragan Bebek Pulau Seram

Solihin (kanan) juragan bebek di Pulau Seram dan penulis (Foto: Joko Intarto/CoWasJP)

COWASJP.COM – Lebih seratus bebek dipiara di kandang yang berada di belakang rumah itu. Semua bebek jantan. Khusus untuk suplai warung makan khas Jawa Timur yang menjamur di Kabupaten Seram Bagian Barat.

Bangunan kandangnya ada 4 unit yang berbentuk bangunan. Ada dua kandang terbuka yang berpagar bambu. 

Salah satu bangunan kandang itu dikhususkan untuk penetasan. Ada lima mesin penetas listrik di dalamnya. Satu menggunakan elemen pemanas. Empat menggunakan lampu. 

Selain membeli bibit bebek dari peternak lain, Solihin juga menetaskan sendiri. Tapi semua bebeknya berjenis pedaging atau bebek potong.

Tidak ada kolam di kandang itu karena bebek yang dipelihara berjenis bebek darat. Yang tidak butuh banyak air. "Bebek-bebek ini saya datangkan dari Namlea," jelas Solihin, pemilik peternakan di Kampung Jawa itu.

Kampung Jawa berlokasi tak jauh dari pelabuhan Way Pirit Pulau Seram. Disebut Kampung Jawa karena dulu penghuninya orang-orang Jawa. Para transmigran.

bebek-seram1.jpg

Sekarang warga Kampung Jawa beragam suku. Setelah generasi baru kawin-mawin dengan berbagai suku di pulau yang punya sebutan "nusa ina" alias ibunya pulau-pulau itu.

Solihin misalnya. Orang tuanya berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Sekarang Solihin tinggal bersama istrinya, asal Buton, Sulawesi Tenggara.

Solihin masih fasih berbahasa Jawa. Tapi anak-anaknya hanya bisa bahasa Indonesia, logat separo Ambon separo Buton. "Campur-campur. Indonesia raya," kata bapak empat anak itu sambil terkekeh.

Solihin, warga NU tulen. Dia sangat antusias membantu rencana pengembangan peternakan itik petelur di Negeri Sepa. Apalagi setelah tahu biayanya dari Baznas dan penyalurnya Lazismu Pusat dan Maluku. "Karena program ini dibiayai dana zakat, saya akan bantu mendapatkan bibit terbaik dengan harga serendah mungkin," kata Solihin.

Bibit bebek petelur, kata Solihin, memang tidak mudah diperoleh. Apalagi bebek Mojokerto. Bebek itu harus didatangkan dari tempat aslinya. Usianya juga harus yang sudah remaja. Agar risiko matinya rendah dan segera bertelur.

bebek-seram2.jpg

Untuk mendatangkan bibit dari Jawa Timur, Solihin butuh waktu satu hingga dua minggu. Harga per ekor diperkirakan Rp 100 ribu. Harga sudah termasuk ongkos kirim dan pemeliharaan selama pengiriman.

Selain membantu pengadaan bibit, Solihin juga siap memberi konsultasi bagi para peternak bila bebeknya mengalami keterlambatan masa bertelur. Misalnya, dengan memberi pakan khusus.

Selama menjadi peternak bebek, baru sekali ini Solihin dipercaya lembaga amil zakat. Karena itu, Solihin yang juga beternak lele itu merasa sangat bahagia. "Ini bukan bisnis. Ini dakwah. Terima kasih bisa membantu teman-teman amil zakat Baznas dan Lazismu," kata Solihin.(*)

Pewarta : Joko Intarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda