Mengunjungi Ruhama, Shelter Penampungan bagi WNI Yang Belum Beruntung (3)

Dubes Agus Usulkan Transparansi Pengiriman WNI

Foto-Foto: Erwan/CoWasJP

COWASJP.COM – Pergerakan penambahan WNI masuk ke Ruhama ini bisa dipantau pada papan di tempat itu. Sangat dinamis angkanya. Sangat cepat perubahannya.

Terlihat misalnya pada tanggal 28 April 2018 jumlah TKI sebanyak 86. Pada hari Jumat (4/5) saat rombongan KBRI datang sudah ada 103. Namun pada saat Dubes mau menyampaikan info jumlah tersebut pada saat sambutan, ada yang berteriak. "Seratus empat Pak. Datang lagi satu," ujar Hasyim, Pengelola Ruhama.

Dubes Agus pun geleng-geleng kepala. "Saya merasa gagal sebagai Dubes jika tidak bisa membuat zero penghuni rumah ini," ujarnya sembari tangannya membuat tanda angka nol.

Dia pun lantas mengingatkan mereka yang ada di Jakarta atau Indonesia untuk benar-benar bekerja dengan hati. Menaati moratorium yang sudah ditetapkan. Bukan malah membuat masalah dengan memanipulasi berbagai kemungkinan dalam pengiriman tenaga kerja.

TKI-nyar.jpg

"Mari kita tata secara terbuka. Siapa pun yang masuk ke Saudi harus didata ke KBRI dulu. Di mana mereka bekerja. Siapa majikannya. Berapa bayarnya. Lalu kita buat perjanjian dengan majikan. Jika telat bayar, KBRI bisa menagihkan. Dengan begitu kita punya data akurat. Tidak gelap seperti sekarang ini," tandasnya.

Dubes Agus Maftuh menambahkan, pendataan ini akan membabat sisi gelap pengiriman TKI yang sudah mengarah pada perdagangan manusia. 

Saat ini, ketika "kegelapan" berlangsung, KBRI Riyadh yang selalu menanggung getahnya. Tiba-tiba saja ada kabar TKI yang hilang belasan tahun. Tidak pernah kontak dengan keluarga di tanah air. Atau ada TKI yang mengalami ancaman hukuman pancung karena lemah dalam bargaining dengan majikan.

Soal TKI hilang dan bisa ditemukan kembali, nama Nenek Qibtiyah menjadi perhatian belakangan ini. Qibtiyah alias Jumanti atau Jumanah begitu populer di Riyadh, ibukota Saudi Arabia. Nenek berusia 74 tahun yang pernah "hilang" selama 28 tahun ini tak hanya mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia. Pemerintah Saudi Arabia pun menaruh perhatian khusus.

tki-nyar1.jpg

Perhatian datang mulai dari Gubernur Riyadh hingga Duta Besar Kerajaan Saudi Arabia di Indonesia. Gubernur Riyadh Pangeran Faisal bin Bandar bin Abdulaziz al-Saud yang juga keponakan Raja Salman, memerintahkan semua instansi di bawahnya untuk membantu KBRI Riyadh dalam menemukan Nenek Qibtiyah.

Perintah tersebut menanggapi permintaan Duta Besar Agus Maftuh Abegebriel. Pada 27 Maret 2018 Agus Maftuh menyampaikan surat khusus kepada untuk meminta bantuan pencarian Qibtiyah. Surat dilayangkan karena majikan tempat Qibtiyah tinggal tidak kooperatif. 

Dengan berbekal perintah Gubernur Riyadh itulah tembok penghalang bisa ditembus. Akhirnya pada tanggal 18 April 2018, nenek asal Jember ini bisa ditemukan dan dijemput Tim Pelayanan WNI KBRI Riyadh untuk diproses hak-haknya dan kepulangannya ke Indonesia. 

tki-nyar2.jpg

Sembari menunggu proses tersebut, Duta Besar Kerajaan Saudi Arabia untuk Indonesia Osama bin Mohammed Abdullah as-Shuaibi pulang ke Riyadh. Osama bertemu Qibtiyah di KBRI. Saat itu Qibtiyah menerima gajinya sebelum dipulangkan ke Indonesia. 

Gaji sebesar 76 ribu riyal (sekitar Rp 266 juta) diserahkan keponakan majikan Kapten Ibrahim Muhammad disaksikan Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh dan Dubes Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi.

Selain mendapatkan gaji tersebut, Nenek Qibtiyah juga mendapat hadiah umroh. Dan kepulangannya akan diantar langsung oleh Dubes Agus Maftuh. (Habis)

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda