Mengunjungi Ruhama, Shelter Penampungan bagi WNI Yang Belum Beruntung (1)

Mata Kiri Cacat, Ikhlaskan Gaji SAR 20 Ribu

Foto-Foto: Erwan/CoWasJP

COWASJP.COMAIR MATA Luluk Muniroh terlihat mulai menetes di pipi. Sesekali ia mengusapnya dengan tisu yang dipegangnya. Di sampingnya, duduk seorang nenek berusia 74 tahun. Dan di hadapannya, seratusan perempuan lain berbagai usia, juga duduk. Lesehan di atas karpet merah. 

Sore itu, Jumat (4/5) rombongan KBRI Riyadh mengunjungi Ruhama. Tim KBRI Riyadh, selain Dubes beserta nyonya, ada pula Atase Hukum KBRI Riyadh Muhibuddin, Atase Polisi Mochammad Fahurozi, dan sejumlah staf. 

Luluk Muniroh, istri Duta Besar Republik Indonesia untuk Saudi Arabia Agus Maftuh Abegebriel, merasa trenyuh melihat kondisi kaumnya yang tinggal di Rumah Harapan Mandiri (Ruhama) KBRI Riyadh ini. Apalagi saat itu, sejumlah WNI yang berada di depannya juga menangis.

Bisa jadi, menangis adalah cara mereka untuk melepaskan diri dari suntuknya keadaan berada di Ruhama. Berada di penampungan, menunggu kasusnya selesai, agar bisa pulang ke kampung halaman bukanlah pekerjaan yang ringan. Apalagi, waktu menunggu kasus selesai tidak cukup hanya sehari dua hari. Atau seminggu dua minggu.

tki1.jpg

"Saya sudah berada di sini (Ruhama) selama empat tahun lebih," ujar Sumarwini binti Giono asal Jember, Jawa Timur.

Sumarwini menunggu kasus tuduhan perzinahan dengan anak kecil serta menyihir anak majikan menjadi sakit. Karena tuduhan tersebut, Sumarwini pernah tinggal di penjara Al Malaz selama 5 tahun 5 bulan sebelum diselamatkan Tim Perlindungan WNI KBRI Riyadh.

Atau Ecin binti Pudin asal Sukabumi. Sudah berada di Ruhama selama 934 hari. Linda binti Abdul Azis dari Jateng sudah 810 hari atau Masani binti Syamsudin Umar (Sumbawa) yang sudah 610 hari. 

Mereka menghadapi berbagai persoalan. Mulai soal gaji yang tidak dibayarkan hingga persoalan hukum serius dengan ancaman qisos. Ada yang mengalami kekerasan seksual maupun kekerasan fisik yang menyebabkan cacat permanen. 

Dian, misalnya. Perempuan tersebut, kini mengalami cacat pada salah satu matanya. Namun, ia begitu sabar. Kasusnya belum selesai tuntas, namun ia meminta tak dilanjut. "Kasihan majikan sudah bangkrut dan dipenjara," begitu alasannya. 

tki2.jpg

"Dian berhasil memenangi tuntutan gaji sebesar SAR 96 ribu. Sudah dibayar SAR 70 ribu. Eh, dia bilang yang dua puluh ribu tidak usah ditagih Pak. Diikhlaskan saja. Ini kan orang hebat," ungkap Dubes Agus Maftuh. 

Sosok Dian begitu akrab dengan KBRI Riyadh. Karena, Dian sering membantu di kantor KBRI. Bahkan, Dian juga pernah menulis surat untuk Dubes Agus Maftuh. "Dengan goresan pena ini .....," cerita Agus Maftuh membuat gerrr penghuni Ruhama. Suasana sedikit cair.

Namun, kondisi para WNI seperti itulah yang membuat air mata Luluk tak terbendung. Beberapa kali berkunjung ke Ruhama, selalu saja air mata mengalir. Kendati begitu, Luluk terus mendoakan saudara-saudaranya dari Tanah Air ini segera mendapat jalan keluar terbaik. (Bersambung)

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda