Perintah Terakhir Komandan Alfa

Almarhum Alfa Isnaeni (kiri) dan Gus Mus (Kiai Haji Mustofa Bisri). (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Saya coba membuka percakapan pribadi  terakhir dengan Almarhum Kasatkornas Banser, Alfa Isnaeni, pada  Selasa malam 10 Maret 2020 sekitar pukul 21.30 WIB.

"Kang posisi neng Endi (Mas, posisi di mana). Kita harus ngomong sambil ngopi dirumah. Sesuk aku jam 17.30 teko Suroboyo (besok jam 17.30 saya datang dari Surabaya)," ujarnya lewat HP.  

Ternyata tidak saya saja yang dihubungi. Beberapa sahabat lain dan driver-nya juga dihubungi soal rencana acara ngopi bareng di rumahnya itu.   Selain itu, dia memerintahkan agar sahabat-sahabat khususnya Kepala Satuan Khusus segera menyelesaikan tugasnya: membuat Juklat pelatihan dan menyempurnakan PO (Peraturan Organisasi).

Kang konco-konco (teman-teman) Satsus agar segera menyelesaikan tugasnya. Kalau punya sampean udah selesai, tolong Kang bantu yang lain. Kalau bisa sebelum Konbes sudah selesai," perintahnya.

Ternyata itulah perintah terakhirnya kepada saya. Karena tepat pukul 11.30 tanggal 11 Maret 2020 keesokan harinya beliau pulang ke rahmatulloh di RS Kramat Raya Jakarta. Akibat serangan jantung. 

Konbes Ansor rencananya berlangsung Sabtu 14 Maret - Senin 16 Maret 2020 di Rembang, Jawa Tengah. Akhirnya acara Konbes Ansor ditunda karena Kasatkornas meninggal dunia.                           

Sebelumnya, hampir seminggu aku kumpul beliau saat berlangsung Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) V di Candra Wilwatikta Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Saat itu pria kelahiran Tulungagung 53 tahun lalu tidak ada keluhan sakit. Setiap hari masih melaksanakan tugas pengawas Susbanpim. Termasuk menjadi inspektur upacara dan mengisi materi Kebanseran. Bahkan masih ikut sibuk membantu panitia menyelesaikan tugas.

"Kami minta Susbanpim dilakukan sekali lagi. Yang penting tidak di Jatim. Entah di mana tempatnya  musyawarahkan dengan yang lain," pintanya kepada staf Satkornas ketika sedang rehat.                                                       

  Perintah ini akan menjadi pesan indah terakhir yang akan selalu saya ingat. Saya akan terus mengenang kebaikanmu, Komandan.     

Saya mendampingi Alfa Isnaeni sejak ia menjabat sebagai Ketua PW GP Ansor Jatim. Saya saat itu ditunjuk sebagai Kasatkorwil Banser Jawa Timur. Setelah dia ditunjuk sebagai Kepala Satuan Nasional Banser (Kasatkornas), aku juga diminta membantu. "Kang aku oleh ketum ( Nusron Wahid-red) diminta jadi Kasatkornas (Kepala Satuan Koordinasi Nasional) Banser. Tolong aku dibantu yo kang," pintanya lewat HP.                       

Aku jawab "Insyaalloh ".

"Apa sudah matur (melaporkan kepada) Kiai," tanyaku malam itu singkat.

"Sudah kang. Makanya aku langsung kontak sampean," jawabnya.                         

Yang aku maksud matur Kiai adalah  menyampaikan penunjukan sebagai Kasatkornas Banser  kepada KH Sholahudin Al-Ayubi Abdoel Djalil Mostaqiem (Gus Saladin) dari Pesantren Pesulukan Thoriqoh Agung (PETA) Tulungagung, Jawa Timur.  Mengapa aku tanya begitu. Karena aku tahu selama ini Ir H Alfa Isnaeni MSI adalah santri PETA dan anggota Thoriqoh Syadziliyah yang berpusat di Pesantren PETA Tulungagung yang diasuh Kiai Sholahuddin. Sehingga semua tugas  gerakan sosial yang akan dilakukan almarhum pasti seizin Kiai Sholahuddin (Gus Saladin - panggilan akrab mursyid thoriqoh dari PETA itu)."

"Alhamdulillah, aku diizini karo Kiai Sholahuddin, Kang," katanya ketika itu.                        

Akhirnya aku sampaikan. "Ayo Bismillah. Nawaitu mengabdi pada agama dan negara. Mengabdi pada NU dan NKRI, " kataku.

"Ayo Bismillah, Kang,"   sahutnya.        

Malam itu memang beliau tidak bicara banyak. Hanya sebatas itu.                     

Baru beberapa hari kemudian di siang hari sekitar pukul 13.30 WIB dia kontak aku lagi menyampaikan bahwa dia akan datang ke rumah. "Kang aku meluncur nyang omahmu. " 

Saya jawab: "Iya."  Tidak lama dia udah sampai karena memang rumahku dengan pria kelahiran 1967 itu tidak jauh. Hanya sekitar 20 menit naik sepeda motor. Ketika itu dia menanyakan banyak hal tentang ke-Banser-an. Bahkan dia minta rekomendasi nama-nama personel yang akan diminta membantu di Satkornas. Beberapa nama saya sampaikan. Khususnya nama alumni Susbanpim (Kursus Banser Pimpinan) ke 1 (pertama). Kalau yang lain monggo (silakan) cari sendiri. Dan perlu koordinasi dengan Ketum juga.

kusnin1.jpg

Alhamdulillah meski relatif singkat periode yang diemban bisa berjalan lancar. Beberapa kegiatan bisa berjalan dengan mulus. Ini semua berkat dukungan Ketum Ansor. Meski saat itu banyak pihak yang meragukan kiprahnya.

Namun, aku yakin pilihan Nusron Wahid tidak salah. Karena Ndan Alfa mempunyai kemauan kuat untuk memajukan Banser. Sebab dia kader Ansor dari bawah. Bukan kader  instan. Dia pernah jadi pimpinan tingkat ranting, PAC, PC dan PW Jatim. Apalagi selalu didukung kiai dan ulama. Plus tim perwira yang teruji, maka kegiatan Banser berjalan masif di seluruh Indonesia. 

Mohon maaf, memang kiprahnya di Banser duluan aku. Karena itu sejak dulu Komandan menganggap aku sebagai senior.

Kemudian Kongres Yogjakarta melalui tim formatur yang dipimpin Gus Yaqut Cholil Qomas mengamanatkan kembali Ndan Alfa  menjadi Kasatkornas. "Kang aku ditunjuk lagi jadi Kasatkornas oleh Gus Yaqut. Aku sudah matur Kiai," kata Ndan Alfa lewat HP. "Kang aku dibantu lagi ya. Khususnya di pengaderan dan penertiban Banser. Kang sing cocok sampean ndik (yang cocok Anda di) Satuan Provost ya...ben iso nuweki (sebagai seniornya)," pintanya. Akhirnya tugas lanjutan inipun berjalan dengan baik. Berkat dukungan Ketua Umum GP Ansor Gus Yaqut dan Tim Satkornas pada periode gemilang ini. Karena semua instumen Banser berjalan. Mulai dari asisten hingga satuan kususnya. Tentunya disertai dengan tantangan yang juga  luar biasa berat.

"Kang ayo gae (ayo membuat) ikon Banser. Biar ghiroh Banser  mundak mantab," pintanya suatu kesempatan.     

kusnin2.jpg

Saat itu aku usulkan,  karenqbkita itu santri maka harus ada niat tulus mengabdi pada Kiai NU. Dengan niat ikhlas membela ulama dan kiai NU yang berjuang mengembangkan dan mempertahankan Islam ahlussunah wal jamaah itu serta Pancasila, Insyaalloh ghiroh Banser akan semakin kuat.

"Ayo setiap ketemu konco-konco, baik di apel Banser dan saat diklat kita  gelorakan niat ber-Banser karena Alloh. Seperti logonya Ya..Illahi. Insyaalloh Banser akan jaya di semua lini," saranku saat itu.    Gaung bersambut dengan selalu menyampaikan niat ikhlas karena Alloh SWT dalam ber Banser, akhirnya kader Islam yang ingin bergabung di pasukan Inti GP Ansor sangat luar biasa. Bahkan para anggota Banser semakin bersemangat. Mulai dari Sabang sampai Merauke setiap akhir pekan terus bertambah. Bahkan sampai luar negeri. Tidak jarang seorang mualaf ikut masuk juga menjadi anggota Banser. 

Dari catatanku pelatihan Susbanpim sampai 4 kali. Diklatsus Provos Nasional 3 kali. Wilayah 8 kali. Begitu juga satuan khusus lainnya. Belum lagi Diklatsar, DTD dan Susbalan yang berjalan ratusan kali.                         

Menurut Gus Yaqut jumlah anggota GP Ansor per akhir pekan bertambah lebih dari 1000 anggota, sehingga jumlah anggota Ansor mencapai 7 juta lebih, dan yang bergabung di Banser lebih dari 3,5 juta anggota. 

Menurut Gus Yaqut hal  itu tidak lepas dari kiprah Kasatkornas Banser Alfa Isnaeni. Yang tidak pernah lelah dan menyerah dalam melaksanakan tugasnya hingga Allah memanggil Ndan Alfa. 

Semoga ini menjadi amal hasanah sahabat dan bisa ditauladani semua anggota Banser.

Selamat Jalan Komandan. Semoga husnul khotimah. Insyaallah para kader Banser akan melanjutkan tugas ini. Aamiin.(*)

Penulis: Imam Kusnin Ahmad SH, Kasat Corps Provost Nasional Banser.

Pewarta : Imam Kusnin Ahmad
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda