Jenazah Dua Siswa SMPN 5 yang Tenggelam Ditemukan

Tim SAR dan Marinir Taifib saat mencari jenazah dua korban. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Dua jenazah siswa SMPN 5 Sidoarjo yang tewas tenggelam di Sungai Pucang yang belum ditemukan,  Rabu (12/2) sore akhirnya ditemukan oleh Tim Marinir Taifib (Intai Amfibi) dan Tim SAR. 

Dua korban yang ditemukan:

1.Akhmad Dafaldi Baihaqi kelas 7/7, warga Jalan Kartini Gang 2.

2.M. Ruli.Kurniawan kelas 7/6, warga Jalan Yos Sudarso Gang 5, Sidoarjo. 

Ruli ditemukan Tim Taifib di kawasan nelayan Bluru, setelah jembatan besar sekitar pukul 10.00 Kamis 13 Februari 2020.

Tubuhnya sudah kaku.  Dan,  dia masih mengenakan seragam batik sekolah warna hijau.  

Mayat korban dievakuasi ke darat dan segera dilarikan ke kamar mayat RSUD Sidoarjo. 

Sedangkan, korban Defaldi ditemukan oleh Tim SAR di kawasan muara Sungai Pucang sekitar pukul 14.45. Jenazah korban segera dievakuasi menggunakan perahu untuk menuju daratan. Jenazah korban dilarikan ke RSUD Sidoarjo. 

Jadi tiga korban semuanya sudah ditemukan. Sebelumnya,  korban M. Nuh Achsan alias Aan ditemukan Rabu (12/2) pukul 20.30.

BACA JUGA: Tiga Siswa SMPN 5 Sidoarjo Tewas Tenggelam​

Pencarian dua korban Kamis 13 Februari kemarin dimulai pukul 07 00. Tim Marinir Taifib,  SAR, Tagana dan warga bahu membahu.

Ketika penulis di lokasi,  Tim Taifib sudah menyisir lebih dulu. Tim sudah melintasi jembatan dekat makam Desa Manyar.  

hilang2.jpgAkhmad Dafaldi (paling kiri) bersama kedua adik dan ibunya. (FOTO: istimewa)

Sedangkan Tim SAR dengan dua perahu karet menyisir sebelum jembatan. Mereka berjalan berjajar melebar seperti menjaring ikan. 

 Sekitar pukul 10.00 Tim Taifib menemukan jenazah korban Ruli. 

Pencarian terus berlanjut.  Dan pukul 14 45, tim menemukan jenazah Defaldi. 

Seperti diberitakan, tiga siswa SMPN 5 Sidoarjo di Jalan Untung Suropati,  tewas tenggelam ketika mandi di Sungai Pucang,  Rabu (12/2) sekitar pukul 15 00.

Rekaman CCTV

Dalam tragedi ini,  ada bukti rekaman CCTV diambil dari belakang Toko Indah Bordir. Dalam rekaman terlihat ada lima anak. Dua di dalam sungai dan tiga membantu dua korban keluar dari sungai di tepian. 

Terlihat sungai dangkal.  Tapi mengapa sungai itu bisa menelan tiga korban sekaligus? Arusnya deras. Semoga tiga jenazah korban yang masih anak anak diterima Allah SWT.

Firasat Korban Dafaldi

"Suara Gitar Ukulele Itu Menghilang"

Korban Dafaldi adalah anak yang baik dan sopan.  Dia selalu tersenyum dan menyapa tetangga yang ditemuinya. 

Dia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Jumari Londo dan istri. 

Dia sangat menyayangi dua adiknya laki dan terkecil perempuan. Keduanya masih duduk di bangku SD. 

hilang1.jpgRekaman CCTV Toko Indah Bordir sebelum tiga korban tenggelam.

Korban hidup di keluarga sangat sederhana.  Bapaknya penjual pentol bakar Londo, yang terkadang berjualan dengan motor di depan sekolah SMPN 5 Sidoarjo. 

Pentol bakarnya sangat enak. Dagangannya pun cepat habis.  Orang tua korban kontrak di rumah Ny Hanim, di Jalan Kartini Gang 2. Sedangkan ibu korban jualan di los pracangan di Pasar Rizal, Kemiri.

Kedua orang tua korban sangat sibuk dengan pekerjaan hariannya sebagai pedagang. 

Apa ada firasat? Menurut Ny Hanim, Selasa (11/2) dia begitu kaget melihat korban sudah di depan pintu belakang rumah ketika dia membuka pintu.  

"Bu Hanim,  Sasa ada (anak perempuan tertua Hanim). Saya mau pamit sekolah," ujarnya. 

Sasa yang masih duduk di TK dipanggil Hanim.  Sasa mendekat, korban lantas melambaikan tangan say good bye.

"Dada Sasa. Kak Faldi berangkat sekolah. Dada bu Hanim, " tutur Hanim menirukan ucapan Dafaldi.

"Saya heran Faldi tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Bila dia kena musibah seperti ini,  berarti Faldi mengucapkan salam perpisahan terakhir pada keluarga kami, " ujar Hanim sedih. 

Menurut Hanim,  korban memang sangat menyukai anak anak kecil tetangga.  Dia menghibur anak anak kecil itu dengan bermain gitar kecil ukulele yang memang keahliannya.  "Sekarang suara gitar ukulele itu tak terdengar lagi. Ya Allah semoga Faldi diterima Allah SWT, " ujar Hanim. 

Jumari,  bapak korban,  mengaku tidak ada firasat sebelum korban meninggalkannya. "Tidak ada firasat. Tapi bila dia pergi ke rumah temannya selalu pamit. Anehnya kok dia tidak pamit saat kejadian," ujarnya. 

"Faldi sebenarnya sudah diajak renang Ruli sehari sebelum kejadian. Hanya saat itu, Faldi tidak ada di rumah karena keluar dengan adiknya. Ruli kemungkinan berenang dengan temannya yang lain, " ujar Jumari. 

Rabu pagi, menurut Jumari, dia sedang tidur.  Semalam dia usai memakamkan tetangga yang meninggal dunia karena kecelakaan kerja. 

Ketika tidur,  dia dibangunkan Faldi karena meminta uang saku. "Saya memberinya 10 ribu.  Dia bilang kurang 5 ribu. Karena biasanya uang saku Rp 15 ribu.  Ya saya ambilkan lagi Rp 5 ribu, " ujar Jumari. 

Tak disangka itulah pertemuan terakhirnya dengan Faldi. 

hilang3.jpgUcapan belasungkawa di rumah duka almarhum Dafaldi.

Ketika pulang sekolah,  Faldi bertemu Ruli dan langsung diajak renang ldi Sungai Pucang.

Faldi pun mengikuti kemauan teman akrabnya sejak di SDN Pucang 5 Sidoarjo. "Dia renang di sungai tanpa pamit, " ujarnya. 

Suka kelayapan setelah pulang sekolah itu sudah kebiasaan korban sejak SD. "Pernah ibunya menangis karena Faldi pulang sekolah pukul 10.00 tapi baru sampai rumah pukul 14.00. Dia ternyata bermain di rumah temannya tanpa pamit.  Dia baru pulang setelah lapar.  Dia tidak tahan lapar, " ujar Jumari.

Pukul 14.30, dia memperoleh kabar Dafaldi tenggelam dengan dua temannya. 

Jumari mengajak istri dan dua anaknya mencari Dafaldi.  Dia minta bantuan warga setempat dan warga pun menolongnya menyisir sungai. Kemudian datang bantuan dari SAR dan Tagana. 

"Kami sekeluarga mencari mulai pukul 15.00 dan baru pulang Subuh (Kamis 13/2)," ujarnya. 

Rabu pukul 17.00, dia sempat melarung guling korban ke sungai.  Ketika guling berhenti,  di situ lah jenazah korban. "Guling berhenti di jembatan lingkar timur.  Saya sendiri mencari tapi tak mampu. Arus sangat deras, " ujarnya. 

Kamis (13/2), pukul 14.30, Dafaldi ditemukan Tim SAR dekat muara.  "Posisi berdiri dan kepala menyembul di permukaan air," ujarnya. 

Sejak ditemukan, petugas melarang keras memotret jenazah korban.

Korban segera dilarikan ke kamar mayat RSUD Sidoarjo. 

hilang4.jpgPerahu karet  Tim SAR ini membawa korban ketiga Dafaldi yang ditemukan pukul 15.00.

Pukul 17.00, jenazah korban Dafaldi dimakamkan. 

Kini Jumari harus merelakan kepergian anak pertamanya.

Semoga arwah korban diterima Allah Swt. Amin.   

Korban Aan

"Makan Pagi Terakhir"

Korban Aan adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya lelaki.

Rabu pagi,  Aan sebelum berangkat ke sekolah diminta ibunya makan pagi. Tapi dia menolaknya. "Ndak makan ma. Aku malas, " ujarnya.

"Ya sudah,  kalau tidak mau makan,  jangan makan selamanya!" ujar ibunya.

Karena jawaban ibunya itu, Aan akhirnya sarapan pagi sebelum berangkat sekolah.  "Dan kini anaknya ternyata sudah pergi. Sarapan pagi itu sarapan terakhirnya, " ujar sang ibu menangis. 

Seminggu sebelum kejadian,  korban terkesan manja. Dia minta diantar terus oleh bapaknya. "Padahal dia tak lama kami belikan sepeda pancal," ujar sang ibu. 

Sang adik pun shock. Dia minta bila ibunya punya anak laki laki lagi agar diberi nama Aan. "Adiknya tidak mau kehilangan sang kakak" ujar sang ibu.  Semoga jenazah Aan diterima Allah Swt. (*)

Pewarta : Mohammad Makruf
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda