Perampok Sopir Taksi Cirinya Begini...

Sopir taksi online rawan dibegal. (FOTO: viva.co.id)

COWASJP.COMSopir taksi online, MSD, 53, dirampok dibunuh di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 15 Agustus 2023. Mobilnya, Toyota Avanza Veloz B 2166 KIL digondol. Terduga pelaku baru saja ditangkap. Sangat sering sopir dirampok.

***

MAYAT MSD semula misterius. Identitasnya jelas, karena dompet berisi identitas ada di mayat itu. Tergeletak di pinggir Jalan Komplek Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ditemukan warga, Selasa, 15 Agustus 2023 sekitar pukul 03.30 WIB.

Setelah sebulan, baru terungkap bahwa itu sopir taksi online. Itu perampokan disertai pembunuhan.

Kanit Reskrim Polsek Pasar Minggu, AKP Sofyan Suri, kepada wartawan, Jumat (15/9) mengatakan, seorang terduga pelaku pria sudah ditangkap. Perampokan disertai pembunuhan. 

Tapi, ia tak bisa menjelaskan identitas tersangka dan kronologi. Sebab, kasusnya ditangani Polda Metro Jaya. Sedangkan, Polda Metro Jaya belum merilis kasus ini. “Pokoknya, pelaku ditangkap kini ditahan di Polda,” ujarnya.

Satu-satunya saksi adalah pria inisial H. Ia tinggal tak jauh dari lokasi pembuangan MSD. Ketika korban MDS dibuang, H melihat, mengintip dari jendela rumahnya. Diceritakan begini:

Dini hari itu H di dalam rumah, belum tidur. Ia mendengar suara orang kesakitan dan berisik seperti perkelahian. Persis di depan rumahnya.

H mengintip dari jendela rumah. Ada mobil berhenti. Rupanya, suara orang kesakitan berasal dari dalam mobil. Tak lama, ada pria dari dalam mobil keluar, lalu menyeret tubuh pria dari dalam mobil juga. Pria yang diseret sudah lemas.

H: "Pria yang diseret, diturunin dari kanan depan, berarti itu sopirnya. Pria yang menyeret, keluar dari jok kiri depan. Trus, tubuh itu diseret menuju pinggir jalan. Berarti nyeretnya cukup jauh melewati depan mobil.”

H tidak keluar rumah. Tapi ia ingin membantu korban. Caranya dengan menyalakan lampu halaman depan yang semula mati.

H: “Begitu lampu saya nyalakan, orang yang menyeret kaget. Ia menyeret lebih cepat. Terus, menggeletakkan tubuh orang yang diseret ke pinggir jalan. Trus, ia (penyeret) masuk mobil, tancap gas, kabur.”

Setelah itu H berani keluar rumah. Mendekati pria yang tergeletak. Berlumuran darah. Bahkan banjir darah. 

H; “Waktu ia saya dekati masih merintih. Lalu ia seperti orang ngorok. Setelah itu ia tak bergerak lagi. Saya kira-kira waktu itu, mungkin ia mati. Mungkin itu tadi tarikan nafas terakhir.”

H segera lapor ke Ketua RT. Ketua RT memberitahu sekuriti Gedung Ditjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, tak jauh dari itu, Ketua RT dan sekuriti mendatangi lokasi bersama H.

Kemudian warga berkerumun. Dalam sekejap datang tim polisi. Lokasi itu cuma sekitar 400 meter dari kantor Polsek Pasar Minggu. Polisi langsung melakukan olah TKP. Di kantong celana korban masih ada dompet. Isi aneka kartu identitas. Juga uang Rp 222 ribu.

H sempat bertanya ke polisi yang memeriksa: “Apakah digorok, ya pak?” Karena, belepotan darah, sehingga tidak diketahui pusat luka.

Polisi menjawab: “Bukan. Ini ditikam, kena dada kiri. Mungkin tembus ke jantung, karena korban langsung meninggal.”

Setelah itu, ambulance tiba mengangkut korban menuju RS Fatmawati, terdekat dari TKP. Setelah itu, tak ada kabar apa-apa. Polisi masih memburu pelaku. Motif perampokan sempat diragukan. Sebab dompet isi uang masih ada di saku korban. Akhirnya, pelaku ditangkap polisi, Jumat (15/9).

Perampokan sopir taksi sangat sering terjadi di Jakarta. Sopir taksi dengan penghasilan tak seberapa besar dibanding upaya mencari penumpang keliling kota, masih juga dirampok. Perampok mengincar mobil. 

Mayoritas sopir dirampok, melawan. Mereka mempertahankan mobil. Maka, kebanyakan dibunuh pelaku.

Saya setiap naik taksi online, merasakan kewaspadaan sopir. Saya biasa membawa tas isi laptop. Dan, biasa duduk di kiri depan. Tas saya selalu jadi perhatian sopir. Maka, biasanya tas langsung saya turunkan ke lantai jok. Supaya ia tidak selalu melirik tas, sehingga kurang memperhatikan jalan.

Ketika saya buka pembicaraan basa-basi, biasanya sopir kelihatan senang. Umumnya sopir kurang suka penumpang yang diam sepanjang perjalanan. Intinya, mereka kini selalu waspada.

Ternyata sopir taksi punya pedoman sebagai kewaspadaan. Pedoman itu hampir sama pada sopir-sopir yang saya ajak ngobrol. Pedoman mereka begini:

1) Menganalisis lokasi jemput dan tujuan. Paling aman adalah dari rumah ke rumah. Atau dari rumah ke gedung bukan rumah. Misal, mal, toko, gedung kantor, atau tempat lain.

2) Menghindari pesanan tujuan luar kota Jakarta. Terutama yang dihindari adalah dari Jakarta ke Bogor. Karena rute itu sering terjadi perampokan.

3) Mengutamakan pemesan yang bayar langsung via aplikasi. Sebab, jika terjadi sesuatu, identitas pemesan diketahui dari rekening transfer. Biasanya, penjahat juga ogah bayar langsung. Mereka selalu bayar kontan (setelah sampai tujuan). Karena, kalau bayar via aplikasi, rekening mereka terlacak langsung.

4) Sopir berusaha mengajak ngobrol penumpang. Setidaknya basa basi. Saat itulah sopir menganalisis, apakah penumpang berpotensi bahaya. 

Kalau dinilai bahaya, sopir bisa menekan tombol tersembunyi di dekat sopir untuk memberi sinyal ke kantor perusahaan taksi online. Lalu perusahaan taksi online meneruskan sinyal itu ke kantor polisi, lengkap dengan posisi mobil via GPS.

5 Sopir menghindari pesanan penumpang malam. Setelah lewat pukul 21.00.

Lima prinsip itu dipadukan sopir. Dikombinasikan. Misal, bisa saja  calon penumpang tidak sesuai prinsip satu, tapi sesuai prinsip nomor tiga. Atau sebaliknya. Atau kombinasi dari lima prinsip itu.

Kendati, jika sopir merasa sepi penumpang, mereka mengabaikan pedoman itu. Terutama pedoman nomor lima. Karena, umumnya sopir menyetir mobil milik sendiri, dan mobilnya dibeli secara kredit. Hasil nyopir itulah untuk membayar kredit.

Bagi pria Jakarta tamatan SMA tanpa keterampilan khusus, sangat sulit dapat pekerjaan.  Mayoritas mereka jadi tukang ojek online, sopir taksi online, atau pedagang kaki lima. 

Warga yang hidup sulit ini masih juga diincar perampok. Bahkan banyak dibunuh perampok. Tentu, ini sudah dipikirkan aparatur pemerintah. Mereka sudah sangat paham kondisi ini. Bukti, mereka selalu pidato soal wong cilik.

Cuma, karena pekerjaan aparatur banyak, sehingga soal itu terabaikan. Atau, mereka bingung, tidak tahu cara mengurai problem yang belit-membelit ini. (*)

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda