Prof Nasaruddin Umar MA

Belajarlah kepada Impersonal Teachers

Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA

COWASJP.COM – Prof. Nasaruddin Umar, MA mengajak seluruh pimpinan, dosen dan karyawan Unisma Malang untuk Belajar Kepada Impersonal Teachers. 

Pesan tersebut disampaikan melalui forum Mbalah Aswaja yang bertajuk Fasawuf di Era Modern, di gedung Ali Bin Abi Thalib Lantai 7 Unisma, Rabu (15/1).  

Ia memulai penjelasan dengan menyitir Q.S AL-Baqarah : 151, yang artinya: "Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui." (Q.S AL-Baqarah : 151)

Dalam ayat ini, siapa Rasul yang dimaksud? Penggunaan kata “Rasul pada ayat ini bersifat nakiroh yang berarti umum.” Begitu penjelasan guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Bisa jadi Rasul yang dimaksud adalah ulama-ulama kita, termasuk KH. Tholchah Hasan. Sambil mengenang perjalanan KH Tholchah, beliau menyinggung bahwa Unisma adalah keberkahan dari KH Tholchah Hasan.

Rektor PTIQ tersebut sempat bercerita tentang keutamaan sholawat badar. Pertanyaan menggelitik, mengapa kita harus berdiri saat sholawat badar dibacakan? Jawab seorang ulama sederhana, jika kepada negara yang hadir saja kita diwajibkan berdiri, bagaimana dengan yang datang adalah pimpinan nabi dan rasul?

Kata kerja pada ayat ini menggunakan fi’il mudhori’, salah satu makna dari penggunaan isim mudhori’ ialah sebagai present tense sekaligus future tense.  Hal ini menjadi isyarat bahwa nabi tidak wafat, tetapi akan terus membimbing dan mensucikan umatnya.

Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut juga menyinggung terjemah Kemenag sebagai terjemah terbaik dalam bahasa Indonesia. Namun jangan berhenti pada terjemah Kemenag. Jika ingin mengetahui makna dan maksud Al-Quran harus belajar bahasa Arab. 

kusnin1.jpgProf Dr KH Nasaruddin Umar MA. (FOTO: Imam Kusnin Ahmad/CowasJP)

Ia mejelaskan bahwa terjemah kemenag hanya untuk orang awam, karena di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan yang mungkin bisa mengurangi maksud dari Al-Quran sebagai kitabullah.

Perbedaan bahasa tidak mudah serta-merta diterjemahkan. Beberapa kata bahasa Arab tidak dapat dimaknai dalam bahasa Indonesia. Ada diksi dari bahasa Arab yang memang tidak ada padanannya.

Selama seseorang belum belajar dari impersonal teacher, sejatinya ia belum belajar. 

Prof Nasaruddin menjelaskan bahwa Al-Quran dan Hadits serta pengalaman spiritual banyak mengisyaratkan tentang bagaimana manusia harus belajar kepada impersonal teracher.

Nabi Musa misalnya berguru dengan berguru pada pohon ketika ia tersesat bersama istrinya. Nabi Daud berguru pada burung.

Pembelajaran saat ini hanya mengandalkan deduksi akal, padahal dengan belajar dengan impersonal teacher, kita akan terbuka dengan ilmu-ilmu lain, di luar ilmu yang mengandalkan deduksi akal.

Forum Mbalah Aswaja di Unisma Malang berlangsung sukses. Sementara itu Rektor Unisma Malang, Masykuri menyampaikan bahwa Unisma memiliki sekitar 15 ribu mahasiswa dan  berasal dari 15 negara dan 34 provinsi. Maka, terkait dengan amanah masyarakat yang dari hari ke hari animonya semakin besar, Unisma ingin mempersiapkan mahasiswa memiliki kompentsi plus. Di samping juga enterpreneur yang handal dan moralitas yang tinggi.

kusnin2.jpgProf Dr KH Nasaruddin Umar MA

“Kegiatan-kegiatan ritual keagamaan sudah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa dan civitas akademika Unisma. Tiada hari tanpa Alquran dan sholawat.  Itulah Unisma. Insyaalloh. Kegiatan-kegiatan ritual baik baca Quran, sholawat dan tahlil, istighotsah dan shalat berjamaah menjadi bagian sehari-hari di Unisma,’’ ungkap Masykuri. ““Kami ingin Unisma menjadi rujukan Ahlussunah Waljamaah bagi perguruan tinggi nasional maupun internasional,’’ tambah Masykuri.

Tetapi perguruan tinggi tidak hanya cukup  dengan ritual-ritual keagamaan saja, lanjut Masykuri. Perguruan Tinggi seperti Unisma ini  juga perlu kajian-kajian akademik. Dan  kajian-kajian akademik yang bersifat ritual itulah yang kemudian di implementasikan melalui satu kajian-kajian akademik yang di Unisma diberi nama Mbalah Aswaja.

“Kegiatan ini diselenggarakan setiap hari Rabu minggu kedua dan ketiga. Dalam kegiatan rutin ini  kita menghadirkan tokoh-tokoh regional, nasional dan internasional,’’ tandasnya.

Masykuri berharap civitas akademika Unisma bukan hanya paham pada ritual-ritual dan ajaran yang berbasis aswaja saja. Tetapi juga paham dengan dasar-dasar filosofis dan dasar-dasr sosilogisnya serta tasawufnya. “ Ini semangat kami. Unisma berharap Kiai Nasyaruddin berkenan untuk ikut membina di S3 Pasca Sarjana Unisma. Terus terang Prof Tholchah Hasan juga sangat merindukan Kiai bisa menjadi bagian dari Civitas Akademika Unisma. Paling tidak mengajar di S3. Bangga Unisma bila Kiai bisa  menyisihkan waktu. Ini bagaikan embun yang jatuh di Unisma,’’ katanya. (*)

Pewarta : Imam Kusnin Ahmad
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda