Dari Gelaran FBA XI

Anak Enam Tahun Itu Begitu Menjiwai Peran Hanoman

Salah satu adegan dalam Sendratari Anak dengan lakon "Sang Hanoman." (Foto Dok: Mekar Pribadi)

COWASJP.COM – Kayla (6 th) tampak percaya diri menari sebagai _icon_pasukan kera dalam pentas Ramayana Anak, Sang Hanoman.  Tubuh mungilnya dengan lincah mengikuti irama rampak gamelan karya maestro gamelan Dedek Wahyudi bersama teman2 nya dari Sanggar Manunggal Bakti Kampung Silat Petukangan. 

Kayla bersama 150 penari dari 9 sanggar se-Jabodetabek yang sebagian besar anak2, sedang merayakan Hari Anak Sedunia yang diperingati tiap 20 November dengan mementaskan Sang Hanoman. Peringatan ini dirayakan dalam gelaran Festival Budaya Anak Bangsa (FBA). Tahun 2019 ini merupakan FBA ke-11.

Dalam kitab Ramayana karangan Empu Walmiki, Hanoman sang kera putih, anak Dewi Anjani dengan Batara Siwa itu, diutus Sri Rama membawa pesan cintanya kpd Dewi Sinta yg sedang dalam tawanan raja jahat Dasamuka. Rama akan membebaskan Sinta.

Dalam tugasnya Hanoman dihadang 
berbagai kesulitan: ditelan raksasa laut Kataksini, disesatkan pohon-pohon di hutan Alengka dan akhirnya buta karena makan buah lezat tapi beracun yg disajikan putri-putri siluman. 
Rasa tanggung jawab Hanoman membuatnya menyesal telah berbuat salah. Dan ia berdoa agar diizinkan Tuhan menyelesaikan tugas dg baik. 

Menurut ibunda Kayla, anaknya baru beberapa bulan berlatih menari atas keinginan sendiri. Tapi Kayla cepat meniru gerakan yang diajarkan bu Ayu Marsiti, gurunya di Sanggar Manunggal Bakti, Kampung Silat Petukangan. 

Setelah ikut menari Kayla makin mudah diingatkan dan sikapnya jadi lebih bertanggung jawab : termasuk buang air dan membersihkan badan sendiri serta mengikuti latihan bersama. 

Eyang Anjar, pembina Sanggar Seni Kusuma yang membawakan tari Pohon juga menuturkan bahwa melalui seni anak-anak asuhannya dididik disiplin dalam mengatur waktu. Ini dibuktikan dengan kehadiran tim tari Pohon yang selalu tepat waktu dan matang dalam gerakan menari selama latihan bersama.

Anto Suhartono, pegiat budaya khususnya anak-anak,  selaku penata panggung memiliki resep sederhana yaitu memperhatikan anak agar merasa nyaman sehingga bisa memberikan yang terbaik untuk pentas bersama. 

Suryandoro selaku sutradara menambahkan bahwa melalui menari, anak2 berlatih kepekaan terhadap tujuan bersama untuk menampilkan pentas yang memikat.

Ratih Candra (22 th) relawan, mahasiswa DKV UNINDRA mengaku senang melihat gladi resik Pentas Ramayana tanggal 30 November 2019 pukul 10.00 WIB. "Tariannya apik, terutama sang Hanoman yang sebagai tokoh utama. Ekspresi wajah pemeran Hanoman terlihat sangat menjiwai peran yang dilakoni. Benar-benar seperti sang Hanoman dari gestur dan mimik wajah, sehingga saya sangat antusias melihat pentas Ramayana ini," tegasnya. (*)

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda