Sebuah Pelajaran dari Kasus Rohadi

Keadilan Menghapus Kezaliman

ILUSTRASI: Palu Hakim, Foto: Metrobali.com

COWASJP.COMKEADILAN adalah kata yang belakangan ini terlalu sering diucapkan, tapi terlalu sulit diterapkan dalam penegakan hukum di negeri ini. Karena yang sering terjadi adalah bahwa hukum hanya berlaku untuk mereka yang lemah. Yang kuat dan berkuasa terlalu sering tidak tersentuh hukum.

Dalam kehidupan kita, yang selalu berlaku adalah hukum rimba. Yang kuat selalu saja memakan yang lemah. Yang kaya menindas mereka yang miskin. Yang punya kuasa selalu tega merampas hak-haknya mereka yang tak berdaya. Pedang hukum itu hanya tajam terhadap orang-orang kecil. Yang tak berdaya untuk melawan. Yang tak mampu bahkan untuk memberikan perlindungan bagi dirinya sendiri. Dan pedang hukum itu selalu tumpul bila berhadapan dengan mereka yang punya kuasa. Yang punya jaringan kokoh tak terkalahkan. 

Karenanya, keadilan tak henti dituntut banyak kalangan. Salah satu yang tak pernah lelah mencari keadilan itu adalah Rohadi. Mantan panitera di PN Jakarta Utara itu seperti tak pernah kehabisan tenaga untuk memperjuangkan keadilan. Tentu saja, terutama keadilan untuk dirinya sendiri. Sebagai terpidana kasus suap pedangdut Saipul Jamil. Yang merasa dirinya diperlakukan tidak adil secara hukum. 

Rohadi mengajukan permohonan Peninjauan Kembali (PK) kasusnya di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.  Dan usai sidang terakhir Kamis (14/11) lalu, dia langsung sujud syukur. Karena upayanya untuk mengajukan permohonan PK telah selesai ditunaikan. Lalu dia pun saling berpelukan dan bertangisan dengan putera bungsunya, Reyhan Satria Anggara. Anak berkebutuhan khusus Down Syndrom. Yang terpaksa terpisah dari bapaknya dalam tempo yang cukup lama. Karena Rohadi telah divonis 7 tahun penjara. Dan sudah menjalaninya lebih dari 3 tahun di Lapas Sukamiskin, Bandung. 

Suasana haru karuan saja mewarnai sidang terakhir itu. Sejumlah media memberitakan kasus Rohadi ini secara luas. Running text di sejumlah jaringan televisi nasional tak henti mengalirkan tulisan: Ajukan PK di PN Jakpus, Eks Panitera Rohadi Mohon Vonis Adil MA. 

Mantan panitera PN Jakarta Utara itu mengatakan bahwa dia mengajukan permohonan PK, karena dia merasa telah dizalimi. Karena dia merasa telah dijadikan tumbal sendirian. Dalam kasus yang mestinya juga menyeret sejumlah hakim, panitera, pengacara maupun Saipul Jamil dan keluarganya. 

Pasalnya, menurut Rohadi, dia hanya sebagai penghubung alias perantara. Antara pengacara Saipul Jamil, Bertha Natalia Ruruk Kariman dan Ketua Majelis Hakim kasus pedangdut kondang itu, Ifa Sudewi. 

nasmay.jpg

Meski demikian, Rohadi dijerat dengan Undang-Undang Tipikor pasal 12 huruf a. Yang membuat dirinya tak ubahnya sebagai terdakwa utama. Sehingga dia divonis 7 tahun penjara. Sementara hakimnya sendiri, seperti berulang kali diungkapkan Rohadi, tidak tersentuh hukum. Meskipun telah menikmati uang suap dari keluarga Saipul Jamil. Meskipun telah menggunakan kewenangannya sebagai hakim, dengan mengurangi hukuman Saipul Jamil. Lebih dari separoh dari 7 tahun tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sesuai kesepakatan. Setelah Saipul Jamil memberikan uang suapnya. Melalui pengacara itu. 

Mahalnya Keadilan

Keadilan seringkali dikaitkan dengan kata-kata: equality before the law. (Kesamaan di depan hukum). Artinya, “setiap warga negara sama di depan hukum”. Tidak peduli siapa pun orangnya. Kaya atau miskin. Kuat maupun lemah. Yang punya kuasa atau yang tidak punya kuasa apa-apa. Sebagai sesama warga negara, mereka harus diperlakukan sama di depan hukum. Itulah yang dicita-citakan bapak-bapak pendiri bangsa. Dalam rangka menata kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Meski  demikian, keadilan menurut konsep ini kenyataannya di lapangan tidak semudah mengucapkannya. Persamaan di depan hukum itu ternyata sangat mahal. Tidak setiap orang mampu meraihnya. Karena itu, kiranya perlu konsep keadilan yang lebih terarah. Yaitu seperti yang ditetapkan dalam ajaran Islam. Tentang bagaimana mestinya hukum itu ditegakkan dengan adil. 

Pakar hukum dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Dr. Abdul Jamil , SH, MH, dalam buku Menyibak Kebenaran, Eksaminasi Terhadap Putusan Perkara Irman Gusman, menerangkan teori keadilan menurut ajaran Islam. Yaitu, sesuai Surat An-Nisa ayat 58, yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil........”

Konsep atau teori keadilan di atas kemudian dikuatkan lagi oleh sabda Rasulullah Muhammad Saw., yang berbunyi: “Apabila kalian memutuskan hukum, lakukanlah dengan adil. Dan apabila kalian membunuh lakukanlah dengan ihsan, karena Allah itu Maha Ihsan dan menyukai orang-orang yang berbuat ihsan.” (HR Ath-Thabrani)

Meski demikian, lagi-lagi dalam penerapan hukum, persoalan keadilan itu tetap saja jadi ganjalan. Konsep “equality before the law” , itu bagus.  Ia merupakan satu poin saja dari konsep “Rule of Law”. Bahwa seseorang hanya boleh dihukum kalau melanggar hukum. Bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang sama di mata hukum: baik itu pejabat maupun rakyat jelata. Dan, bahwa dengan demikian hak-hak asasi manusia dapat dilindungi melalui undang-undang dan putusan pengadilan. 

nasmay1.jpg

Persoalannya, tidak semua orang, khususnya para penegak hukum mampu menjalankannya secara tepat. Begitu juga konsep keadilan menurut Islam, yang berwujud perintah. Karena tidak semua penegak hukum – polisi, hakim dan jaksa – tahu dan mau menjalankannya secara konsekuen. Mereka umumnya lebih termotivasi untuk menegakkan hukum, dengan cara menghukum sesesorang yang dianggap melanggar hukum. Tanpa peduli apakah keputusan itu sesuai dengan rasa keadilan atau tidak. Sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan atau tidak. Artinya, hukum hanya ditegakkan untuk menghukum seseorang. Bukan untuk menata kehidupan dalam masyarakat. Sehingga soal keadilan itu seringkali terabaikan. 

Rohadi Tidak Sendiri

Persoalan keadilan hukum di negeri ini tidak hanya dialami oleh Rohadi. Puluhan tahun silam, negeri ini bahkan pernah dihebohkan oleh kasus hukum Sengkon dan Karta. Terpidana kasus perampokan dan pembunuhan suami isteri Sulaiman dan Siti Haya di Desa Bojongsari, Bekasi, tahun 1974. Keduanya disiksa penyidik, sehingga terpaksa mengakui kesalahan yang tidak pernah mereka lakukan. 

Sengkon divonis penjara 12 tahun. Sedangkan Karta dihukum 7 tahun. Mereka ditangkap tahun 1974, tapi vonisnya baru dijatuhkan tahun 1977. Mereka petani miskin dan buta hukum. Barulah tahun 1980, mereka bertemu Gunel di dalam penjara. Orang yang mengaku sebagai perampok dan pembunuh Sulaiman dan Siti Haya. Walaupun akhirnya mereka dibebaskan, tapi sejak 1974 sampai 1980, mereka telah diperlakukan secara tidak adil. Tanpa salah, kebebasan mereka dirampas penegak hukum, yang keliru menerapkan hukum. 

Tahun 2015, negeri ini juga pernah dihebohkan kasus pencurian kayu jati milik Perhutani oleh Nenek Asyani. Nenek berusia 63 tahun itu divonis 1 tahun penjara dengan masa percobaan 1 tahun 3 bulan dan denda Rp 500 ribu subsider 1 hari hukuman percobaan. Lagi-lagi hukum hanya digunakan untuk menghukum orang. Para penegak hukum seperti tidak punya nurani untuk melihat setiap persoalan tidak hanya dari keputusan untuk menghukum orang, tapi juga sisi kemanusiaannya.

Terhadap kasus Rohadi, semestinya kita angkat topi karena kejujurannya bahwa dia pernah malang melintang dalam apa yang dia istilahkan dengan “mafia hukum”. Seperti judul buku yang pernah dia tulis berkenaan dengan kasusnya. Karena itu dia menyatakan ingin tobat. Tapi persoalan keadilan yang tak henti dia cari sampai kini sepatutnya juga mendapatkan perhatian dari para penegak hukum. 

Bagaimana pun, menegakkan keadilan berarti menjauhi kezaliman dengan sejauh-jauhnya. Keadilan itu bertolak belakang dengan kezaliman. Bila keadilan ditegakkan, maka kezaliman dapat dihapuskan. Tapi bila sebaliknya, maka kezaliman akan merajalela. Karenanya harus difahami bahwa kezaliman itu sendiri merupakan rangkaian kegelapan yang akan menggelapkan kehidupan kita. Dunia maupun akhirat. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda