Pemilihan Duta ISNU Jatim

Tsuroyya Adibah Juara Umum

Tsuroyya Adibah (tengah). (FOTO: Imam Kusnin Ahmad)

COWASJP.COM – Setelah melalui seleksi yang sangat ketat akhirnya panitia pemilihan Duta ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) Jawa Timur berhasil memilih juara-juaranya. 

Acara berlangsung di Hotel Grand City Hall Surabaya Sabtu (16/11) malam.

Terpilihlah sebagai Juara Umum: Tsuroyya Adibah dari Malang.

Best Personality: Intan Budiana Putri. 

Juara Media Social Favorite: Agisa Ananda Yansri.

Selain menjadi juara umum, Tsuroyya, juga menyabet juara 1 kategori Putri. Dengan keberhasilan itu mahasiswi asal Universitas Negeri Malang  jurusan bahasa Inggris itu berhak atas beberapa hadiah dari panitia. Di antaranya hadiah uang, piagam, tropi juara, dan hadiah utama umroh ke Tanah Suci.

Sedangkan juara kedua kategori putri: Wilda Al Aluf Arifin

Juara tiga: Ridlo Rimba Kumala.

Juara harapan: Riyana F. Zahra.

KATEGORI PRIA

Juara satu:  Alfian Salim.

Juara dua: Moh Riadi. 

Juara tiga: M. Yepta.

Juara harapan: Hardiv Arviri.

Ajang pemilihan Duta ISNU Jatim 2019 mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Khususnya dari kalangan milenial. Terbukti begitu pendaftaran dibuka langsung diserbu peserta. Tidak kurang dari 830 peserta ambil bagian dalam

acara yang digelar oleh Pengurus Ikatan Sarjana NU Jawa Timur itu. 

Tim dewan juri sangat ketat menyeleksi. Karena dari 800-an lebih peserta  di babak awal hanya dipilih 100 peserta. 

Dari 100 hanya diambil 20 peserta untuk masuk babak final. Dan di babak grandfinal   Tsuroyya Adibah dari Malang-lah yang terpilih sebagai juara umum.

Apresiasi luar biasa datang dari Wakil Gubernur Jatim, Emil Dardak dan jajaran  profesional perbankan. Mantan Bupati Trenggalek itu memuji suksesnya penyelenggaraan pemilihan Duta ISNU Jatim.

“Panitianya saya lihat padu dan menunjukkan ke ISNU-annya, effective working group bukan golongan rewel group, ditilik dari meriahnya acara dan antusiasme publik, orchestrasi organisasinya mengesankan,’’ ujar Emil. 

kusnin1643c9.jpg

Menurut Emil, Pemiihan Duta ISNU Jatim sebagai terobosan dakwah yang keren, dan ISNU Jatim bisa membaca peta dakwah dan industri kota besar masa kini. Pakaian dan make up-nya bisa menumbuhkan creative industry. 

Jurinya sangat profesional, independent dan penuh dedikasi sehingga titis (akurat) memilih yang terbaik. 

“Manfaat DUTA ISNU akan dirasakan kuat manakala bisa diterima di kalangan Islam kota dan millenial yang proporsi jumlahnya 30-35 persen penduduk,’’ kata Kang Emil yang sebelumnya juga pernah menjabat pengurus PCI NU Jepang itu.

Sementara itu Ketua PW ISNU Jawa Timur, Prof Mas’ud Said mengatakan, pemilihan Duta ISNU adalah bagian dari program proliferasi pengaderan ISNU dan sekaligus untuk memperluas wilayah dakwah bagi Banom Nahdlatul Ulama. Terutama kalangan intelektual dan milenial.

“Dalam karantina  anak-anak berbakat itu mendapat arahan pemahaman Aswaja dan juga komunikasi masa yang bagus untuk pengembangan diri dan jiwa kompetitif,’’ ungkapnya. 

Para peserta, lanjut Mas’ud,  sebagian besar adalah kader-kader muda profesional NU yang memiliki kelebihan alamiah berupa talenta, prestasi akademik, komunikasi masa yang bagus, dan jiwa competitiveness untuk bisa bersaing. 

"Selamat dan sukses untuk para juara,’’ tutup Mas’ud.

Zahrul Azhar atau yang lebih akrab dipanggil Gus Han, sebagai ketua panitia menyampaikan bahwa gelaran itu bertujuan mengenalkan ISNU dan Islam yang damai kepada masyarakat luas dan kaum milenial. “Kita gaet anak-anak muda sebagai ujung tombak mengenalkan ISNU dan Islam yang rahmatan lil alamiin,’’ ungkap putra KH As’ad Peterongan Jombang itu.

Sementara itu  Tsuroyya Adibah setelah terpilih sebagai juara umum DUTA ISNU Jatim 2019  mengaku kaget dan tidak menyangka kalau ia akan terpilih sebagai juara umum.

“Alhamdulillahirobbil alamin. Saya sempat tidak menyangka mengingat ajang ini adalah kompetisi pertama  mengikuti beauty pageant atau semacamnya. Tentu reaksi keluarga, teman, dan guru-guru sangat bahagia, terharu, dan bersyukur. Semuanya senantiasa memberikan support kepada saya secara ikhlas lahir dan batin,’’ ungkapnya berbinar-binar. 

Disinggung ikhtiar apa yang dilakukan sebelumnya? 

Ia mengatakan, awalnya temannya memberikan pamflet Duta ISNU 2019 dalam pesan WA (What'sApp). Ia mengaku  sempat pesimistis karena tidak pernah memiliki pengalaman apa pun untuk mengikuti ajang seperti ini. Namun, berkat dukungan, motivasi, dan doa dari orang-orang terdekat, terlebih lagi dari Bapak dan Ibu, hatinya terdorong untuk mengikuti ajang ini dengan niat mencari ridho Allah melalui ridho kedua orang tua. 

“Saya tidak belajar terlalu banyak, hanya mereview pemahaman saya saat duduk di  bangku sekolah mengenai paham Aswaja (Ahlussunnah wal jamaah) dan NU (Nahdlatul Ulama). Terlebih lagi saya bershalawat setiap saat agar diberikan kelancaran dan kemudahan saat mengikuti tahapan-tahapan pemilihan Duta ISNU,’’ kata gadis asal Singosari ini. 

“Alhamdulillah, ternyata ingatan saya masih kuat. Dan hanya perlu membaca sedikit-sedikit beberapa detail yang saya lupa. 

Intinya ada pada ridho orang tua, guru, percaya diri, dan memohon doa kepada Allah serta bershalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW,’’ tambahnya.

Di babak grandfinal, 8 peserta rata-rata menguasai saat dites membaca Al Quran, ke-NU-an, Aswaja dan NKRI. (*)

Pewarta : Imam Kusnin Ahmad
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda