The Power of Silaturahim

Definisi yang Cerdas: Komunikasi Sarang Laba Laba

Rombongan umroh the Power of Silaturahim (POS) II, April 2018. Sebanyak 38 jamaah diumrohkan Dr Aqua Dwipayana. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Saya sangat terkesan dengan tulisan Mas Budhiana yang di-share Dr Aqua Dwipayana di jejaring WA (WhatsApp). Judulnya: “Komunikasi Laba-Laba Aqua Dwipayana.”

Sungguh inilah definisi yang sangat tepat untuk menggambarkan kiprah Mas Aqua. Demikian saya biasa memanggil beliau. 

Cerdas sekali Mas Budhiana "merumuskannya.” Orang jadi langsung paham dengan dua kata itu: sarang laba-laba.

Jaringan silaturahim Mas Aqua dibangun dengan berjalan ke segala penjuru mata angin. Sehari bisa terbang ke berbagai kota baik di Indonesia maupun mancanegara. 

Hadir langsung menemui orang yang dituju. Seperti laba-laba yang harus berjalan berkeliling. Perlahan sambil mengeluarkan “liur benang suteranya.” Barulah terbentuk sarang laba-laba. Sebagai tempat hidup sekaligus mendapatkan makanannya.

Alami. Tanpa bantuan gadget. Tanpa aplikasi komunikasi apa pun! 

Bertatap Muka Langsung Jauh Lebih Efektif

Jaringan silaturahim itu harus dibangun dengan kehadiran langsung!

Benar sekali apa yang dituliskan Mas Budhiana: “Dan ini yang penting, di era digital ini kita bisa saja berkomunikasi melalui gadget. Tapi tak ada yang bisa mengalahkan komunikasi langsung. Kehadiran fisik itu jauh lebih efektif. Karena itu dia sangat mementingkan silaturahmi. Bahasa Sunda-nya : jauh dijugjug, anggang ditèang (Yang jauh dikunjungi, yang jarang bertemu juga didatangi).”

Silaturahim tak akan pernah terkalahkan di sepanjang zaman. Mau ada video call atau yang lebih canggih dari itu, tetap saja bertemu langsung, bertatap muka langsung, face to face jauh lebih efektif. Jauh lebih gayeng. 

aqua.jpg1.jpgDr Aqua Dwipayana dan Mayjen TNI Kurnia Dewantara, Dan Seskoad. (FOTO: istimewa)

Kita tentu merasa dihormati ketika seseorang menemui kita. Di rumah atau di mana saja. Dan karena spiritnya silaturahim, maka pertemuan yang terjadi bernuansa saling menghormati, saling menghargai, dan santun. Dari hati ke hati. Tulus.

Soal rahmat yang kemudian kita peroleh dari ALLAH SWT, itu memang janji ALLAH SWT. “Kita harus yakin itu,” tegas Mas Aqua berkali-kali.

Aqua Dwipayana bukan Jenderal. Bukan Laksamana. Bukan Marsekal. Bukan tokoh politik. Bukan pejabat BUMN. Bukan pengusaha besar. Tapi beliau ada di mana-mana. Dekat secara informal dengan para petinggi militer dan pengusaha besar itu. 

Suatu malam beliau menelepon seorang jenderal. Langsung diterima dan berbicara. Begitu gayeng. Guyon-guyon. Akrab.

Tanpa bendera perusahaan. Tanpa bendera politik. “Saya hanya menjadikan TUHAN sebagai satu-satunya atasan,” tandas Mas Aqua. 

Kuncinya Silaturahim, Selalu Menyalakan Potensi Peserta

Sejujurnya, sampai sekarang pun saya takjub. Koq bisa? Saya lantas menyimpulkan: ALLAH SWT telah menganugerahkan kelebihan yang tidak sembarang orang memperolehnya. 

Katakanlah beliau adalah seorang motivator papan atas. Tapi setahu saya, motivator papan atas yang punya jaringan seluas itu sangat langka.

Tak hanya dengan kalangan atas, dengan kalangan bawah pun beliau dekat. Tiada sekat suku, agama, ras, dan politik. 

Mungkin kita bisa mencontoh beliau. Membangun sarang  laba-laba silaturahim.  Tapi belum tentu dalam kurun 5 tahun sudah bisa membangun sarang laba-laba seluas dan setinggi itu. Inilah yang saya maksudkan dengan anugerah ALLAH SWT kepada pribadi Mas Aqua.

Dalam memotivasi audience, beliau selalu menyalakan potensi peserta. Misalnya yang dilakukan kepada para Amil Muda Rumah Amal Salman ITB itu. 

Direktur Rumah Amal Salman Kamal Muzaki dipatok target Rp 50 miliar. Maka Aqua pun memotivasi Kamal dan seluruh jajarannya.

“Lima puluh miliar? Kecil itu!” Ujar Aqua. Para Amil Muda tertegun.

“Kuncinya silaturahim,” tegas Aqua yang mantan wartawan ini.

Ketika memotivasi para dosen dan staf STIKOSA (Sekolah Tinggi Komunikasi Massa) Surabaya tahun lalu, seorang peserta berkata: “Kata tulus itu mudah diucapkan, tapi sulit dipraktekkan, Pak.”

Apa jawaban Mas Aqua? “Justeru kita harus mengatakan bahwa tulus itu mudah. Lakukanlah!”

Jadi, Mas Aqua menyalakan potensi setiap pihak yang didatangi untuk melakukan yang lebih hebat, untuk tujuan dan target positif. Bagi perusahaannya dan lingkungan hidupnya.

Maka, sarang laba-laba itu bisa disebut menyerupai “jaringan benang sutera kebajikan.” Yang tidak akan didapatkan melalui alat komunikasi secanggih apapun.

Garis tengah sarang laba-laba mungkin hanya satu sampai dua meter. Tapi, garis tengah sarang laba-laba silaturahim bisa ribuan bahkan puluhan ribu kilometer. Dahsyat!

Ketika kita menemui langsung seseorang, dan berkali-kali, maka tumbuhlah simpati dan kepercayaan. Kemudian banyak rahasia-rahasia pribadi, bahkan rahasia jabatan akan dicurhatkan kepada kita. Tentu saja kuncinya adalah amanah, kesantunan, dan saling menjaga. Hal-hal yang rahasia kita simpan rapat-rapat.

Maka, suatu ketika kita membutuhkan bantuan untuk menolong orang lain, sahabat kita itupun langsung memberikan bantuannya.

Karena itu, walau dalam skala yang lebih kecil, marilah kita rame-rame membangun “sarang laba-laba” kebajikan.(*)

Oleh: Slamet Oerip Prihadi​, Penulis adalah wartawan senior yang tinggal di Surabaya.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda