Penjajahan Ekonomi

Pelabuhan Mombasa, Kenya. (FOTO: CruiseMapper)

COWASJP.COM – Di awal masa penjajahan Belanda, mereka menggunakan perusahaan VOC. Modus ekonomi namun melakukan monopoli yang pada akhirnya menancapkan kekuasaan.

Di era modern ini, China juga melakukan ekspansi ekonomi. Kalau Belanda menggunakan VOC yang didukung kekuatan militer, China menerapkan taktik menebar utang.

Pada akhirnya tetap sama, menguasai lawan setelah dibuat tak berkutik. Proses berbeda, pada akhirnya mirip. VOC mengikat lawan dengan kekuatan bersenjata, China modern menjerat leher dengan utang.

Kasus terbaru di Kenya merupakan bentuk kekuasaan China. Pelabuhan Mombasa akan jatuh ke tangan Beijing bila negara Afrika itu tak mampu membayar utang.

 Hal serupa juga terjadi di Sri Lanka, Zimbabwe, Nigeria, Pakistan, Turki, Kyrgystan hingga negara Pasifik seperti Nauru dan Papua Nugini. 

lamade.jpgFOTO: nation.co.ke

Zimbabwe memiliki kasus yang mengenaskan. Karena tak mampu membayar utang yang jatuh tempo akhir 2015. Untuk kompensasi penghapusan utang, sejak Januari 2016 negara tersebut mengganti mata uangnya dengan Yuan China. 

Jeratan utang itu juga melanda Asia Tenggara. Laos dan Kamboja  termasuk 7 negara penghutang utama ke China. Malaysia yang mulai terjerat sudah memperingati negara lain agar hati hati dengan pinjaman Beijing.

Indonesia juga berhutang ke China. Menurut DetikFinance, per Agustus 2019 tercatat  USD 16,99 miliar. Bila dikonversi rupiah utang dari China itu sekitar Rp 239,5 triliun (kurs Rp 14.100).

Dilaporkan Tempo.co (24/6/2019) yang mengutip Fitch Solutions, nilai proyek infrastruktur yang dibangun China di Indonesia USD 93 miliar, terbesar di antara negara Asia Tenggara (36 persen). 

taufik.jpg.jpgKenya membutuhkan pelabuhan kelas dunia: Mombasa. (FOTO: worldbank.org)

Di antara proyek yang digarap China yakni : Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung. Menurut Kompas.com (7/8/2019) proyek ini digarap KCIC (Kereta Api Cepat Indonesia China). Dengan dana pinjaman dari China Development Bank.

Walaupun utang luar negeri secara keseluruhan dianggap masih dalam rasio batas aman (29 persen PDB), namun Indonesia perlu hati-hati. Sebagai pemberi utang China masih di bawah Singapura atau Jepang. Tapi pengalaman sejumlah negara yang tak mampu membayar utang harus melepas asetnya ke China, harus jadi pelajaran.

Tentu kita tak ingin kehilangan pelabuhan seperti Kenya atau Sri Lanka. Juga tak ingin mata uang kita Yuan seperti Zimbabwe. (*)

Oleh: Taufik Lamade, wartawan senior di Surabaya.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda