Sang Begawan Media

Durian Baret

Seorang warga memuat buah durian Punggur ke bak mobil untuk dijual ke kota usai panen di Desa Punggur Kecil, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Sabtu 15/5/2021. (FOTO: ANTARA/Jessica Helena Wuysang - republika.co.id)

COWASJP.COM – ​DUA MINGGU ini lidah seperti dimanja: ketika ke Jambi lagi awal musim durian di sana. Ketika ke Pontianak juga awal musim durian Punggur. Mungkin saya juga harus  ke Bangka. Ditunggu durian Tupaikong di sana. Satu pohon lagi penuh dengan durian. Ratusan buah. Itu pohon durian berumur 101 tahun –tahun lalu disebut 100 tahun.

Di Pontianak saya pun diajak berkampanye politik durian. Temanya: selamatkan durian lokal. Rupanya pohon durian lagi terancam: oleh perumahan dan perkebunan sawit.

Saya pun mengulang-ulang jargon baru saya: durian lokal itu beda rasa enak semua. Itu untuk menandai perubahan pandangan saya pada durian musangking: enak semua tapi rasanya sama.

Durian lokal Pontianak harus diselamatkan. Dengan cara banyak memakannya. Jangan sampai seperti di Jawa. Durian lokalnya tidak terjaga.

Dalam perjalanan udara ke Pontianak kali ini, saya bertemu teman baru: Dede. Pengusaha muda. Ganteng. Asli Pontianak. Ia bertanya: ada acara apa kok saya ke Pontianak. 

Saya jawab singkat: ingin makan durian! Itulah jawaban kelas sapu jagat. Dede langsung terbius dengan kata ''makan durian''. Saya pun selamat: tidak harus menceritakan apa saja agenda saya di Kalbar.

"Pas. Sekarang lagi musim durian Punggur," katanya. "Makan durian dengan saya saja. Saya sediakan sebanyak Pak Dahlan kuat memakannya," tambahnya.

Alhamdulilah. Puji Tuhan. Amitofo. Rahayu. Nikmat yang mana lagi yang masih harus saya dustakan.

Durian Punggur adalah durian dari kecamatan Punggur. Lokasinya sekitar 15 km di Tenggara Pontianak. Mulai banyak yang tanam sawit di sana. Di mana-mana terjaga durian Punggur. Murah sekali: tidak sampai Rp 30.000/biji.

Waktu Wali Kota Pontianak dijabat Sutarmiji –sekarang gubernur Kalbar– harga durian Punggur pernah dilambungkan sampai Rp 50.000. Wali Kota Miji ngamuk. Kios-kios durian diperintahkan ditutup. Akhirnya harga kembali normal.

Saya seperti tidak sabar saja menunggu malam. Maka segala macam urusan saya selesaikan cepat: ngopi di A Siang, bubur ikan di A Heng, ngopi lagi di A Ming. Sampai pukul 14.00 masih juga dapat tawaran dari satu A ke A yang lain. Tapi saya putuskan tegas: stop. 

Tidak boleh lagi ada makanan masuk perut. Pun tidak mau diajak makan malam. Harus cukup ruang di perut ini untuk Punggur bersama Dede. Saya ingin tahu seberapa sukses usahanya –akan terlihat dari sebanyak apa durian yang mampu ia pesan. Saya ingin menguras dompetnya.

Sore itu saya tidak hanya tidak makan. Saya juga harus  mengosongkan perut dan energi. Maka pada pukul 16.00 saya melatih senam-dansa. Kuras tenaga. Yang saya latih: dua pelatih senam Pontianak. Tentu mereka mampu senam lebih hebat dari saya. Tapi ini senam dansa. Senam Disway. Beda. Mereka belum kenal gerakan senam Disway. 

Latihan itu diperlukan karena Selasa pagi saya diminta senam bersama masyarakat Tionghoa di mal seberang Golden Tulip. Sekaligus menandai berdirinya Disway Kalbar, yang dipimpin anak umur 25 tahun: Adhitya. Ia alumnus Universitas Profesor Surya.

Yang bikin saya grogi: seorang Kakanwil di Kalbar mau gabung di senam itu. Wanita. Cantik. Lima i. Modis: Andi Tenri Abeng.  

Apalagi si cantik akan mengerahkan pegawai BPN Kalbar untuk ikut sehat. Maka saya telepon Nicky dan Pipit –sahabat Perusuh Disway. Harus ke Pontianak. Ikut jadi pelatih. Cari pesawat apa saja. Lewat mana saja. Yang penting dalam 8 jam harus tiba di Pontianak.

Semua pesawat penuh. Yang lewat Jakarta penuh. Yang lewat Yogyakarta penuh. Yang lewat Solo penuh. Berarti saya sendiri yang akan jadi pelatih senam itu. Maka saya cari pelatih senam lokal yang bisa dijadikan korban. Ketemu. Dua wanita muda. Cantik semua. Mereka siap jadi korban. Mereka hanya minta dilatih dulu. Selama 1 jam. 

Gak masalah. 

Mereka cerdas-cerdas. 

Langsung bisa. 

Seorang pelatih senam memang bisa langsung menirukan gerakan baru seperti apa pun. Pun dengan hanya melirik gerak kaki saya sesapuan. Mereka langsung tahu akan ke mana gerak berikutnya. Apalagi dirangsang dengan irama lagu yang ngebit: Xiao Ping Guo, Nehi Nehi, Mati Lampu, Kereta Malam, Twist Again, dan lain-lain.

Ternyata Pipit bisa tiba di Pontianak. Ia nyanggong di bandara menunggu ada penumpang yang batal ke Pontianak.

Senam pun semarak. Satu jam penuh. Setelah itu mereka saling  minta foto bersama dengan Kakanwil. Sesi foto itu rasanya lebih lama dari senamnya. 

BPN memang lagi mengenalkan seragam baru: baret hitam. Baret itu sebagai pengganti peci miring. Menteri Pertanahan dan Agraria yang baru ingin membuat seluruh pegawai BPN lebih sigap. Sang menteri memang jenderal bintang empat: Hadi Tjahjanto. Dengan seragam baru itu semua pegawai juga harus apel lagi. Tiga kali seminggu: Senin, Selasa, Rabu. 

Karena masih baru, banyak pegawai yang kurang pas dalam mengenakan baret hitamnya. Kakanwil Andi Tenri Abeng keliling ke barisan apel: membetulkan posisi baret yang masih kurang presisi. "Lain kali waktu memakai baret sambil becermin ya," pintanyi.

Urusan pertanahan kelihatannya memerlukan pegawai yang semakin sigap. Tidak boleh ada pegawai miring seperti topi yang lama. Urusan pertanahan terlalu ruwet. Peci sebenarnya boleh miring tapi hukum tanah harus tegak. Kini topi pun tidak boleh miring. Selamanya. Sudah diganti baret. Siapa tahu baret hitam itu bisa meresap sampai ke dalam kepala: tegas, disiplin, tidak luntur, enak dilihat –terutama karena kinerja barunya. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan
Edisi 18 Juli 2023: Gak Patheken

No Name

Kalimat "Gak Patheken" yg diucapkan Pak Harto jelang lengser 1998 itu berasal dari Cak Nun saat beliau menemui tokoh2 reformis waktu itu (minus Pak Amien Rais). Btw, kalo Abah sempat jenguk Cak Nun, mohon sampaikan salam dari kami Jamaah Disway, semoga beliau lekas sembuh. Salam hormat dari Lombok ( Iqbal)

Denny Herbert

Konsep rumah sakit pemerintah di Bali yg akan bekerjasama dengan Mayo Klinik (Lembaga kesehatan dan Pendidikan dr nomor wahid dunia) sangat jenius. Jadi lebih baik mendatangkan dr asing dan warga bisa berobat berkelas international daripada ribuan mungkin jutaan pasien ke LN kadang hanya untuk urusan medical check up aja(bukan berobat). Jadi perlulah UU untuk mengatur itu semua. Demi memperbaiki layanan kesehatan masyarakat. Covid membuka mata kita betapa buruknya layanan kesehatan kita.. kita tidak siap. Semoga dengan UU ini dapat memperbaiki layanan kesehatan kita walau ada yg harus dicopot 'kekuasaannya'. Saya pikir apa yg ditulis oleh drg Irawan dari California sangat bagus dicontoh, banyak hal bagus perlu ditiru bila membawa manfaat lebih baik. Selamat om Irawan atas turunnya berat badannya. Banyak dokter juga saya perhatikan tidak memperhatikan kesehatannya sendiri.. ironi.

Mukidi Teguh

Siap, yang paling pas sebagai penulis side satunya lagi adalah ketua IDI dr. Adib Dwitamma Putra, dan saya kira Abah punya nomor WA Beliau.

Agus Suryono

Kalau gak bisa LOGIN. Padahal pingin KOMEN. Nah, itulah PATHEKEN SEJATI.. ###Getem-getem pingin komen, tapi gak bisa.. Padahal para perusuh udah "manas-manasi", dengan "menyebut" namanya..

Agus Suryono

YANG "GAK PATHEKEN" DAN YANG "PATHEKEN".. 
1). Siapa yang sekarang "gak patheken"..? Kalau baca CHD, yang bagian tulisan pak drg. Irawan, yang "gak patheken" adalah para dokter. Maksudnya, gak usah jadi anggota IDI juga gak masalah. Malah enak. Gak usah bayar iuran tahunan. Gak usah minta "persetujuan" IDI jika mau ikut pendidikan spesialis. Dan bagi dokter lulusan luar negeri, juga "tidak ruwet" lagi urusannya.. 
2). Nah kalau yang "patheken" siapa..? Kalau itu pertanyaannya, mungkin salah satu yang "patheken" adalah IDI. Karena "senjatanya" telah "dipreteli". 
3). Tapi dalam kaitannya dengan terbitnya UU Kesehatan yang baru, butir 1) dan 2) di atas, baru menyangkut satu hal yang "sempit" terkait peran IDI dalam hubungannya dengan pembinaan kompetensi dokter. Khusus dalam hal 1) dan 2) di atas, cukup banyak pihak yang setuju dengan UU Kesehatan yang baru. 4). Namun masih ada hal lain dari pengaturan UU Kesehatan yang baru, yang masih menjadi pertanyaan masyarakat. Salah satunya adalah "peran rumah sakit", dalam kaitannya dengan "dokter", dan dengan IDI, serta "nanti" dampaknya terhadap "masyarakat". ###Kita masih perlu diskusi dan bicara tentang hal itu. Mungkin drg. Irawan juga masih perlu menulis, tentang hal itu di "sana".

ACEP YULIUS HAMDANI

Saya yakin dengan seyakin-yakinnya, Dokter yang baik tetap akan ada dan sangat banyak, baik ada IDI maupun tidak ada, pelayanan kepada masyarakat tetap akan sangat baik, seiring meningkatnya rasa kemanusiaan dan profesionalisme dokter. tidak bisa dipungkiri dengan di "efisien"kan kewenangan IDI, ada banyak yang merasa dipereteli wibawanya, kehormatannya, harga dirinya bahkan mungkin pendapatannya, tapi saya yakin banyak juga dokter yang tidak begitu perlu dengan IDI, selama kewarasan dokter sesuai dengan kode etiknya , tidak jadi agen obat terselubung, maka masyarakat pemerlu layanan kesehatan tetap akan di" manusia" kan dan diberikan layanan yang terbaik juga obat yang terbaik dan terjangkau....

rid kc

Setuju banget dengan tulisan diatas. Udahlah IDI legowo aja wong memang IDI itu ormas bukan apa-apa. Yqng berhak mengeluarkan ijin praktek itu ya pemerintah bukan IDI. Fakultas kedokteran pun yang kasih ijin ya pemerintah bukan IDI. Ada tetangga yang anaknya mau melanjutkan sekolah kedokteran spesialis ternyata harus minta rekom sana-sini dan rekom itu tidak gratis bisa menghabiskan ratusan juta padahal belum sekolah makanya kualitas dokter spesialis di negara ini dipertanyakan karena harus keluar biaya banyak untuk menjadi spesialis padahal kemampuannya belum tentu mumpuni. UU Kesehatan yang baru ini sudah bagus. 

Liam Then

Kalo dibalik di pertanyakan ; "mengontrol" sekian lama, ternyata kualitasnya masih begitu saja. Bisa Pak Pry? Pak Pry anti terhadap UU baru dnegan prasangka kontrol terhadap kualitas kedokteran di masa depan akan menurun, padahal kan belum terjadi. Sedangkan yang sudah terjadi, selama ini dikontrol oleh IDI, kualitas kedokteran masih seperti yang Pak Pry ceritakan. Dengan adanya UU kesehatan baru ini, ada harapan status quo bisa berubah, kita masih belum tahu apa-apa yang bisa terjadi, bisa positif, bisa biasa saja, atau bisa memburuk, kemungkinan semuanya masih terbuka. Tapi misal UU kesehatan baru ini tidak disahkan, status quo tetap akan berlaku, kualitas "kontrol" peluangnya kurang lebih akan sama, karena pelakunya sama, sistemnya sama, tak berubah, seperti cerita diagnosa darah kental Pak Pry. UU kesehatan baru bukan harga mati, revisi dan pembaruan, dan perbaikan masih mungkin bisa terjadi. Tapi jika kita terpaku pada status quo, kondisi mengenaskan antrean masyarakat kecil yang sedang sakit di RSUD daerah tidak ada harapan berubah. Karena pakemnya akan sama tetap pakai yang lama. Mau sampai kapan? Harap hati nurani IDI terketuk? Apakah ndak kelamaan Pak Pry? 

Sogia Manom

Romo DIS ini prejudice dng orang berbadan Gemuk, padahal orang Gemuk ciri ciri penghuni Surga, karena ALQURAN menyebut, Penghuni Neraka di beri Makanan yg Tidak menggemukan

Er Gham

Pemerintah bangun rumah sakit modern. Supaya orang kaya tidak berobat ke luar negeri. Sudah pasti tidak bisa untuk pengguna BPJS. Pemerintah mengira orang yang berobat ke luar negeri hanyalah orang kaya. Justru sebagian orang Sumatera yang berobat ke Penang karena ongkos transportasi dan biaya pengobatannya bisa jauh lebih murah, dibandingkan harus berobat ke rumah sakit terbaik di pulau Jawa. Atau orang Pontianak yang lebih baik berobat ke Kuching, daripada ke Jakarta. Pemerintah bisa mengarahkan agar rakyatnya liburan saja ke dalam negeri, untuk hemat devisa dan membangun ekonomi dalam negeri. Tapi pilihan berobat ke tempat yang dirasa lebih baik menyangkut nyawa. Masyarakat harus dibebaskan untuk berobat kemana pun. Mosok dilarang. Pisahkan mindset wisata dan berobat. Wisata itu, kalo harus di dalam negeri 'tak patheken', beda dengan berobat. 

Mirza Mirwan

Yang saya ingat, dulu itu Pak DI menulis Drg. Irawan tinggal di Arcadia. Tetapi dalam tulisan Drg. Irawan di atas ada tertulis "San Gabriel Dental Society." Apakah beliau sekarang pindah ke San Gabriel? Atau apakah tinggal di Arcadia tetapi klinik giginya di San Gabriel? Kemungkinannya yang terakhir itu. Toh Arcadia dan San Gabriel tetanggaan. Dan klinik Drg. Irawan mungkin tidak jauh dari Minh Nghia Restaurant -- ingat saya ejaannya Mien Nghia. Itu resto Vietnam. Penduduk San Gabriel, seperti juga Arcadia, San Marino, Alhambra, Monterray Park, dan beberapa incorporated lain di Los Angeles County memang mayoritas etnis Asia, terutama Vietnam dan Jepang. Kalau manteman ke beberapa incorporated tadi Anda akan lebih banyak ketemu wajah Asia ketimbang bule. Sayangnya saya bukan tokoh. Jadi kalau kapan-kapan ke LA gak bisa nginap di rumah Drg. Irawan kayak Pak DI. Tapi gak papa ding. Saya punya teman di Alhambra, sebelah barat San Gabriel. Dalam hal pendapat Drg. Irawan yang membenarkan pelucutan wewenang IDI, saya sependapat. Wewenang pengawasan dokter yang memberi pelayanan kesehatan diserahkan ke Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).

Er Gham

Dengan UU terbaru ini, semoga kualitas obat BPJS dan non BPJS tidak dibedakan. Ini sudah bukan lagi rahasia umum. Silakan Anda tanya sendiri ke para nakes dan apoteker. Seolah olah, para pengguna BPJS dibiarkan mati perlahan lahan, dengan obat yang murah dan tidak paten. Jangan sampai ada kesan, "Biarkan saja para pasien miskin itu mati perlahan lahan. Hanya menjadi beban negara." Jika itu memang yang terjadi, menurut saya itu sudah merupakan KEJAHATAN. Negara seharusnya melindungi seluruh rakyatnya. Tidak dibeda bedakan. Semoga tidak ada visi dan kesengajaan untuk memberikan obat 'ala kadarnya' kepada pasien BPJS untuk menghemat kas negara. 

iwan

Kita belum tau ekosistem kesehatan setelah UU baru ini, tapi kita sudah lihat ekosistem kesehatan yang lama dengan IDI nya. Tidak ada salah nya kita nanti kan bersama apakah hasilnya sesuai dengan harapan kita? Jadi jangan apriori dan kontra dulu.

Johannes Kitono

Ada yang menarik cerita tentang profesi dokter gigi. Demi tambah ilmu teman drg belajar implan ke Jepang. Dengan harapan dapat pasien Jepang di Jakarta yang tebal kantongnya.Ini saja belum cukup. Tempat prakteknya digang kecil dipindah ke Menteng. Dibeli dengan tabungan warisan ortunya. Itu namanya investasi dan para pasien harus tahu diri dengan tarif drg daerah Menteng. Unit modern dipasang yang harganya hanya terjangkau oleh pasien sugih. Rambut yang botak mulai dicangkok.Ibu ibu muda risih kalau dipegang drg yang kepalanya botak. Isteri dan 3 anak semuanya drg. Ini namanya membentuk dinasti dan diskusi dimeja makan juga tentang gigi. Kalau semuanya jadi anggota dan pengurus PDGI. Silahkan tebak apa jadinya. Ada lagi drg yang sudah 3 generasi.Generasi pertama justru sukses jadi pelatih sepakbola. Generasi kedua jadi drg biasa biasa saja. Unitnya sudah jadul dan cuma pintar bersihkan karang gigi saja.Nah drg ketiga tidak fokus. Terkadang ingin jadi pelatih seperti opanya. Dan akhirnya menjadi pelatih aquarobic saja. Secara ekonomi drg yang mau tambah ilmu lebih mapan. Ketika baru lulus drg masih pakai baju promosi bir bintang.Saat kawinkan anak di hotel Mulia, habiskan dana seharga Ferrari. Kiatnya kalau drg mau sukses harus tambah ilmu dan bergaul dengan teman yang bisa motivasi.

Mirza Mirwan

Ini di luar topik. Dalam acara "Sunday Morning Futures" Fox News, Donald Trump bilang bahwa ia bisa menghentikan Perang Rusia-Ukraina hanya dalam satu hari. Alasannya, Trump kenal dekat dengan Zelenskyy dan Putin. " Saya akan bilang ke Zelenskyy: 'Sudah Cukup. Sampeyan harus membuat kesepakatan (untuk berdamai)'. Kepada Putin saya akan bilang: 'Kalau sampeyan tak mau membuat kesepakatan (damai), kami akan memberi sejumlah (persenjataan) kepada Zelenskyy. Kami akan memberi (persenjataan kepada Ukraina) lebih banyak ketimbang yang telah mereka peroleh, bila itu harus (dilakukan)'. Saya akan melakukan kesepakatan itu hanya dalam satu hari. Satu hari!" kata Trump. Tremendous, memang. Tetapi kalau November 2024 nanti Trump menang -- dengan catatan lebih dulu memenangi primary di GOP -- dan perang masih berlangsung, belum tentu Trump bisa mewujudkan ucapannya. Dan rasanya juga mustahil. Beberapa jam setelah Trump obral abab di Fox News itu...blaaar!....blaaar! Jembatan Kerch yang menghubungkan semenanjung Krimea dan Rusia diserang drone Ukraine. Oktober tahun lalu jembatan sepanjang 19 km di Selat Kerch yang menghabiskan dana US$3,7 miliar (setara Rp55,5 triliun) itu baru saja diserang Ukraina. Putin marah besar. Ia langsung menarik diri dari kesepakatan gandum dan biji-bijian yang dirintis Turkiye dulu itu. Alamat bakal krisis gandum lagi. Bukan itu saja, Putin nuga bersumpah untuk membalas serangan itu dengan "quite inhumane retaliation". Nah, tuh!

Pryadi Satriana

Dokter itu PROFESI. IDI itu asosiasi profesi. Untuk menjaga marwah dokter. Agar dokter yg praktik memenuhi standar profesi dokter. Ribuan dokter lulusan fakultas kedokteran tidak bisa praktik krn tidak lulus uji kompetensi dokter. IDI mempersulit mereka? Tidak. Kompetensi mereka yg tidak lulus memang di bawah standar. Kompetensi dokter jg perlu diuji scr berkala. Krn perkembangan dunia kedokteran sangat pesat. Fakultas2 kedokteran perlu berbenah. Kurikulum mereka perlu menyesuaikan dg kisi2 materi uji kompetensi dokter. Bisa juga ada penyetaraan. Pada fakultas2 kedokteran dg akreditasi unggul, mahasiswa yg lulus dg nilai A utk mata2 kuliah yg "sama atau berdekatan" dg yg diujikan pada uji kompetensi dokter, maka tidak perlu lg ikut uji kompetensi dokter. Silakan "belajar" pada Ikatan Aktuaris Indonesia (IAI). Untuk lulusan S1 prodi Aktuaria, ada 4 (empat) dari 10 (sepuluh) materi uji kompetensi profesi Aktuaris yg bisa disetarakan dg aturan & prosedur tertentu. Kalau dg yg ada saja masih saja banyak keluhan akan kualitas dokter, apalagi jika tidak ada kontrol dari asosiasi profesi (IDI). Yg lalu -- menurut saya -- cuma perlu dibenahi, tidak perlu dirombak. Fak kedokteran "memproduksi" dokter, IDI mengontrol, membina, dan mengembangkan kualitas dokter melalui uji kompetensi, seminar, simposium dsb., sedangkan pemerintah berfungsi sebagai regulator. Kalau semuanya "diborong" Kemenkes, asosiasi profesi hanya sekadar formalitas belaka, hampir2 ndhak ada gunanya. Salam. Rahayu.

doni wj

Hahahah.. jadi inget teman sekelas saya di SMA. Orang tuanya yg dokter sampai harus nyogok anaknya: kalau si anak bersedia masuk kedokteran diberi uang Rp 50 juta. Gara2 kakak2nya tidak ada yg mau memilih profesi kedokteran. Saat itu Toyota Land Cruiser yg sekarang 2,5 miliaran masih seharga 135 juta. Kijang masih 30 juta. Untunglah masih "selamat". Melalui pendidikan kedokteran umum hingga spesialis dg normal. Nggak kebayang kalo saya yg terbujuk oleh guru saya untuk masuk kedokteran. Hanya gara2 nilai praktikum dan biologi bisa2nya terbaik di angkatan yg seperenamnya dokter. Memang seringkali terjadi, antara minat dan kemampuan itu tidak sejalan.

Liáng - βιολί ζήτα

Mengenai dunia medis, setiap negara mempunyai institusi dan sistemnya masing-masing, seperti di negara-negara Eropa, Amerika dan negara-negara lainnya ; tentu saja dengan tujuan akhir keteraturan dan kemanfaatan layanan medis yang maksimal dan berkualitas. Misalnya saja negara tetangga kita : Singapura, dimana banyak warga Indonesia yang berobat ke sana ; di Singapura ada "Singapore Medical Council". Singapore Medical Council atau Dewan Medis Singapura, yang berada di bawah Kementerian Kesehatan Singapura, bukan hanya mengatur Praktisi Medis dalam hal Perilaku Profesional dan Etika Praktisi Medis, tetapi juga mengelola The Compulsory Continuing Medical Education (Program Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan). Belum tentu suatu sistem dalam hal ini yang menyangkut dunia medis - yang sudah berjalan sangat baik di negara lain - begitu diadopsi oleh Indonesia - lantas kondisi dunia medis di Indonesia akan sebaik negara tersebut - terlalu banyak faktor pembeda antara kondisi Indonesia dengan negara tersebut.

Leong Putu

Punya kenalan orang Seminyak / 
Gadis Bali cantik parasnya / 
Bolehlah punya uang banyak / 
Tak punya nyali apa gunanya /
 .... #Kek P Bos

imau compo

Jelas jumelas. Kemarin, saya masih kurang jelas membaca posisi UU kesehatan yg baru bila dinilai dari kaca mata aliran ekonomi makronya. Dari CHD hari ini, dari kesederhanaan UU ini, menjadi jelas bahwa pelayanan kesehatan kita ini membawa pelayanan kesehatan kita kepada industri pelayanan kesehatan yg liberal dan pasar bebas. Nilai-nilai utamanya adalah bisnis dan efisiensi. Tentu saja teman-teman perusuh tidak keberatan dengan nilai-nilai yg dikemas manis ini. Mari saya perlihatkan sisi lain dari liberal ini. Jojo dan Luna menikah dengan adat jawa kemarin di PIK menghabiskan biaya 200-an juta rupiah. Gak mahal kok ...... kalau dibandingkan dengan Bli LP yg menikahkan adiknya. Tapi... Jojo dan Luna adalah dua ekor anjing. Wk.. 

Mukidi Teguh

UU Kesehatan sudah terlanjut ketuk palu. Kalaupun diajukan pengujian di MK kecil kemungkinan dibatalkan. Dari sisi profesional kesehatan, mungkin sepertinya ya sudahlah. Tinggal menyesuaikan diri saja. Dari segi IDI juga bisa bilang, rekom IDI ga dibutuhkan juga "ndhak pateken". Saya yakin, di IDI ga ada kepentingan berbau duit seputar rekomendasi tersebut. Berulang kali saya minta rekomendasi dari IDI, ga pernah bayar sepeserpun. Iuran IDI pun ada yang bayar, ada yang ga bayar, tanpa ada debt collector yang nagih. Dan bisa saja UU Kesehatan ini akan ada penyesuaian jika dalam pelaksanaannya ada kekurangan. UUD 45 aja 4 kali diamandemen dalam waktu berdekatan. Peraturan BPJS juga banyak mengalami perubahan jika dibandingkan dokumen awalnya. Bagi profesional kesehatan, apapun situasinya, kesejahteraan pasien menjadi salah satu yang utama.

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : Disway.id

Komentar Anda