Aliansi Turki-Pakistan-Malaysia Anti Hoax

Dari kiri: PM Pakistan Imran Khan, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan PM Malaysia Datuk Mahathir Muhammad. (FOTO: trtworld.com)

COWASJP.COM – Aliansi antarnergara saat ini tak hanya kerjasama militer. Bukan lagi hanya membangun kekuatan tentara dengan senjata mematikan.

Tiga negara berpenduduk Islam mayoritas, Turki, Pakistan dan Malaysia kini bersekutu di bidang media. Mereka bekerjasama membangun stasiun televisi bersama untuk memerangi isu Islamphobia.

Mereka sadar isu anti-Islam harus dilawan dengan komunikasi yang benar. Ketiganya akan berada di garis depan melawan tuduhan yang mengidentikkan Islam sebagai teroris.

Ini adalah cara yang benar melawan hoax. Lawan kebohongan. Karena kebohongan yang terus menerus disiarkan atau diberitakan akan dianggap sebagai kebenaran. Sebelum hoax dianggap benar, aliansi ini akan mencegatnya, dengan cara mengklarifikasi sebenarnya. 

TAUFIK1.jpgTrio: Erdogan - Khan - Mahathir. (FOTO: arynews.tv)

Sudah tak terhitung kali kebohongan menghancurkan dunia. Tahun 2003, Amerika membangun tuduhan Iraq menyimpan senjata pemusnah massal. Isu tersebut terus menerus disebar. Sehingga saat Amerika menyerang Iraq dengan semboyan "Operation Iraqi Freedom" sebagian besar dunia mendukungnya. Iraq luluh lantak, ternyata isu adanya penyimpanan senjata pemusnah massal adalah hoax. Iraq hancur. Apa tanggung jawab Amerika?

Dalam komunikasi, ada istilah teori Jarum Suntik : apa yang disebar media akan mempengaruhi manusia dalam berpikir, bersikap dan bertindak. Perang Amerika vs Spanyol, 1898, didorong berita koran yang menyebut Kapal Perang Meine, milik AS telah ditenggelamkan Spanyol. Berita hoax itu membuat negara berperang.

Hoax sebelum mempengaruhi cara berpikir manusia harus dibalas dengan kebenaran sesungguhnya. 

Gerakan anti-hoax aliansi Turki, Pakistan dan Malaysia ini adalah jalan yang benar di tengah hoax yang menipu dunia. Harus ada negara yang berani, walaupun berisiko berhadapan dengan negara Islamphobia penyebar hoax.

Tugas negara memang harus mengklarifikasi hoax, bukan bagian dari penyebar dan menciptakan hoax. (*)

Oleh: Taufik Lamade, mantan Redpel Jawa Pos.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda