Ketika Macan Minta Jadi Kucing

Foto: pexels.com/pixabay, dan Istimewa

COWASJP.COM – Siap jadi oposisi sendirian. Itu sudah sering dikatakan para petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).  Setelah menyaksikan beberapa perkembangan terakhir. Terutama, jika Prabowo dengan Gerindranya benar-benar merapat ke koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin. 

Tapi pernyataan yang satu ini beda. Pernyataan Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid. Yang  mengaku heran dengan sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sudah menang, katanya, kok masih berusaha menarik-narik seluruh partai untuk bergabung dengan koalisinya. 

Menurut salah satu Wakil Ketua MPR itu, sikap Jokowi itu aneh. Sebab beda dengan periode pertama pemerintahannya. Waktu itu, kemenangan mantan Walikota Solo itu tidak sebesar yang sekarang. Meski demikian, dia kelihatan lebih percaya diri. Merasa cukup dengan dukungan hanya dari partai-partai yang mengusungnya. 

“Ini agak aneh,” ungkap Hidayat, ketika bicara dengan awak media di Kompleks Parlemen di Senayan, Jakarta, Senin (14/10/2019).  “Tahun 2014, Pak Jokowi hanya menang sekitar 6 persen. Enggak pakai narik-narik, sudah jalan terus. Sekarang menang sekitar 10 persen, kenapa harus narik-narik (partai) yang lain?”

Di luar kongkalingkong para elit politik menyongsong upacara pelantikan Presiden-Wakil Presiden 20 Oktober mendatang – termasuk kasak-kusuk yang mewarnai  penyusunan anggota kabinet kerja jilid II – jagad politik tanah air diwarnai begitu banyak kejadian istimewa. Ada yang mengharu biru. Membikin jengkel. Membuat miris. Menyebabkan banyak darah tertumpah. Menetesnya airmata anak bangsa. Bahkan melahirkan suasana yang sangat mencekam. 

Kita mencatat, kerusuhan massal di Wamena,  Senin (23/09/2019), adalah kejadian yang tak mungkin terlupakan oleh sebagian anak bangsa. Terutama para korban maupun keluarga korban pembantaian biadab itu. Yang dikampak kepalanya sampai terbelah. Yang dibacok beramai-ramai dengan parang, dengan tombak dan senjata tajam lainnya. Yang ditembak dengan anak panah beracun. Bahkan yang diperkosa dan dibakar hidup-hidup.

Kita tak habis pikir, tentunya. Di era kemerdekaan ini, masih ada warga bangsa yang menghadapi perlakuan lebih sadis dari pada binatang. Kenapa pihak keamanan tidak berhasil mengantisipasi, sehingga kejadian keji seperti itu dapat dihindari? Kenapa pemerintah tidak cepat tanggap, melakukan gerak cepat agar korban tidak bertambah banyak dan kaum pengungsi menyesaki banyak tempat? 

Masih dalam suasana berduka menyaksikan para korban pembantaian dipulangkan ke daerah asalnya dalam peti jenazah, sebuah peristiwa memalukan ditayangkan sebuah jaringan televisi nasional, Rabu (09/10/2019). Ketika politisi PDI-P Arteria Dahlan berdebat dengan Prof. Dr. Emil Salim. Ketika dia menunjuk-nunjuk cendekiawan senior berusia 89 tahun, yang telah banyak membaktikan hidupnya buat negara ini. Dan dia bahkan menyebut Emil Salim sesat. 

 Para netizen geram melihat kejadian itu. Arteria dianggap tidak beradab. Tidak tahu sopan santun dan tata krama dalam memperlakukan seseorang warga senior yang dihormati banyak kalangan. Akibatnya, terjadi aksi pembulian yang begitu luas. Mencaci maki dan menyerang anggota dewan yang sejatinya adalah warga terhormat itu. Apalagi mantan pengacara itu tidak memperlihatkan itikad baik. Memenuhi seruan banyak pihak agar dia minta maaf kepada Prof. Emil Salim. 

Meskipun topik seputar perlakuan Arteria terhadap Prof. Emil Salim masih ramai diperbincangkan publik, sebuah peristiwa besar terjadi satu hari kemudian. Tepatnya, Kamis (10/10/2019). Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto jadi korban penusukan oleh dua orang tak dikenal. Seusai dia memberikan pembekalan kepada mahasiswa di Universitas Mathlaul Anwar Banten, Pandeglang, Kamis (10/10/2019), sekitar pukul 11.50 WIB. Wiranto disebut terluka cukup parah. Sehingga harus menjalani operasi. 

*

Peristiwa-peristiwa itu menyesaki isi pemberitaan media dalam beberapa hari belakangan ini. Tanpa harus menyatakan setuju atau tidak setuju, mendukung atau tidak mendukung, kita mencatat, negara ini menghadapi begitu banyak masalah. Yang mencuat ke permukaan tanpa dapat dihindari. 

Padahal, itu belum termasuk banyak masalah lain. Seperti persoalan ekonomi. Masalah pengangguran dan grudugan Tenaga Kerja Asing (TKA) dari Cina. Penegakan hukum yang tajam ke bawah, tumpul ke atas. Krisis keuangan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Revisi sejumlah undang-undang oleh para anggota dewan di ujung masa kedinasannya. Hal-hal yang kemudian direspon dengan aksi-aksi unjuk rasa mahasiswa. Yang mengakibatkan jatuhnya korban luka-luka dan meninggal dunia. Dan banyak masalah lain yang tidak dapat dituntaskan di era pemerintahan periode pertama Jokowi. 

Beberapa waktu lalu, di media Cowas JP ini, saya menulis sebuah artikel berjudul: “Jangan Jadikan Prabowo sebagai Berhala”. Di mata saya, anak bangsa ini terpecah belah luar biasa akibat perseteruan dalam memilih pada Pilpres yang baru lalu. Yang melahirkan kubu cebong dan kampret. Yang saling serang. Saling jelek menjelekkan. Apalagi Pilpres itu juga diwarnai tudingan curang yang Tersruktur, Sistematis dan Massif (TSM). 

Tiba-tiba Prabowo mengadakan pertemuan dengan Jokowi di dalam gerbong MRT. Yang membuat kubu pendukungnya terpecah jadi dua. Antara yang mendukung dan yang menolak pertemuan itu. 

Mereka yang menolak menganggap pertemuan itu sebagai suatu tindakan pengkhianatan. Terutama terhadap mereka yang mati-matian ingin mengganti presiden. Tepatnya, ingin menjadikan Prabowo sebagai presiden. Setelah berjuang dengan menggunakan tagar #gantipresiden. Yaitu para  pendukung ijtima’ ulama dan emak-emak garis keras. Yang kecewa berat melihat pertemuan Jokowi – Prabowo itu. 

Sementara yang mendukung pertemuan itu mengatakan, Prabowo sedang memainkan strategi jitu. Katakanlah, untuk menyerang ke kandang lawan. Sebagai seorang mantan Danjen Kopassus, tentunya dia memiliki segudang strategi untuk mempecundangi lawan. Karena itu, bahkan ada yang mengartikan keputusan Prabowo menemui Jokowi sama dengan keputusan Rasulullah Muhammad SAW., saat menerima butir-butir perjanjian Hudaibiyah. Luar biasa. Keputusan untuk mengalah. Tapi demi kemenangan di masa depan. Satu tahun sebelum Fathu Makkah. 

 Kemarin, hari Minggu (13/10/2019), ada berita yang tidak kalah menarik. Rocky Gerung, filsuf dan intelektual publik Indonesia, siap-siap mengkritik Prabowo. Untuk itu, dia akan melakukan road show untuk mengajak para “kampret” bergabung dalam barisan oposisi terhadap Prabowo Subianto.

Ungkapan Rocky Gerung ini sesuatu yang biasa-biasa saja sejatinya. Tetapi bila diteliti lebih dalam, apa yang diungkapkan Rocky Gerung memiliki makna yang dalam. Pasalnya, setelah bertemu Prabowo, Jokowi kelihatan melempar senyum sumringah di berbagai tempat. Terkesan begitu percaya diri. Padahal sebelumnya, terkesan kurang percaya diri. Lantaran tudingan curang yang TSM itu. Yang membuat dirinya terkesan tidak cukup lejitimate. 

Belakangan publik makin terperangah. Kebingungan melihat manuver-manuver Prabowo ke kubu lawan. Sebab kemudian Prabowo juga bertemu dengan Megawati. Yang oleh sebagian orang dianggap membuat “meriang” tiga jenderal kuat di sekitar Jokowi. Begitu juga kubu Surya Paloh yang belakangan terkesan tidak diacuhkan Megawati. Tapi tiba-tiba Prabowo juga bertandang ke rumah Paloh. 

Apakah dengan demikian Prabowo telah berhasil memporakporandakan persatuan dan kesatuan di kubu Jokowi? Lalu dengan demikian, dia dapat mengendalikan Jokowi suka-suka hatinya? Tampaknya, terlalu jauh berpikir dan berharap seperti itu. Melihat beberapa perkembangan yang ada, apakah justru tidak lebih terkesan Prabowo minta jatah di kabinet kerja Jokowi Jilid II? Seperti mengemis-ngemis. Meminta restu kepada Jokowi, lalu kepada Megawati dan kemudian Surya Paloh. 

Beberapa petinggi Partai Gerindra juga mengemukakan hal senada. Bahwa kesediaan Prabowo merapat kepada Jokowi adalah demi kepentingan bangsa yang lebih besar. Persoalannya, apakah dengan masuk ke dalam kabinet Jokowi justru akan membuat cita-cita yang diperjuangkan selama ini makin tenggelam? Bukankah langkah itu seperti macan yang minta jadi kucing? 

Padahal, dengan bertindak sebagai oposisi yang konsisten dan persisten, justru cita-cita perubahan yang diperjuangkan akan lebih tampak ke permukaan. Akan mendapatkan dukungan paling tidak dari 68 juta pemilih Prabowo dalam Pilpres lalu. Karena berada di luar pemerintahan, Prabowo akan mampu menjadi kekuatan penyeimbang. Dapat bertindak sebagai check and balances tepat sasaran. Sehingga pengawasan terhadap kebijakan pemerintah dapat dilakukan lebih baik. Itu baru dapat dikatakan: Demi kepentingan bangsa yang lebih besar. 

Barangkali kita tak perlu mendahului Tuhan. Tapi perjalanan waktu akan membuktikannya. Di dalam kabinet, dia belum tentu akan jadi apa-apa. Sementara para pendukungnya selama ini sudah banyak yang hengkang. Kaum ulama, terutama presidium alumni 212, emak-emak garis keras, dan lain-lain. Kecewa melihat manuver-manuver yang tidak perlu. Tapi di luar kabinet, orang masih akan memandangnya. Akan didukung oleh mereka yang kini kecewa melihat keadaan. Dan tetap menginginkan Prabowo seperti macan. Bukan seperti kucing yang minta-minta daging sisa. Padahal tidak sedikit kucing-kucing di sarang lawan memberenguti.

Padahal kita masih berharap Prabowo tetap jadi macan seperti selama ini. (*) 

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda