Hubungan Kasus Bronkopneumonia dengan Kejang Demam

COWASJP.COM – Beberapa waktu yang lalu saya mengajar di kelas D4 Kebidanan. Bahasan kami adalah tentang kasus-kasus penyakit yang menyerang anak anak. 

Ada beberapa kasus yang seringkali bikin jantungan keluarga baru yang anaknya masih unyu-unyu. Betapa stressnya seorang ibu menghadapi anaknya yang sakit. Apalagi jika terkait dengan panas badan dan kejang-kejang. 

Seorang anak yang sakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) seringkali diagnosanya ke arah Pneumonia. ISPA adalah infeksi yang terjadi pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri. 

BACA JUGA: Alat Kontrasepsi untuk Perempuan Penderita Diabetes​

Seperti diketahui bahwa saluran napas terdiri dari saluran napas atas dan saluran napas bawah. Saluran napas atas atas adalah saluran napas yang paling sering bersentuhan dengan berbagai polusi dari luar tubuh. Sehingga di saat cuaca kurang baik dan daya tahan tubuh sedang dalam kondisi menurun, maka seorang anak menjadi sangat mudah terkena infeksi khususnya ISPA. 

ISPA yang tidak terobati dengan baik akan menjalar ke bawah, yaitu ke paru-paru. Salah satu kasusnya adalah kejadian Bronkopneumonia yang terjadi saat penyakit ISPA tidak tertangani dengan baik. 

BACA JUGA: Janin dan Campak Jerman​

Pneumonia merupakan infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru. Gejala yang timbul biasanya mendadak, tetapi dapat didahului dengan infeksi saluran napas akut bagian atas. Bronkopneumonia adalah salah satu jenis pneumonia yang gejalanya antara lain batuk, sesak, kebiruan di sekitar mulut, menggigil, nyeri dada dan demam. Demam pada pasien pneumonia merupakan demam tinggi yang biasanya lebih dari 39° C dan terus menerus. 

Saat demam tinggi terjadi pada pasien pneumonia, ada suatu proses dan kejadian di dalam tubuh penderita, yaitu adanya peningkatan kemampuan sel dalam meloloskan zat. Dalam hal ini yang diloloskan adalah ion natrium. 

BACA JUGA: Jejak Pecinta Budaya Nusantara di Jember​

Proses ini merupakan efek dari peningkatan suhu di dalam tubuh. Ion natrium seharusnya tidak masuk ke dalam otak dalam jumlah yang terlalu banyak, karena di dalam tubuh manusia semua ada batasannya. 

Jika ion natrium masuk ke intrasel otak terlalu banyak di luar kapasitas yang seharusnya, maka akan menyebabkan tertariknya air di dalam otak, sehingga dengan sendirinya sel-sel membengkak. Kandungan air yang terlalu banyak yang menyebabkan pembengkakan yang terlalu besar di dalam sel. Hal inilah yang menjadikan membran sel menjadi rantas dan menjadi pecah. 

BACA JUGA: Harapan Pecinta Kebaya Blitar

"Jika pecah, maka otak akan mengalami keterkejutan karena perubahan yang mendadak. Pecahnya sel ini menyebabkan otak penderita mengalami kekurangan natrium atau disebut hiponatriemi. Kondisi inilah yang menyebabkan aliran listrik di otak mengalami gangguan, dan gangguan ini menyebabkan terjadinya kejang pada penderita."Demam tinggi pada pneumonia ini menyebabkan kejang atau biasa di sebut kejang demam. 

Akhirnya pertanyaan adik-adik bidan terjawab, mengapa pneumonia seringkali diiringi dengan kejang demam. Ke depannya berharap bahwa bidan bisa memberikan edukasi kepada ibu-ibu yang ada di sekitar tempat tinggalnya. 

Jika ibu-ibu muda mengerti tentang informasi ini, maka kekhawatiran akan sedikit berkurang dan lebih tenang saat mengatasi segala sesuatu yang terjadi di saat anak-anak mereka sedang sakit. Membawa anak ke Dokter atau Rumah Sakit adalah prioritas utama saat anak kita mengalami sakit penyakit. 

Memutuskan bertindak sedini mungkin akan menyelamatkan nyawa generasi kita. Salam. (ern@)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda