PON XX di Papua 2020

Erlangga Satriagung Berharap Jumlah Cabor Diumumkan Tahun Depan

COWASJP.COM – Ketua Umum KONI Jawa Timur Ir Erlangga Satriagung berharap agar keputusan jumlah cabang olahraga (cabor) yang akan dipertandingkan di PON 2020 tak perlu tergesa-tergesa. 

"Saya bahkan berharap keputusannya diumumkan tahun depan atau satu bulan sebelum penyelenggaraan PON," kata Erlangga di Kantor KONI Jatim, Selasa 24/9 siang.

Hal itu berkaitan dengan psikologis para atlet yang telah digembleng dalam Pusat Latihan Daerah (Puslatda) di masing-masing provinsi. 

Di Jatim misalnya. Puslatda sudah berlangsung sejak tahun lalu. Seandainya sepuluh cabor dicoret dan tidak dipertandingkan, maka ada ratusan atlet yang terdegradasi. 

Selama ikut Puslatda para atlet mendapatkan uang pembinaan dan bisa mengikuti kejuaraan-kejuaraan lokal, nasional dan internasional.

 "Seandainya diumumkan bulan depan (Oktober 2019), tentu KONI akan menghentikan keikutsertaan mereka di Puslatda. Ini menyangkut pada pembinaan di satu sisi dan kesejahteraan atlet di sisi yang lain," ujar Erlangga.

10 CABOR BAKAL DICORET

 Seperti sudah diberitakan, Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua 9 -  21 September 2020 diperkirakan hanya akan mempertandingkan maksimum 37 cabor (cabang olahraga) saja. 

Jumlah tersebut merupakan hasil rasionalisasi yang dilakukan oleh pihak Kemenpora, Pemprov Papua sebagai tuan rumah, dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat.

Jumlah tersebut sesuai dengan arahan Presiden dalam Rapat Kabinet Terbatas baru-baru ini.

 Bahwa cabor yang akan dipertandingkan di PON XX maksimum 37 cabor dari rencana semula 47 cabor. 
Sepuluh cabor akan dicoret.

Jumlah maksimum tersebut, menurut Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot S. Dewa Broto, belum disetujui oleh pihak tuan rumah, yakni Pemprov Papua. Namun, dia mengaku pihaknya sudah memberikan matriks kepada Papua untuk kemudian dibahas secara internal. 

Pertemuan untuk itu sudah dilakukan. Cabor apa saja yang dirasionalisasi, belum bisa disebutkan. 

"Kami buat matriks, ada beberapa kriteria. Pertama cabornya apa saja, apakah cabor Olimpiade atau non Olimpiade. Kemudian, mana saja cabang yang sudah melakukan babak kualifikasi PON. Lalu, kolom matriks selanjutnya, cabang apa saja yang sudah ada venuenya. Terakhir, sebagai tuan rumah pasti ingin meraih emas sebanyak-banyaknya. Jadi cabor unggulan mereka apa saja. Terakhir, ada pertimbangan lain," katanya.

Susunan cabor PON yang sudah disisir, menurut Gatot, sudah diserahkan kepada Plt Kadispora Papua Alexander K.Y. Kapisa kemarin. Papua diminta untuk melakukan rapat internal terlebih dahulu, dan meminta agar cabor yang dipilih Papua nanti tidak semata-mata karena masalah teknis.

pon1.jpgAnggota DPR Papua Ireneus Liku Bolly di antara logo dan maskot PON XX Papua 2020. Diluncurkan Gubernur Papua Lukas Enembe, di Kantor DPR Papua, Kamis (1/08/2019). (FOTO: kompas.com)

Papua juga harus mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengan kondisi pskologisnya. Karena dengan rasionalisasi ini, kita hanya akan menggunakan tiga cluster, yakni Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura, dan Timika. 

Ini bukan perkara mudah, karena kita tahu sebelumnya dengan 47 cabor menggunakan lima cluster. Meliputi 9 kabupaten/kota. 

10 cabor yang mungkin dicoret:

1. Bermotor. 

2. Bridge.

3. Catur.

4. Kriket.

5. Dansa.

6. Gateball.

7. Pentaque.

8. Selam (kolam & laut).

9. Ski air.

10. Woodball. 

Gatot tidak menampik rencana penyesuaian cabor tersebut dipaparkan oleh pihak KONI pada rapat tersebut. Namun, dirinya tidak mengiyakan bahwa ke-10 cabor tersebut yang menjadi bagian dari matriks yang diberikan kepada Papua untuk kemudian dibahas secara internal.

Bagaimana bila nanti muncul resistensi dari pihak cabor? 
"Hal itu wajar karena memang kebijakan publik tidak selamanya memuaskan semua pihak," jawab Gatot.

"Bahwa nanti akan ada like or dislike, itu merupakan hasil Keputusan Sidang Kabinet. Tentu kita tidak bisa menyenangkan semua pihak. Tapi, saya tahu, bahwa Papua dari dulu memang keinginannya tidak sampai 47 cabor. Kami mohon kelegowoan (kelapangan dada) dari pihak cabang-cabang olahraga. Ini demi kepentingan nasional, jangan menahan ego masing-masing." 

Sejauh ini, pihaknya belum melakukan komunikasi dengan cabor-cabor. Mengapa? Sekarang belum fixed cabor apa saja yang akan dipertandingkan. Belum ditandatangani oleh Menpora dan belum dilaporkan ke Presiden. (*)

Pewarta : Yamin Ahmad
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda