HUT Ke-10 Bale Seni Condroradono

Kembalikan Imej Jathilan, Pentas di Njeron Beteng

Jathilan Asmorojati persembahan Bale Seni Condroradono saat tampil di Festival Panji Internasional 2018 di Pagelaran Keraton Jogja.

COWASJP.COM – Orang mengenal jathilan sebagai kesenian rakyat yang pemainnya mesti kesurupan. Lalu makan beling (pecahan kaca). Jathilan pun dimainkan seharian di lapangan dengan dilengkapi sesaji. Dan saat penarinya bermain, harus didampingi dukun. Ndadi (kesurupan), dukun dan sesaji menjadi hal yang tidak terpisahkan dengan jathilan.

Imej atau citra seperti itu yang ingin diubah oleh Kuswarsantyo dan Bale Seni Condroradono (BSC). Bale Seni yang diresmikan Sultan Hamengku Buwono X ini, berusia 10 tahun pada 2019. Nah, menyemarakkan HUT ke-10, BSC bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kota Jogja menggelar Pentas Seni Kawasan Jeron Beteng.

Yang menarik, pentas seni Kawasan Njeron Beteng ini menampilkan sejumlah tari jathilan. Namun, Jathilan Anak-Anak dengan lakon “Raden Patah” karya Kuswarsantyo, digarap secara relijius. Kuswarsantyo yang dikenal sebagai ‘Doktor Jathilan’ karena disertasinya tentang jathilan menegaskan bahwa jathilan tidak harus identik dengan ndadi (kesurupan).

“Jathilan juga tidak perlu pakai sesaji. Kami ingin mengembalikan imej (citra) jathilan. Jathilan itu tidak musyrik. Jathilan sebenarnya sarana edukasi dan syiar agama Islam. Seperti Tari Jathilan Anak-anak Raden Patah ini. Ide untuk menciptakannya muncul karena ingin jathilan sebagai edukasi nilai reliji,” tegas dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini.

Jathilan Raden Patah menceritakan perjalanan tokoh Kerajaan Pajang melakukan syiar agama Islam. Dengan pasukan santrinya mereka melakukan syiar. Di perjalanan dihadang segerombolan begal brandal yang dapat mereka kalahkan. Dan akhirnya, perjalanan syiar itu dapat berjalan lancar atas ridho Allah SWT.

Selain jathilan anak-anak, ditampilkan pula jathilan dewasa yakni Tari Srimpen Turangga Manis. Tarian ini jalan ceritanya jathilan tapi divisualisasikan dalam bentuk tari klasik, Serimpi. Dibawakan oleh lima puteri. Tarian ini merupakan dekonstruksi format jathilan. “Jathilan yang kita kenal dengan irama cepat, kali ini kita buat lembut gemulai dalam format Srimpen. Kami padukan format jathilan dengan tari klasik. Dan itulah dinamika,” tandas Kuswarsantyo.

Jathilan juga identik dengan kuda kepang. Dalam Tari Srimpen Turangga Manis ini, para penari pun membawa kuda kepang. Namun, kuda kepang yang dibawa, ukurannya kecil. Kuda kepangnya tidak dinaiki tetapi hanya dipakai untuk ‘aksesoris’ tari.

Mengenai berbagai tari jathilan yang dimainkan di kawasan Njeron Beteng alias di kawasan dalam Keraton Jogja ini, Kuswarsantyo punya tujuan khusus. Selain sebagai upaya mengembalikan imej jathilan yang tidak pakai sesaji dan tidak ndadi, Kuswarsantyo ingin menaikkan level jathilan. “Kami, Bale Seni Condroradono ingin jathilan naik kelas. Tidak dimainkan di jalanan, melainkan di panggung. Tidak di bawah melainkan di tempat lebih tinggi,” ungkapnya.

Dan usaha tersebut sudah menampakkan hasilnya. Jathilan versi Bale Seni Condrodarono ini pernah pentas di Pagelaran Keraton Jogja. Jathilan Asmorojati, produk Bale Seni Condroradono ini, bermain di Pagelaran Keraton Jogja dalam Festival Panji Internasional 2018 lalu. Kuswarsantyo dengan bangga menunjukkan foto saat anak didiknya bermain di festival ini.

Kuswarsantyo menjelaskan fokus utama BSC memang memberikan apresiasi kepada anak-anak  tentang nilai-nilai pendidikan karakter yang ada dalam seni tradisi.  Hal tersebut dilakukan melalui aktivitas latihan rutin tiap Jumat pukul 16.00-19.00 WIB. Bale Seni Condroradono juga merupakan wadah untuk Kajian Seni Budaya bagi masyarakat/komunitas seni secara terbuka. “Monggo kalau mau berbincang seni tradisi silakan rawuh (datang) ke BSC,” katanya mengundang.

Nah, momentum ulang tahun ke-10 Bale Seni Condroradono tak hanya diisi dengan seremoni. Sebagai wadah pelestari seni budaya tradisi, BSC ingin berkontribusi menghidupkan kawasan wisata Jeron Beteng. Maka digelarlah pentas seni ini. Pentas berupa tari-tarian tersebut digelar di Panggung Terbuka Plaza Ngasem. Berlangsung Sabtu (28/9) mulai pukul 19.30 WIB.

Sebanyak tujuh (7) tarian disiapkan untuk pementasan selama 1,5 jam ini. Selain tarian bernafas jathilan tadi, ada tarian masterpiece karya KRT Condroradono (R. Soenartomo) yakni Tari Klana Raja atau Klana Topeng. Tari ini karya yang diciptakan tahun 1972. Tari yang menggambarkan seorang Raja sedang jatuh cinta. Waktu itu diciptakan untuk materi lomba tari Hardiknas di DIY.

Ada pula tarian yang khusus diciptakan untuk acara ini. “Kami akan membawakan Tari Sekar Puja Nirmala. Tarian ini diciptakan khusus untuk mahargya (menyambut, Red) HUT kesepuluh Bale Seni Condroradono tahun 2019 ini. Sekar artinya bunga, puja adalah permohonan dan nirmala adalah tanpa halangan. Jadi, tari ini dipersembahkan sebagai ungkapan doa pada Sang Pencipta agar semua berjalan lancar dan selamat sesuai tujuannya,” ujar Pimpinan Artistik BSC Dr Kuswarsantyo M Hum yang mencipta tarian ini.

Kepada media, Kuswarsanyo juga mengatakan, pentas di Plaza Ngasem itu juga akan ditampilkan Tari Kenya Turangga Muda, karyanya. Koreografi pendek ini diciptakan dalam rangka meraih rekor MURI ‘Njathil bersama Rektor UNY’ pada 2 Mei 2019 lalu. Waktu itu, tarian ini dipentaskan oleh siswa Bale Seni Condroradono.

Kemudian juga akan ditampilkan Tari Golek Nawung Asmara karya KRT Sasmintadipura. Tari ini sangat populer di kalangan masyarakat karena sering ditampilkan sebagai welcome dance. “Karya Romo Sas (panggilan akrab KRT Sasmintadipura) ini dapat ditarsirkan tidak hanya untuk menggambarkan gerak-gerik remaja putri, namun merupakan gambaran ungkapan rasa syukur dan harapan ke depan agar lebih baik,” urai Kuswarsantyo. (erwan)

 

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda