Stroke....... ! 3 (Habis)

Tusuk jarum di tempat praktek Sinshe. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Memang, tidak seperti harapan saya. Kebas atau kesemutannya tidak bisa 100 persen hilang. Hanya berkurang sekitar 20 persen. Tapi terus terang efek obatnya sungguh membuat "teler". Setiap hari satu jam setelah minum  kapsul alpentin itu, saya sudah membayangkan empuknya kasur dan bantal. Tak ayal. Setiap hari saya bisa tidur siang sampai empat jam. Bahkan setiap hari, mulai jam 09.00 sampai jam 13.00 saya sudah mimpi menyanyi bareng Yuni Sara. Atau syuting sinetron bersama Luna Maya. Awal-awal asyik juga.

Selanjutnya saya semakin merasa terbelenggu. Bayangkan kalau malam jam 20.00 sudah sliyat-sliyut. Sebentar saja sudah mimpi makan siang bareng Raisa. Wou...

 memalukan. Ketika tetangga masih nonton hasil seleksi calon pimpinan KPK di layar tv, saya sudah ngorok. 

Begitulah. Sebulan minum obat, hasilnya tidak sesuai dengan "pengorbanan" saya. Rasa kebas cuma berkurang sedikit. Ngantuknya nggak ketulungan.

Pokoknya masalah tidur ini hampir setiap hari jadi topik pembicaraan kami sekeluarga. Karena itu ketika bulan pertama telah saya tuntaskan, maka saya yang didampingi istri sepakat melapor ke dokter Yohanes soal efek obat itu.

Sementara sambil menunggu dipanggil, terngiang-ngiang ucapan dokter yang pertama memeriksa saya. Stroke ringan ... Stroke... stroke.

"Ayo..melamun apa. Jangan panik..jangan gelisah..Hendraal kok gak bisa tenang gitu," celetuk istri saya.

"Hem..Hendraal..," gumam saya. 

Sungguh, di kalangan Cowas JP, Konco Lawas Jawa Pos, saya punya panggilan akrab.  Hendral. Saya sendiri tidak tahu dari mana asal usul nama itu.

Tapi yang pasti, di grup mantan wartawan/karyawan Jawa Pos ini juga telah beredar bahwa Hendraal sakit. Kena stroke. Nah...lu!

Akh...sudahlah. Perawat pun telah memanggil nama saya. Tiba gilirannya saya mengutarakan efek alpentin ke dokter. 

Ngantuk luar biasa ... perut sering nggak enak.Tapi dokter yang setiap hari harus melayani puluhan pasien itu mengatakan, pasien lainnya tidak ada yang mengeluh soal efek ngantuk dan lainnya. "Bapak yang sensitif dan obatnya ya itu," katanya. Saya pun tidak membantah. Karena setiap orang berbeda-beda. Saya menyerah. Harus kembali minum kapsul yang saya benci itu selama sebulan lagi. Ngantuk lagi. Perut kembung lagi.

Tapi bagaimana lagi. Ingin sembuh. Meski terpaksa setiap hari ..

setiap jam 20.00 sudah mimpi lagi. Ketemu Luna Maya lagi. Hem....

Tak pelak lagi, menjelang bulan ketiga, saya putuskan untuk periksa dokter lain. Siapa tahu obatnya diganti. Saya pun langsung ke Rumah Sakit Islam di Jalan A.Yani Surabaya.

koesnan1.jpg

Dr. Dyah Yuniati Sp.S.

Tapi harus ke dokter siapa? Maka istri saya mendaftar ke konter penerimaan pasien. Nah, dari itu kami diberi tahu bahwa sore ini yang praktek Dr. Dyah Yuniati Sp.S. Dokter spesialis saraf yang masih berusia 43 tahun.

Seusai membayar kami pun langsung ke ruang praktek dengan  membawa data saya.

Tak lama Dr. Dyah datang, kemudian langsung memeriksa saya. Seperti dokter yang terdahulu. Saya pun di tes untuk menggenggam. Angkat tangan, merunduk seperti posisi rukuk. Dr.Dyah nyeletuk: Pensiunan ABRI ya? 

"Bukan," jawab saya." 

"Usia 75 tahun masih gagah. Nggak apa apa. Kalau memang obatnya bikin ngantuk luar biasa ya dihentikan saja. Saya kasih vitamin saja," ujar dokter yang menyambut ramah pasiennya ini.

Tak cuma itu, seperti standar awal pemeriksaan. Apalagi kalau bukan tensi. Alhamdulillah tetap 130 per 80.

Setelah basa basi sebentar, saya pun pulang.

Tapi seminggu kemudian, saya kembali gelisah. Apa saya cukup minum vitamin saja? Lantas apa obatnya yang pas?

Saya jadi teringat kata Dr. JBW Bowo, dokter spesialis penyakit dalam,  bahwa penyebab bukan hanya tensi tinggi saja. "Tapi juga karena kolesterol atau kadar gula tinggi juga asam urat," ujar Dr.Bowo pada saya ketika itu. 

Tapi yang jelas semua indikasi itu tak ada pada saya. Hasil tensi dan lab. Semuanya normal. 

Kegelisahan saya, untuk sementara  terjawab. Seorang teman menyarankan coba ke Sinshe akupuntur di kawasan utara Surabaya. Katanya: "Menantu saya juga stroke. Setelah opname empat hari. Langsung ke Sinshe. Sekarang aktivitasnya kembali normal.

Mendengar cerita teman itu, saya pun esoknya berangkat ke tempat praktek sang Sinshe. Ternyata, Pak Sinshe tidak praktek sendiri. Dia dibantu istri dan anak perempuan. Semuanya Sinshe tusuk jarum.

Mula mula dengan semangat saya ceritakan masalah kesehatan saya. Saya kemudian ditensi. Lepas baju. Dan cus .. cus. lengan dan kaki kanan saya ditusuk jarum. Cuma itu? Belum. Masih perlu dihubungkan dengan alat yang bisa bergetar. Begitulah, selama 20 hari alias lima kali bolak balik ke praktek tiga Sinshe itu. 

Belum lagi tiap hari minum herbal atau jamunya Sang Sinshe. Terus terang, setelah lima kali kembali saya tersadar. Kok kesemutannya tidak berkurang. Kemudian saya bertanya, kira kira berapa kali saya bisa sembuh? Inilah jawaban salah satu Sinshe ini sungguh bisa bikin tensi naik. Bisa bikin wajah jadi pucat. Bayangkan! Katanya. Kira kira 30 kali tusuk jarum lagi. Masalahnya, kata Sinshe, saya sudah tua. "Kalau orang muda 20 kali sembuh," kata Sinshe dengan wajah dingin.

Setelah mendengar jawaban itu, hari itu juga saya putuskan tidak kembali lagi ke Sinshe. Good Bye...Sinshe. 

Karena saya perlu berhitung. Sekali datang Rp.400.000 plus obat. Lha..kalau 30 datang. Tentu Rp 12 juta. Lagi pula siapa yang menjamin bisa sembuh? Siapa...?

Alhasil, saya dan istri teringat Dr. Subiantoro Halim, dokter yang berhasil mendiagnosa istri saya ada batu di empedunya.

Sungguh sore itu dokter yang ramah itu meyakinkan saya bukan terserang stroke ringan. Jawaban tegas dokter yang setiap hari praktek itu dilakukan setelah memeriksa saya dengan berbagai metode. Dan kembali diketahui saraf saya ketarik. Akibat dari tulang punggung yang bengkok.

Saya pun disuntik dan tidak lupa dibekali obat relaksasi otot dan pengencer darah. Hasilnya? Tentu saja belum. Baru dua hari. Tiga hari lagi harus kembali. Dievaluasi lagi. 

Meski begitu pernyataan Dr. Subiantoro Halim sudah merupakan obat. Saya tidak stroke...! Saya tidak Stroke.....!(*)

Oleh: Koesnan Soekandar, wartawan senior di Surabaya.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda