Nobar di Cafe J Surabaya

Kiamat Dini

Suasana nobar Indonesia vs Thailand di Cafe J. (FOTO: CoWas JP)

COWASJP.COM – Kiamat dini! Dua kata itulah yang meletup spontan. Ketika penulis bersama beberapa Sedulur Cowasers (para mantan karyawan Jawa Pos Group) nonton bareng (nobar) duel Indonesia versus Thailand, Selasa 10 September 2019 malam lalu. Indonesia dihajar  0 – 3 oleh tamunya Thailand.

Kami nobar di Cafe J. Jalan Karah 9 Surabaya, Tak jauh dari markas besar Jawa Pos (JP) di Jalan Karah Agung (1989-1997) dulu. Cafe itu masih baru di-launching. Milik Cowaser: Sujarwo. Mantan karyawan Temprina (salah satu Grup JP).

Bangunan dua lantai. Kami nobar di lantai 2. Belum ada layar lebarnya. Tapi, nggak masalah.  Yang penting merasakan suasana nonton bareng di cafe milik sesama Cowaser. 

“Kalau asyik nobar sepakbola, nanti saya lengkapi dengan proyektor dan layar lebar. Agar lebih gayeng. Mungkin untuk event Champions League atau Euro 2020,” kata sang pemilik, Sujarwo.  

Lantai 2 Cafe J muat 50 orang. Malam itu kami nobar juga bersama sekitar 30 teman Sujarwo. Mereka alumni SMA Trimurti Surabaya. Lulusan tahun 1980-an. Rame juga. Ada dua televisi di situ.

Cafenya lumayan asyik. Harga makanan dan minumannya juga relatif murah.

Kembali ke pertandingan Indonesia versus Thailand. 

Sangat menyedihkan. Timnas Indonesia kalah beruntun dalam dua laga awal kualifikasi Piala Dunia 2022 Grup G Zona AFC.

Memang di putaran 2 kualifikasi Zona AFC, setiap tim mendapat kesempatan 8 kali bertanding. Namun, karena angka keramat lolos ke putaran 3 adalah 17 poin, maka Timnas Indonesia pun tertimpa “kiamat”dini.  Baru melakoni dua laga, peluang lolos praktis tertutup sudah. 

(Baca: Dua Tahap Mencapai Qatar 2022)

Kalkulasinya?

1.Indonesia belum memperoleh poin dalam dua laga awal. Laga menentukan. Apalagi dua laga awal tersebut di kandang sendri. Laga pertama kalah 2 – 3 oleh Malaysia. Laga ke-2 kalah 0 – 3 oleh Thailand. 

2.Indonesia masih memiliki 6 sisa laga. Tapi, bisakah Indonesia menyapu bersih 18 poin? Memenangkan seluruh (6) sisa laga? Rasanya mustahil. Butuh keajaiban luar biasa.

Bagaimana kalau dalam 6 sisa laga Indonesia sukses membukukan 5 kemenangan + 1 seri? Berarti total 16 poin. Berarti kita berharap angka keramat turun, dari 17 poin ke 16 poin. Ini pun rasanya tidak mungkin jika melihat performa tim seperti dua laga awal.

suhu1.jpgSebagian alumni SMA Trimurti Surabaya yang ikut nobar. (FOTO: CoWas JP)

Sudah banyak ulasan tentang performa Timnas Indonesia dalam dua laga tersebut. Fans Indonesia pun mendesak #Gantipelatih. Kalah dengan permainan penuh semangat, ngeyel, menampilkan permainan dari kaki ke kaki yang apik. mungkin masih bisa ditoleransi.  

Gugatan pun menghunjam. Di mana letak nilai lebih pelatih asing? Bandingkan dengan pelatih Anatoli Polosin yang sukses mengantar Indonesia merebut medali emas SEA Games 1991. 

Bandingkan dengan pelatih lokal Almarhum Berce Matulapelwa yang sukes membawa Timnas Indonesia menembus semifinal Asian Games 1986.

Di penyishan Grup C, Indonesia (runner-up,3 poin) mendampingi Arab Saudi (juara grup,6 poin). Waktu itu menang masih dinilai 2 poin, dan seri 1 poin. Indonesia menyingkirkan Qatar dan Malaysia.

Di babak knock out (8 Besar), 1 Oktober 1986, Indonesia mengalahkan Uni Emirat Arab (UEA) lewat adu penalti. Perpanjangan waktu skor 2 – 2. Adu penalti Indonesia unggul4 – 3.

Di semifinal, Indonesia kalah 0 – 4 oleh Korea Selatan (Korsel).

Di final, Korsel juara setelah mengalahkan Arab Saudi 2 – 0.

INDONESIA TOP 4 Asian Games 1986!  

Karena itu, tak heran pula jika mantan kiper nasional Herman Syah menuliskan status di facebook: Di mana nilai lebih pemain naturalisasi? Kehadiran pemain naturalisasi “membonzai” pembinaan pemain Indonesia. Meredupkan semangat ribuan sekolah sepakbola di Nusantara.

Herman Syah menulis singkat:

Sudah saatnya Stop

Naturalisasi....Akan

Menghambat pembinaan sepakbola Indonesia!!!

suhu2.jpgHerman Syah ketika masih menjadi kiper utama PSSI Garuda I dulu. (FOTO: Facebook)

Dengan berat hati, kita meletupkan kata: kiamat dini. 

Di atas kertas, kemungkinan besar 4 Timnas AFF (ASEAN Football Federation): Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam hanya memperebutkan satu tiket runner-up terbaik. Diprediksikan, yang paling berpeluang merebut tahta juara adalah Timnas Uni Emirat Arab (UEA).

KLASEMEN GRUP G

1(3).Thailand  2 1 1 0 3-0  4

2(4).UEA  1 1 0 0 2-1  3

3(1).Malaysia  2 1 0 1 4-4  3

4(2).Vietnam  1 0 1 0 0-0  1

5.Indonesia  2 0 0 2 2-6  0

suhu3.jpgHerman Syah sekarang bersama isteri tercinta. (FOTO: Facebook)

JADWAL LAGA INDONESIA

5 September 2019 

Indonesia 2- 3 Malaysia

10 September 2019

Indonesia 0-3 Thailand

10 Oktober 2019

UEA v Indonesia

15 Oktober 2019

Indonesia v Vietnam

19 November 2019

Malaysia v Indonesia

26 Maret 2020

Thailand v Indonesia

31 Maret 2020

Indonesia v UEA

4 Juni 2020

Vietnam v Indonesia

Sumber: Soccerway.

Apapun yang terjadi, Indonesia harus semakin baik. Walau, 6 laga sisa hanya formalitas. Kita tak perlu lagi mencari kambing hitamnya. Saling menyalahkan. 

Sebab, koreksi total harus secepatnya digelar. Apa langkah sistematis yang dirumuskan dan segera dijalankan? PSSI harus menjadi panglimanya. Kemenpora yang menjanjikan road map wajib mendukung total. 

Inilah permohonan para pecinta sepakbola Indonesia. Semua kendala di lapangan perlu diinventarisasikan. Mulai dari hulu (tingkat SSB) sampai hilir (Timnas kelompok umur sampai senior).

Sekarang juga. Karena inilah program mendesak reformasi sepakbola Indonesia. Kita tunggu, (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda