Hadiah PEDAL dan Sate Jeruji

PEDAL dan sate jeruji alias sate klathak itu.

COWASJP.COMSAYA termasuk orang yang beruntung. Tinggal jauh dari Tofan, tapi tak dilupakan. Ketika ia menerbitkan buku, dan sukses terjual 1.000 eksemplar dalam seminggu,  lalu cetak ulang lagi, saya pun 'dijatah'. Dicatat sebagai salah satu orang yang akan dikirim bukunya. 

Dan itu dibuktikannya. "Mas Erwan, tanggal 30-31 (Agustus) di Jogja?" tulisnya lewat pesan WA. "Izin menghadap." 

Begitu gaya khasnya. Dan salah satu sosok sukses selepas dari Jawa Pos ini pun benar-benar ke Jogja. Mengemban tugas sebagai narasumber "Kampanye Sawit untuk Milenial." Di sela acara itu, Tofan mengajak bertemu. Membagi buku untuk saya dan dua Konco Lawas Jawa Pos (CowasJP) di Jogja. Jadi buku tidak dikirim, tapi diserahkan sendiri.

Membaca tulisan-tulisan Tofan Mahdi yang terkumpul dalam "Pena Di Atas Langit" (PEDAL) saya pun langsung teringat pesan Bang Saur Hutabarat.

"Jurnalis itu harus bergaul dengan gagasan-gagasan besar tapi mencintai detail." Begitu pesan salah satu mentor jurnalistik saya Bang Saur Hutabarat saat kami dulu melaksanakan program pelatihan wartawan liputan politik di LP3Y Di bawah komando Bang Hadi (Ashadi Siregar).

Dalam program pelatihan yang digelar di lima kota besar di Indonesia itu, para pekerja media diajarkan bagaimana meliput perhelatan politik dengan pendekatan yang lebih kontekstual. Diajarkan bagaimana dalam melaporkan peristiwa politik, yang berada dalam 'narasi besar' demokrasi, jurnalis tidak lupa dengan detail-detail yang sesuai konteks. 

erwan3.jpg

Tulisan-tulisan Tofan dalam buku PEDAL memperlihatkan bagaimana penulis merupakan seorang yang bergaul dengan ide-ide besar. Tapi sekaligus mengerti detail. Bisa membuat konteks satu persoalan kecil ke dalam narasi yang lebih besar. Tofan bisa melihat detail-detail persoalan dan kemudian ditariknya dalam narasi besar.  Atau sebaliknya. 

Melihat "argo kuda" tak semata menyoal taksi sebagai moda transportasi. Melainkan ditarik pada persaingan taksi online bahkan hingga layanan bagi konsumen dalam konteks pariwisata. 

Begitu pula saat melihat layanan pesawat maupun bandara Qatar. Tofan bisa membawa pembaca berkelana tulisan hingga soal peta geopolitik Timur Tengah bahkan sampai Piala Dunia Sepakbola. 

Pesan Bang Saur di atas, jika diterjemahkan lebih jauh memang meniscayakan seorang jurnalis harus menjadi sosok pembelajar abadi. Orang yang haus ilmu. Tak pernah berhenti belajar. Banyak membaca buku, banyak bergaul, diskusi, dan ngobrol dengan berbagai kalangan. Juga memperkaya pengetahuan dengan bepergian atau traveling. 

Tofan Mahdi, kendati secara de jure tidak lagi sebagai wartawan, secara de facto melakoni aktivitas yang sangat wartawan. Bertemu dan bisa belajar dengan banyak orang yang ditemuinya. Traveling tidak hanya di Indonesia tapi sampai mancanegara. Berkesempatan membaca buku-buku baru. Berdialog dengan banyak kalangan dan seterusnya. Semuanya aktivitas yang "sangat wartawan."

Kendati kini menjadi seorang praktisi komunikasi korporat, darah wartawan yang dimilikinya, yang belasan tahun ditempa di Jawa Pos tidak bisa hilang begitu saja. Mendapat asupan "modal tulisan" berlimpah setiap hari, darah wartawannya menggelegak. DNA aslinya sebagai pelapor fakta, tak bisa dilawannya. Maka lahirlah tulisan-tulisan bernas, detail, dengan gaya renyah khas Jawa Pos.

erwan2.jpg

Kredo tulisan "ojok akeh cangkeman e" yang dipegang Jawa Pos terlihat dalam tulisan-tulisannya. Tofan selalu menyertakan data empirik yang didapatkannya lewat 'riset atau studi pustaka.' Satu hal yang mudah dilakukan saat ini. Dengan data empirik dan mengalami langsung peristiwanya, tulisan Tofan pun jauh dari jebakan verbalisme atau 'berita cangkeman' dalam bahasa Jawa Pos.

Melihat tulisan-tulisan alumni fellowship jurnalistik Departemen Luar Negeri AS ini, saya juga teringat pernyataan Bang Daniel Dhakidae, yang juga kolega para mentor di LP3Y. Bang Daniel selalu mengatakan bahwa wartawan atau jurnalis itu adalah ilmuwan sosial dalam praktik. Social scientists in practice! 

Seorang ilmuwan sosial, selalu mencari kebenaran dengan mendasarkan pada data empirik yang bisa diverifikasi. Mengumpulkan data dan fakta langsung dari lapangan. Bukan berdasar katanya, katanya. Jurnalis melaporkan fakta dan bukti nyata. Jurnalis harus mencari "faktanya" bukan "katanya".  Bukan menuliskan 'kata' semata melainkan menghadirkan sesuatu yang 'nyata' adanya. 

Kendati "lulusan" Jawa Pos, Tofan Mahdi menerapkan pula semangat Jacob Oetama. Pendiri Harian Kompas. Yakni jurnalisme makna. Tulisan-tulisan Tofan selalu memberi sesuatu nilai bagi pembacanya. Memberi manfaat maupun inspirasi. Ajakan untuk berbuat baik dan menebar kebaikan tersirat dalam setiap tulisannya. Kendati tidak disampaikan secara definitif, mereka yang membaca dengan hati bersih akan bisa merasakannya. 

erwan1.jpg

Adalah 'dosa' bagi Tofan yang memiliki berbagai kesempatan yang 'sangat wartawan' namun tidak 'melaporkannya' kepada khalayak. Bisa jadi, kalau ia tidak menuliskan berbagai peristiwa yang dialaminya, dituntut oleh malaikat di sana nantinya. :)

Alhamdulillah Tofan ternyata sosok yang tidak lupa bersyukur. Dituliskannya hal-hal penting dan menarik yang dialaminya tersebut dengan penuh tanggung jawab. Bahkan dengan niat berbagi kebaikan yang sangat tinggi. Maka lahirlah buku PEDAL ini.

Sebagai sesama penerima beasiswa Departemen Luar Negeri AS (saya di Universitas Massachussets, Agustus-September tahun 2000, Tofan di George Washington University tahun 2004), saya tentu menyambut gembira 'adik kelas' bisa berkarya dan menghasilkan buku yang baik. Apalagi saya mendapatkan buku ini dengan 'diantar' sendiri oleh penulisnya. Bahkan dibonusi dengan traktiran sate klathak. 

Sate klathak adalah sate yang dagingnya ditusuk memakai jeruji sepeda. Daging menjadi lebih empuk karena pemanasan lebih sempurna lewat jeruji yang masuk ke daging.

Saya yakin kebaikan itu menular. Sehingga kebaikan-kebaikan yang dibagikan oleh Tofan ini pun akan berkembang dan diikuti oleh yang tertular. Itu artinya akan menjadi amal jariyah bagi Tofan. Pahalanya terus mengalir. Bukti bahwa berbagi itu tidak rugi. Tidak mengurangi. Tapi malah menambah. Karena akan kembali lagi ke yang membagi. Maka, suatu kebaikan kalau kita berdoa dan menunggu tulisan dan buku-buku Tofan selanjutnya. 

Oh iya sebagai seorang penulis dan editor buku, saya perlu menyampaikan beberapa masukan. Yang pertama, perbaikan pada kesalahan-kesalahan ketik. Sedikit kekurangan di buku PEDAL ini berupa salah-salah ketik. Dan tidak enaknya itu sudah tersaji di halaman pertama, hal v baris paling bawah. Tertulis, Waktu itu masih saya pimpinan tertinggi di koran itu. Mestinya, Waktu itu saya masih pimpinan

Kesalahan seperti itu bisa kita temui di beberapa halaman. Misalnya kelebihan kata 'juga', salah tulis perjalanan menjadi perjalan....dan sebagainya. Dalam edisi cetak ulang berikutnya bisa diperbaiki.

Kedua, isi PEDAL merupakan kumpulan catatan atau tulisan dari berbagai media sosial. Tulisan seperti ini memiliki nuansa aktualitas waktu dengan menyebut 'tadi, hari ini', atau 'kemarin'. Nah, karena disajikan dalam bentuk buku, tulisan perlu "sedikit diolah" agar menjadi format yang lebih pas. Menjadi tulisan yang everlasting, tidak terlihat basi. (*)

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda