Gundala, Sri Mulyani, dan Erick Thohir

Dari kiri: Erick Thohir, Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Tubagus Adhi (penulis, Cowaser). (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Ada beberapa alasan mengapa hati saya seperti berbunga-bunga setelah meninggalkan XXI Episentrum malam tadi. Bukan sekadar karena bisa bertemu langsung, berdekatan dan mewawancarai Sri Mulyani Indrawati, salah satu menteri yang saya kagumi sejak lama. Bukan juga karena masih membekasnya efek "Gundala".

Yang lebih menyenangkan adalah, bagaimana akhirnya bisa berbicara soal gelaran lomba karya jurnalistik Mohammad Husni Thamrin Award 2019 dengan Erick Thohir. Sosok penting dari kesuksesan penyelenggaraan Asian Games 2018 itu, dan tokoh utama di balik keberhasilan pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin merengkuh kemenangan di Pilpres 2019, bahkan berjanji akan hadir pada Malam Anugerah MHT 2019, 26 September mendatang di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta.

"Nanti tolong diingatkan lagi," begitu antara lain dikemukakannya. 

Di tengah keramaian dan lalu lalang banyak orang di lobi XXI Episentrum itu, saya memberondongnya dengan secara ringkas dan cepat mengungkap MHT Award 2019. Lomba karya jurnalistik tahunan yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DKI Jaya, dan didukung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin itu sesekali menyela. Selebihnya mengangguk-angguk. 

Anggukan yang tentu saja membuat kami senang. Kami, saya dan beberapa teman pengurus PWI Jaya lainnya. Ada Ary Julianto Trijoko, Iris, Agus Susanto, Wuryanto, dan Nonie Rering. 

Nonie yang mengajak menyaksikan "Gundala" itu. Ia juga yang bilang, Erick Thohir juga mau menonton. Bahkan, Erick Thohir pula yang berinisiatif mengundang kalangan media untuk bersama-sama menyaksikan film superhero lokal besutan sutradara Joko Anwar itu. 

Kami tak menyangka jika Erick Thohir ternyata juga mengundang Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Jadi, saya sulit menahan "kegatalan" untuk tidak mendekati mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu. Maklumlah, sudah lama saya menjadi pengagumnya. 

Dan, seperti saya, Sri Mulyani juga penyuka atau penggemar superhero lokal. Maka, ia fasih berbicara soal "Gundala" yang sebenarnya. Juga "Godam". Atau "Pangeran Mlaar". 

Saya, dari generasi 60-an, tentu saja tahu persis tokoh-tokoh superhero lokal itu. "Gundala" adalah salah satu tokoh komik lokal yang populer di lebih dari dua dasawarsa. Ada 23 serial komik "Gundala" yang dikarang oleh Harya Suryaminata (Hasmi) dalam kurun waktu 1969-1982. Saya masih ingat juga kalau sebelum melahirkan "Gundala", Hasmi (25 Desember 1946 - 6 November 2016) lebih dulu menciptakan "Maza"-- yang agaknya terinspirasi oleh "Hulk". Tokoh-tokoh superhero lokal yang lumayan menjamur kala itu harus diakui dipengaruhi oleh keberadaan sosok-sosok fenomenal dari superhero impor seperti Batman dan Superman.

tb-adi1.jpgPara wartawan senior DKI Jaya. (FOTO: istimewa)

Sudah menjadi pembaca setia komik-komik dalam negeri sejak 1970-an, saya mengamini pendapat Sri Mulyani dan Erick Thohir agar masyarakat Indonesia seyogyanya juga bisa mengambil hikmah dari kearifan lokal. Banyak pesan moral yang dapat dipetik dari karya-karya monumental almarhum Hasmi, atau almarhum Widodo Noor Slamet, sesama komikus asal Yogyakarta yang menciptakan "Godam" mulai 1969. Sebelum Marvel di AS meluncurkan sekuel Avengers --di mana para superhero Marvel bahu membahu melawan seteru zalim -- Hasmi dan Wid NS telah lebih dulu berkolaborasi mempersatukan Godam, Gundala, Maza dan Pangeran Mlaar. Para jagoan lokal itu berhimpun menghadapi musuh tangguh.

Mungkin kurang elok untuk mengkritisi "Gundala" karena jauh dari pakem aslinya. Bagaimanapun juga sutradara Joko Anwar hanya mengadaptasi, sehingga tidak harus berjuang untuk membuat film yang menyerupai atau mendekati karakter aslinya. Meski dibuat dengan setting tahun 1970-an, yang didominasi hitam putih, "Gundala" 2019 ini sarat dengan muatan lokal baik yang bersifat umum mau pun politis.

Mungkin karena itu pula penayangan superhero lokal pertama dari jagat Sinema Bumilangit ini, "Gundala", disambut hangat masyarakat Indonesia. Film ini diperkirakan sudah disaksikan satu juta penonton hingga akhir pekan ini. Bukan hanya bertabur superstar, "Gundala" padat akan pesan moral. 

Gundala mungkin tak terlepas dari identifikasi film-film superhero impor yang didominasi adegan baku hantam. Ada bayang-bayang John Wick 3 --Parrabelum dari aksi-aksi yang tersaji, termasuk kesan dinginnya Sancaka. Kendati demikian, ada sisi lain yang dihadirkan secara mendalam oleh Joko Anwar. Mantan wartawan "The Jakarta Post" itu sepertinya berhasil mengemas mainstream tersebut dengan menyisipi banyak pesan moral yang erat kaitannya dengan isu-isu sosial masa kini. Khususnya di Indonesia. 

tb-adi2.jpg

Apa saja pesan moral itu? Menkeu Sri Mulyani Indrawati menyampaikan beberapa di antaranya. Sayang keluarga, yang utama. Sancaka, nama asli "Gundala" , sejak kecil memperlihatkan kasih sayangnya yang luar biasa kepada orangtuanya. Ia sangat penurut. 

Joko Anwar mengaku sangat senang menyelipkan kisah keluarga di dalam setiap filmnya. Sutradara kelahiran Medan berusia 43 tahun itu ingin memberi pesan bahwa keberadaan sebuah keluarga itu penting untuk membentuk karakter dan moral seseorang.

Pesan moral lainnya, peduli sesama. Semua manusia adalah patriot ketika dirinya mau peduli dengan sesama dan tidak sungkan untuk memanusiakan manusia. Ia menentang arus untuk tidak peduli pada urusan orang lain. 

Jauhi urusan orang lain, maka kau akan selamat, begitu pesan seorang teman pertamanya dalam petualangan setelah meninggalkan rumah. Sancaka menepis dalil itu dan berhasil berdamai dengan diri sendiri untuk menjadi seorang patriot...

Percayalah, jika dikemas dengan baik, kisah-kisah patriotik dari jagoan-jagoan masa lalu komik Indonesia akan sangat menarik. Begitu juga menyaksikan aksi-aksi mengesankan dari tokoh-tokoh persilatan masa silam seperti "Si Buta dari Goa Hantu"-nya Ganes Th; "Panji Tengkorak"-nya Hans Djaladara; "Mandala Siluman Sungai Ular"-nya Mansyur Daman, yang pada 1980-an pernah juga difilmkan dengan tokoh utama Barry Prima.

Pada akhirnya memang seperti terlontar ke romantisme masa lalu.(*)

Oleh: Tubagus Adhi, wartawan senior di Jakarta.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda