Bisnis Jurnalis Digital

Empat Cowasers. Dari kiri: Hendy Mustafa, Mufti Mubarok, DR Imron Mawardi, Suherman.

COWASJP.COM – Cangkru'an akbar dan Reuni X CoWas JP (Konco Lawas Jawa Pos,) 18 Agustus 2019, dengan tema: Nulis Sampek Tuwek, Seduluran Sampek Matek, telah memilih ketua baru cak Sukoto mengantikan Dhimam Abror . Sukoto terpilih setelah bersaing dengan Bang Haji Surya Aka dan  Ustad Ferry Is Mirza di RM Hallo Surabaya.

Cowas JP  telah mengingatkan kisah bekerja di media cetak yang minim teknologi komunikasi, komputer masih pakai program Dos, mesin ketik dan fax serta pager. HP belum ada.

Namun bekerja di Jawa pos waktu itu memang sangat membanggakan. Terkesan gagah  jadi wartawan atau karyawan bagian apa pun di JP . Sebab koran nomor satu di Jatim dan nomor 2 se Indonesia adalah kebanggaan.

Persaingan media saat itu masih belum sebanyak sekarang ini. Kadang kalau di jalan kena tilang polisi, bilang dari Jawa Pos bisa lolos bahkan di kasih hormat. Padahal hanya bilang dari Jawa Pos. Polisi langsung tahu diri. Polisi tidak tanya kerja di JP bagian apa.

Sejarah koran besar ini berawal dari kantor di kembang Jepun yang merupakan cikal bakal koran satu becak, sebutan oplah yang masih kecil. Adalah Pak The pendiri JP dan kemudian di lanjutkan Pak Erik Samola. JP  kemudian pindah ke Karah Agung. 

Dari Karah Agung yang dikenal kantor Suejuk inilah JP berkembang. Maklum ada kolam ikan, ada suara jangkrik dan ada kesunyian pagi. Namun malam hari ratusan wartawan dan karyawan yang terkenal dengan sebutan karyawan kalong artinya hidup malam dan pagi lnya bangsawan (bangsane tangi awan) itu gaya hidup wartawan. 

Waktu di Karah Agung wartawan, iklan, marketing , cetak dan anak-anak perusahaan masih ngruntel jadi satu di Karah Agung 45. 

mufti1.jpgTiga Cowasers. Dari kiri: Ramadhan Pohan, Soerijadi, Mufti Mubarok.

Kita masih ingat Pak Dahlan Iskan saat jadi redaksi dan dibantu Sholihin Hidayat, Margiono, Abror, Joko Susilo dan lain-lain. 

Arif Afandi masih di Yogya saat itu. KEMBANG JEPUN lah tempat awal kebangkitan Jawa Pos. Ekspansi dimulai di Karah Agung. Banyak lahir koran-koran, tabloid, majalah dan buku buku. 

Memang waktu itu media cetak menjadi primadona dan Jawa Pos booming. Karena internet belum menjadi momok media cetak.  

Perang Teluk, kejatuhan Marcos di  Filipina dan jatuhnya Soeharto menjadi berita yang ditunggu-tunggu. Bahkan ada banyak tabloid yang oplahnya bisa ratusan ribu. Contoh tabloid Oposisi, X file, majalah Liberty dan tabloid-tabloid politik waktu itu tumbuh subur.

Ada Golden Moment di Jawa Pos. Saat reformasi, meskipun JP sempat goyah karena kurs dolar. Tapi di tangan Dahlan Iskan  dan Imawan Mashuri (dan beberapa tokoh Jawa Pos lainnya) yang luar biasa, JP berkembang pesat hingga bisa melahirkan TV dan Graha Pena di mana mana.

Di tangan Dahlan  Iskan dan para tokoh muda JP bisa sangat bertumbuh melampaui targetnya.

Namun JP Grup sekarang telah beda, karena jurnalis digital dan era medsos yang mewabah. Jurnalis Nitizen berkembang pesat dan media cetak tergulung dengan sendirinya.

Kini para pendiri dan para perintis kebesaran JP telah pangsiun . Namun alumni JP memang masih hebat-hebat karena tempaan JP yang keras dan bonek cerdas.

Alumni JP kalau kerja atau jadi pengusaha banyak yang sukses. Karena jurnalis itu sebenarnya  jalan menjadi sukses berbisnis. Bisnis apapun. Jurnalis adalah orang cerdas dan kreatif. Tinggal di salurkan ke dunia bisnis. Dan masa depan jurnalis milenial digital akan menjadi "Nabi baru" di dunia media tanah air.

Salam sukses jurnalis digital dan etrepreneuship. Selamat Cowas JP dan kebangkitan media digital.(*)

Pewarta : M.Mufti Mubarok
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda