Memorandum Dulu (4-Habis)

Konsisten di Target Market

Oktober 1996, Uha Bahaudin (penulis, nomor 3 dari kiri) bersama para agen Memo siap tour ke Batu. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Terlecut tulisan Uha Bahaudin. Pak Pri - sapaan akrab mantan Pemimpin Perusahaan Koran Memorandum, Suprianto, kembali menuliskan komentarnya.

Setidaknya bisa melengkapi seri terakhir (ke-4) tulisan Uha, tulis Pak Pri. 

Uha adalah salah seorang mantan karyawan andalannya di Divisi Pemasaran Memo (nama populer Memorandum).

"Baca tulisan Uha, saya terseret pingin nulis," kata Pak Pri.

Bidang Redaksi Memo terus berpikir apa yang menjadi kebutuhan Para Pembaca kelas bawah. Contoh investigasi penulisan Jenglot sampai ke Gunung Bromo dan beberapa tempat lainnya, saya lupa. Sayang pada waktu itu tidak ada yang bisa nulis Persebaya setingkat Slamet Oerip Prihadi (di Jawa Pos). Di balik judi sepakbola misalnya. 

Di bidang iklan dibuka halaman: Iklan Kecik Barang Rombengan Berhadiah. Atau cuci gudang barang di rumah. Sambutannya luar biasa dari para Pembaca. Ini belum pernah ada di koran lain. Banyak sekali Pembaca yang datang ke kantor, hanya ingin menitipkan komputer, tape recorder, radio, bahkan disel bekas.

Off Print pun digelar. Dihelat Pameran Barang Rombeng, Pameran Jeng Lot, dan Barang Antik. Digeber pula Lomba Patrol, Lomba Mancing Berhadiah di  Kalimas dengan ikan yang kita beli dari Lamongan sebanyak 2 ton yang dilepas di area lomba Kali Mas.

Pokoknya Pembaca kami sibukkan untuk terus menerus mengingat Memorandum.

uha1.jpgUha Bahaudin rajin mengunjungi lapak koran, tabloid, dan majalah di Surabaya. (FOTO: istimewa)

Dan, inilah seri ke-4 (terakhir) tulisan Uha Bahaudin:

YANG KHAS YANG BERTAHAN 

Tahun 1990 hingga tahun 2000. Sebagai praktisi lapangan saya merasakan masa itu sebagai dekade keemasan media cetak di Jawa Timur. Khususnya di Kota Surabaya. 

Mungkin juga di Indonesia sih.

Melesatnya oplah Jawa Pos memberi dampak pada media-media lainnya. 

Ada dua jenis dampak :

1. Dampak oplah

2. Dampak citra

Dampak oplah dari pembaca. Sedang. 

Dampak citra dari agen. 

Apa maksud dampak yang pertama?

Sebelumnya bahkan juga kala itu. Ada anggapan sebagian masyarakat. Pulang kerja sore hari, baca koran. 

Lega. Puas. 

Sebab kata mereka, apa yang terjadi hari itu, sorenya ada beritanya. 

Tapi. Nih. Dunia berubah. Begitu cepat. 

Era globalisasi sudah berdampak di segala sektor. Juga di segala bidang pekerjaan. 

Yang biasa pulang sore, pulang malam. 

Yang biasa pulang malam, lembur sampai pagi. 

Bahkan muncul gelar 'doktor' secara TSM. 

Terstruktur, sistemik, dan masif. Mondok di kantor. 

Redaksi dan pemasaran Jawa Pos membabi buta. 

Duarrr... meledak. 

Tawaran bacaan gaya baru, muncul. 

Masyarakat merespon. 

Pembaca lebih enak baca koran pagi-pagi. 

Bangun tidur. Pikiran masih fresh. Dapat berita hangat. 

Angkat telpon. 

Putus langganan (koran) sore. Abonemen koran pagi. 

Kedua. Dampak citra. Agen koran, asongan, loper mulai senang jualan pagi. 

Karena sore, sering hujan dan tren beli koran pagi mulai terasa. 

Agen sore jadi agen koran pagi. 

Tersihir. Termehek-mehek. Kepercayaan terhadap produk, meningkat. Dengan menambah permintaan jatah koran pagi. 

Memorandum merasakan itu. 

Walau tak sedahsyat koran pagi lainnya. 

Walau sebagian agen belum mau jual Memo. Sebab Memo masih dianggap koran kecil. 

"Tenang. Kita sudah punya agen sendiri. Punya jalur distribusi sendiri," buka Suprianto saat rapat pemasaran. Siang hari. 

Rapat lengkap. Idrus Sahab, Ridwan, Slamet, saya, Priyo, Pujo, dan Ahmad dari bagian pemasaran. 

Lalu. Reza Pahlevi dan Hepta karyawan dari bagian iklan. Juga Choirul Huda bagian ekspedisi. 

Tentunya Ida ikut pula. Dari bagian akunting. Yang cantik itu. 

Rasanya. Tak ada habisnya. Segala daya, pikiran, dan tenaga dikuras. 

Apalagi. Suprianto hampir tiap sore menutup pekerjaannya dengan rapat bersama redaksi. Sinkron dan sehatilah divisi pemasaran dan divisi redaksi. Berita apa besok yang layak dijual. Dirancang rapi. Dari lini reporter, redaktur, sampai lini asongan.

"Oplah naik, merangkak terus. Iklan baris full dua halaman. Iklan display dari Jakarta dan properti antri. Lapsus (laporan khusus) redaksi inovatif. 

"Tiap seminggu, tema berbeda dan harus menarik," papar Suprianto. 

"Pak," Idrus Sahab mengacung. 

"Kita perlu membangun trust untuk agen iklan dan agen koran, pak," usul Idrus Sahab, penanggung jawab bursa koran Memorandum di Jalan Pahlawan, Surabaya. 

"Setuju bung, itu yang mau saya bicarakan di rapat ini," sontak jawaban Suprianto. 

Rapat hari itu. Lama. Serius sekali. 

Kita, kata Pak Pri, sudah betul. 

Menajamkan segmentasi pasar.

Menajamkan positioning pembaca kita. 

Jangan melawan gajah Jawa Pos. Apalagi bertarung. 

Pejabatnya baca koran putih. Pengawal, ajudan dan sopirnya baca koran kuning. 

Pelaku ekonomi yang berdasi, baca koran putih. 

Bakul mrico di pasar-pasar baca Memo. 

Juragan dan orang orang berpangkat baca koran-koran serius. 

Tukang adu ayam, blantik sapi, kuli dan buruh baca koran kita.

Big Boss Almarhum Agil H. Ali mem-backup full redaksi. 

Bahkan saat peristiwa Jenglot sampai cetak dua kali dalam sehari. Wouuw. Keren!!

Oktober 1996, para agen Memorandum diajak nglencer petik buah apel sepuasnya di Batu Malang. Pendek kata, Memo nguwongke (menghargai peran) agen.

Sebelumnya, tak pernah ada penghargaan seperti itu. Agen cuma dianggap bak kuda tunggangan. Bila perlu dicambuk. Tidak manusiawi. Tak terjereng rasa bersaudara dan seperjuangan.

Kini, setelah mereka diperlakukan dengan baik. Setelah diuwongke. Agen-agen antri daftar. Bahkan yang dulunya tidak mau jual Memorandum ikut daftar.

Sedianya hanya 4 bus. Akhirnya 10 bus Executive. 

Agen bersuka ria. Pesta. 

"Saya yakinkan. Memo koran yang khas. Kini jadi koran kedua. Ayo jual terus. Tetap semangat, " pungkas pidato Suprianto di depan ratusan agen koran. 

Yang menggembirakan, tahun-tahun selanjutnya lembaga survey AC Nielsen menempatkan koran Memorandum di urutan kedua pembaca terbanyak di Jatim. Luar biasa.

Juga pada saat rapat intern grup. Triwulanan, dapat penghargaan oplah terbanyak. Piutang terpendek. 

Namun, seperti lakon-lakon dalam Ketoprak Siswo Budoyo. Selalu ada goro-goro. 

Tahun 2000. Suprianto mengumpulkan kami. Beliau pamitan. Sangat kami sayangkan.

Terkadang kabar lebih jelek dari kenyataan. Dan terjadi di beberapa kelompok usaha grup. 

Selesai ceritanya. Capek. (Habis)

Pewarta : Uha Bahaudin
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda