Hidup-Mati Net TV

Wishnutama Kusubandio, Direktur Utama Net TV. (FOTO: swa.co.id)

COWASJP.COM – Goyahnya NET TV sekali lagi membuktikan betapa buruknya selera penonton televisi Indonesia, dan betapa digdayanya sinetron menghidupi televisi swasta melalui rating dan iklan. 

Sungguh ironis sekaligus tragis, Net TV yang lahir dari roh idealis hanya sanggup bertahan hidup beberapa tahun. Itu pun dengan suntikan dana yang terus menerus dari pemilik dan investornya. Tanpa mampu menjadi mesin uang. 

Memori-Perak-3.jpg

Net TV adalah anak yang lahir prematur, menumpang di frekuensi Spacetoon yang dimatikan demi menyambut lahirnya bayi ajaib ini. 

Sejak lahir, bayi ini tidak pernah lepas dari infus, hingga merangkak sampai nyaris sekarat dan butuh bantuan oksigen seperti sekarang. 

Wisnuthama sejak lama menjadi kreator ulung tayangan keren di beberapa TV Swasta, sebelum memutuskan berlabuh di Net TV. Sayangnya tidak selamanya kreator bisa menjadi money maker. Sementara industri televisi membutuhkan keduanya, minimal mengawinkan kreator dan money maker. Orang orang TV termasuk kita yang berada di belakangnya, dituntut menjadi seorang kreator dan money maker dalam waktu yang sama. Ketika kita mengabaikan masalah komersiil karena terlalu mengagungkan idealisme dalam berkarya, maka kita bukan saja tidak akan mampu menghidupi televisi dan membuat penonton tetap gratis 24 jam di depan TV, tapi juga akan menjadi orang orang yang tidak terpakai. 

Yang membuat miris, Net TV seolah menjadi tikus yang hidup di lumbung padi. Ketika TV-TV Swasta menikmati pertumbuhan kue iklan yang semakin besar dan menggiurkan, Net TV justru menjadi penonton yang berusaha bertahan dengan idealismenya. Hanya melihat tikus-tikus lain menjadi gemuk, sementara tikus satu ini tidak punya selera makan. 

Net TV tentu tidak menutup mata, dua tiga kali mencoba peruntungan dengan membuat sinetron berkualitas, tapi gagal, karena sejak awal TV swasta nasional paling bontot ini sudah membentuk imejnya sendiri. 

Nasib yang sama pernah dialami TransTV dan Trans7, yang kini juga sedang megap-megap di antara persaingan merebut iklan. Beberapa TV swasta ber-share rendah, atau sedikit ditonton, berusaha hidup dengan membuat penawaran-penawaran paket iklan di bawah harga. Sehingga terkesan tayangannya disesaki bejibun commercial break. 

Tapi para pemasang iklan tentunya tidak mau mubazir menghamburkan uang tapi tidak ditonton. Mereka lebih memilih masuk daftar antrian iklan di tayangan prime time berating tinggi, dengan harga selangit, asal mendapatkan slot di tayangan puncak rating. Minimal tayangan Top Ten. 

Setiap tahun belanja iklan TV mengalami peningkatan.

TOTAL IKLAN TV RP 127 T

Tahun 2018 saja, mencapai angka Rp 110 triliun atau naik 13 % dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun ini diperkirakan belanja iklan akan semakin menggiurkan, mencapai angka Rp 127 triliun. Dalam semester pertama tahun 2019, saja perolehan iklan TV sudah jauh melampaui separuh dari pendapatan iklan tahun sebelumnya. Menurut data dari Nielsen, hanya ada 5 TV swasta yang menikmati manisnya kue iklan itu. Yaitu SCTV, RCTI, ANTV, Indosiar, dan MNCTV. Selebihnya mereka hanya menikmati remah 

-remah sisanya. Banyak iklan belum tentu manis. Yang menghidupkan adalah banyak sekaligus mahal, dan itu ada di jam tayang sinetron dan reality show. 

Sekali lagi hidup matinya televisi bukan dibentuk oleh idealisme, tapi dihidupi oleh selera pasar. Dan lagi-lagi rating menjadi 'Dewa' sang maha penentu siapa dan apa yang ditonton oleh pemirsa televisi. Bukan apa yang ingin dibuat oleh kreator televisi. (*)

 

Oleh: Andi Athira, mantan wartawan JP Group.‚Äč

Pewarta : Andi Atthira
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda