Memorandum Dulu (1)

Memori Perak

Foto 25 tahun silam. Dari kiri: Novi iklan Memorandum, Ahmad pemasaran, Sumaryadi iklan, Ida akunting, Pujo pemasaran. Uha duduk. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Ternyata, bakat dan kemampuan menulis di perusahaan media masa bukan monopoli divisi redaksi. 

Bukan hanya wartawan, redaktur dan pemimpin redaksi yang bisa menulis. Crew divisi pemasaran pun bisa. Divisi-divisi lainnya pun bisa. Memang tidak semuanya bisa, tapi ada di antara mereka yang bisa menulis dan tulisannya enak dibaca.

Inilah salah satu contohnya. Tulisan Uha Bahaudin, mantan crew pemasaran Jawa Pos dan Memorandum. 

Tulisannya sengaja tidak diedit, agar orisinal dan menjaga keaslian gaya menulisnya.

Pendek-pendek kalimatnya. Mengalir. Praktis, efisien, dan maknanya gampang dicerna.

Di kalangan Jawa Pos dulu ada istilah: set set wet. Cepat digarap. Tak usah banyak omong. Tapi beres dan cepat selesai. Jangan ada pekerjaan yang ditunda.

 Itulah "pakem kerja" yang direntang Pak Bos Dahlan Iskan kepada semua laskarnya. 

Hasilnya luar biasa! Memoncerkan Imperium Jawa Pos di berbagai penjuru Nusantara.

Sejak Pak Bos menjabat Redpel 1982, kemudian Pemred Jawa Pos 1983, kemudian naik lagi menjadi CEO Holding di Graha Pena Jalan Ahmad Yani Surabaya. Set set wet!

Inilah seri perdana tulisan asli Uha Bahaudin:

BANGUN pagi. Bahkan sebelum subuh. Bahkan sebelum Tuyul berangkat. Begitu kata sopir angkot Karangmenjangan. 

Ya. 25 tahun yang lalu. Selalu saya ingat. Pekerjaan pokok di Sirkulasi Memorandum. 

Di bawah komando Suprianto. Kami sering memanggilnya Pak Pri. 

Pria asli Bendorejo Pogalan Trenggalek. 

Diawasi Ridwan dan Idrus Sahab. 

Keduanya lebih dulu 'nyekel' pemasaran Memorandum. 

Hanya, Suprianto yang saat itu Pemimpin Perusahaan. Ingin 'darah segar' alias marketing muda untuk jadi ujung tombak sirkulasi koran kriminal di Kota Surabaya. 

Tugasnya :

1. Membuat agen resmi koran memorandum di setiap kecamatan. 

2. Mencari anak untuk menjadi pengasong koran. 

3. Melakukan penagihan kepada agen

4. Melakukan promosi

5. Mengirim koran. 

Saya kebagian wilayah Surabaya Timur.

Ada 7 kecamatan. 

Gubeng

Gunung Anyar

Sukolilo

Tambaksari

Mulyorejo

Rungkut

Tenggilis Mejoyo.

Saat itu. Awal 1994. Saya dapat target 4.000 exp per hari. 

Padahal di buku distribusi. Koran memorandum di wilayah Surabaya Timur, baru 800 an exp per hari. 

Langkah pertama saya. Mengangkat orang Gubeng. Namanya Nur Ali. 

Dia tadinya pedagang buku" di lapak depan masjid. Terutama Jumatan. 

Saya tawari jadi agen koran. Dia mau. 

"Gimana caranya mas?" tanyanya saat itu. 

"Beres. Nanti saya bantu" jawabku. 

Dia gembira. 

Saya memilih target Kecamatan Gubeng dahulu jadi prioritas. 

Karena obyek vital pasarnya sangat banyak. 

Ada Stasiun Gubeng. Ada RS Dr. Soetomo Karangmenjangan. Ada Pasar Pucang. 

Dan dekat Pasar Keputran. 

Saya mulai mengumpulkan anak-anak di Gubeng Jaya. 

Saya tanya satu per satu. Siapa yang sekolah pagi dan siapa yang sekolah siang. 

Yang sekolah siang saya janjikan dapat uang jajan Rp. 15.000 per bulan. Syaratnya mau jualan koran Memorandum. 

Dan yang sekolah pagi, saya janjikan dapat uang jajan Rp. 10.000 per bulan. 

Syaratnya harus jualan koran Memorandum siang, sesudah pulang sekolah. 

Singkat cerita. Pagi itu saya kirim Agen Nurali 50 exemplar koran. 

Pukul 4 pagi. 

Lepas subuh, anak-anak Gubeng ngumpul di kontrakan sempit pinggir rel kereta Gubeng Jaya. 

Anak-anak pengasong baru. Menyebar. Keliling kampung Gubeng. Sambil teriak "Koran Memo. Ibu muda dihamili anak tirinya. Tetangga dibunuh pake pacul. Dan teriak judul-judul koran Memo lainnya. 

Begitu arahan Suprianto. Detail. Mulai cara rekrutmen asongan, loper dan cara jualannya. 

Yang ke Stasiun Gubeng juga mengasongkan korannya pada calon penumpang yang antri di lokasi loket karcis. 

Yang di RS Dr Soetomo juga semangat menawarkan pada orang antri di ruang tunggu poli. 

Saya awasi. Keliling pake sepeda motor di ketiga tempat itu. 

Koran habis. Alhamdulillah. 

Besoknya saya tambah. Jadi 150 exemplar. 

Tenaga asongan saya tambah. 

Saya tugaskan ke Pasar Keputran. 

Hari pertama habis. Hari kedua juga habis. Selanjutnya habis terus. 

Namun. Pada suatu pagi. 

Saat saya mengawasi asongan saya di Pasar Keputran. Saya ketemu Cak Ridwan. 

"Laaahhh.. asonganmu tah iku. Balio. Ojok dodolan dok kene" usir Ridwan. 

"Opo o pak" tanyaku agak takut. 

"Wistalah. Muliooo (Sudahlah, pulanglah)". Usir Ridwan. 

Saya menarik dua pengasong dari pasar itu. 

"Jangkriiiiiikkk," bathinku. (Bersambung)

 

Oleh: Uha Bahaudin, mantan divisi pemasaran JP dan Memo.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda