Episode Jalan-Jalan ke Istanbul (2-Habis)

No East No West, Istanbul is the Best

Masjid Biru di Istanbul. (FOTO: sultanahmetcamii.org)

COWASJP.COM – Istanbul merupakan kota sarat sejarah. Bangunan-bangunan tua yang ada di kota ini adalah peninggalan dari sebuah peradaban agung yang pernah berdiri di kota itu.

Sambil menyeruput kopi di pagi hari, tuan rumah Prof. Widi Agus Pratikto (WAP) memberi nilai nyaris sempurna untuk Istanbul. Bahkan beliau meminta agar membatalkan rencana kami untuk ke Ankara, ibukota Turki. 

"Saya yang sudah hampir tiga tahun di Istanbul merasa belum cukup menikmati Istanbul secara utuh," jelas Prof. WAP bernada "propaganda".

 Tak salah bila Istanbul dijadikan pilihan sebagai tempat yang harus dikunjungi. Kota yang menyimpan banyak kisah menarik. Empat kekaisaran dan peralihan dari Kristen, Islam dan kemudian kota ini memilih menjadi negara republik yang demokratis, sekuler. 

Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan, secara pelan tapi pasti ingin mengembalikan kejayaan Islam di Turki.

Meskipun telah begitu banyak masjid di Istanbul. Bahkan kota ini disebut juga sebagai kota seribu menara (masjid). Dengan Masjid Sultan Ahmed atau Blue Mosque (Masjid Biru) yang menjadi ikon kota Istanbul, namun Presiden Recep Tayyip Erdogan pada 2013 membangun sebuah masjid baru yang diresmikan awal tahun 2019.

yamin-1.jpgSalju di depan Apartemen Mashattan, beberapa minggu sebelum kami tiba di Istanbul. (FOTO: istimewa)

Diberi nama Masjid Camlica. Menempati area seluas 15.000 meter persegi di bukit tertinggi Istanbul. Dan menjadi masjid terbesar di Turki.

Konstruksi dimulai pada 2013 dan ditandai sebagai salah satu megaproyek Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk negara tersebut.

Masjid ini dirancang oleh dua arsitek perempuan, Bahar Mizrak dan Hayriye Gul Totu, dengan biaya konstruksi sebesar $ 66,5 juta = Rp 940,9 miliar (Daily Sabah).

Dibangun dalam gaya arsitektur Ottoman-Seljuk. Dan bisa menampung  60.000 jamaah. Masjid ini dapat dengan mudah dilihat dari setiap sudut kota. Ada satu kesamaan dengan Blue Mosque, yakni memiliki enam menara. Dua di antara enam menara memiliki ketinggian lebih dari 100 meter. Kubah utama setinggi 72 meter.

Di atas kubah ada ornamen masjid (finial) terbesar di dunia - yang panjangnya 7,77 m dengat bobot sekitar empat ton.

Karpet seluas 17.000 meter persegi yang digulirkan di masjid adalah karpet rajutan tangan yang dirancang khusus oleh perajin karpet di Turki.

ISTANBUL YANG MELANKOLIS

Saat ini Istanbul memang tak sedingin Swiss. Tapi bagi kami tetap harus memakai pakaian rangkap. Suhu berkisar 4 hingga 10° Celsius. 

Suatu tempat yang digambarkan begitu eksotis yakni Selat Bosphorus. Rasanya sudah tak sabar untuk menyeberangi selat yang membelah kota Istanbul itu.

Selat sepanjang 30 km ini menghubungkan Laut Marmara di selatan dan Laut Hitam di bagian utara.

Penulis buku "Istanbul : Memories and The City" Orhan Pamuk melukiskan Istanbul memiliki sejarah yang melankolis. Tetapi "Apa pun yang terjadi, aku akan selalu bisa berjalan-jalan di sepanjang tepi Bosphorus," tulisnya. Orhan Pamuk yang lahir dan besar di Istanbul adalah  penerima Hadiah Nobel sastra tahun 2006. Namun begitu malankolis kota kelahirannya itu, Orhan Pamuk tidak bisa mempertahankan cintanya. Setelah berumah-tangga 19 tahun, mereka bercerai.

Begitu banyak kisah dalam buku tersebut tentang Istanbul yang melankolis. Bosphorus telah menjadikan Istanbul begitu menawan serta menjadi daya tarik tersendiri. 

“Bosphorus adalah kuncinya, jantung geopolitis dunia, dan inilah sebabnya semua negara di dunia dan pasukan militernya, terutama sekali orang-orang Rusia, ingin menguasai Bosphorus kami yang indah.” 

yamin-2.jpgMasjid Camlica terbesar di Turki. (FOTO: turkishminute.com)

Istanbul bagi Pamuk adalah kota yang mengingatkan ia pada reruntuhan dan kemurungan, kemuraman yang menular kepada dirinya. Ia menggambarkan Istanbul dengan sangat menyentuh. Kota ini seolah hidup dan nyata dalam penggambaran masa lalu. Disertai foto-foto hitam putih, Istanbul bercerita banyak tentang kegemilangan masa lalu sekaligus kemuraman yang diberikan sesudahnya.

SELAT BOSPHORUS

Akhirnya tiba juga waktu kami mengarungi Selat Bosphorus yang indah dan eksotis.

Setelah sholat dhuhur di Blue Mosque, makan siang di restoran di dekat Plaza Sultan Ahmet, kami bertiga ditemani Mas Ace menuju dermaga untuk mengikuti Cruise Bosphorus. Mas Ace asal Jawa Barat mahasiswa Istanbul University, diminta Prof. Widi menemani kami selama di Istanbul. Oh ya, waktu di Masjid Biru tadi, saya jadi memiliki keinginan mengajak istri dan anak-anak ke kota ini. Bukankah keinginan itu doa? 

yamin.jpgBersama Prof Widi Agus Pratikto di apartemen beliau di Istanbul. (FOTO: istimewa)

Dan Alhamdulillah pada Mei 2016, saya istri dan tiga anak perempuan Titi, Iin dan Dila bisa berkunjung ke Istanbul.

Benarlah kata orang bijak, melihat beberapa menit jauh lebih bermakna dibanding membaca ribuan kata-kata.

Setelah berlayar sekitar satu jam mengitari selat dengan kedalaman rata-rata 65 meter ini, keindahan Istanbul dengan Selat Bosphorus tak bisa digambarkan dengan kata-kata.

 "Bosphorus sangatlah indah, tak kalah indah dibandingkan kehidupan," tulis Pamuk. (Silakan membaca tulisan saya tentang Pesona Istanbul.)

MASYARAKAT INDONESIA DI ISTANBUL

Tiga tahun bertugas sebagai Sekjen D-8 di Istanbul, Prof. Widi benar-benar jatuh hati pada kota ini. Para mahasiswa dan diaspora yang ada di Istanbul dan sekitarnya termasuk dari Ankara diajak kumpul-kumpul. Hingga terbentuk Masyarakat Indonesia di Istanbul (MII).

"Bagi kami mahasiswa di Turki, Pak Prof. Widi dan Ibu Rumchayatin Pratikto

sudah seperti keluarga. Beliau sering undang kumpul-kumpul di apartemen," cerita Arifan Arge saat Mahasiswa di Ankara.

Peran Ibu Rumchayatin tak kalah penting. Menjalin silaturahim dengan Emak-Emak Indonesia di Istanbul.

Juga membina hubungan dengan Pasaid. Sebuah organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah. Bahkan pada saat menyelesaikan tugas di Istanbul rekan-rekan di Pasaid mengadakan pesta perpisahan di hotel berbintang.

"Dengan teman-teman MII, hampir setiap bulan kita kumpul-kumpul," lanjut Prof. Widi.

Sebagai Sekjen D 8 Organization for Economic Cooperation, Pak Widi sering bepergian ke Nigeria, Mesir, Iran, Pakistan, Bangladesh, dan Malaysia, namun Istanbul tetap yang terindah.

"Tiada kata dan kalimat yang bisa meluncur kecuali No East No West, Istanbul is The Best," tulis Prof. Widi ke WA saya saat ditanya kesannya terhadap Kota Istanbul.(*Habis)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda