Kick Andy 9 Agustus 2019 (3-Habis)

Indentitas Wartawan Terbongkar, Pasport Ditahan

COWASJP.COM – Dengan cermat Kepala Imigrasi Gwadar Akhmad Zan meneliti visa Pakistan saya. Zan terus membaca berulang-ulang. 

Tapi, karena sudah lengkap dan legal  Zan tidak menemukan celah mencari kekeliruan soal paspor dan visa. 

Laptop saya berisi file berita selama melakukan perjalanan haji nekat lewat jalur darat dan kamera juga diperiksa. Zan juga bertanya ejaan nama saya sambil mencocokkan dalam paspor. Berkali-kali saya eja tapi terus disuruh mengulang. Akhirnya, saya sedikit emosi. Zan terkejut.. 

BACA JUGA: Haji Nekat Lewat Jalur Darat

Tapi, Alek menenangkan. ‘’Jangan emosi, kita nanti yang rugi,’’ ujar Alek. Zan juga menanyakan siapa-siapa saja orang yang ada di foto, termasuk lokasinya. Saya terangkan ini siapa, di Bangkok, Lhasa, India dan seterusnya sesuai gambar foto yang dibuka. 

Bahkan foto dokumen KTP saya yang tersimpan dalam foto untuk mengurus visa haji di Surabaya juga ditanya. Saya diminta mengeja nama saya yang dicocokkan dengan nama di gambar tadi. Zan pun manggut-manggut. 

Zan juga memeriksa isi laptop saya. Yang saya khawatirkan jika dia sampai menemukan kumpulan berita yang saya simpan dalam laptop. 

Terus terang saya agak cemas karena selama ini tidak pernah mengaku wartawan. Sebab, itu akan mempersulit gerak saya masuk satu negara ke negara lainnya. Sebagai gantinya saya hanya mengaku turis, pekerja seni, pengusaha, kontraktor dan lainnya worker.  Beruntung Zan tidak tahu bahwa dalam laptop tersimpan file berita selama perjalanan haji darat. Syukur kata saya dalam hati.

Zan juga mercerca saya mengapa kalau haji tidak lewat udara. Kalau lewat darat selain berbahaya juga  biayanya mahal. Saya bilang ini untuk memenuhi nazar. Tapi, Zan sepertinya tidak percaya. 

Namun dia tidak punya alasan, meski tetap menaruh curiga pada penjelasan saya.

BACA JUGA: Menuju Gwadar Ditangkap Dua Kali

Semua kartu identitas, disket, atau USB yang dibawa Akhmad Faruki yang sebenarnya milik rekannya yang juga mahasiswa di Islamabad tak luput dari pemeriksaan. 

Ternyata dalam disket itu ada gambar atau bangunan difoto berulang-ulang di Abotabad, tempat Pemimpin Al-Qaedah Osama bin Laden tewas. Itu sangat mencurigakan Zan. 

Apalagi, dalam disket itu juga ada gambar atau logo salah satu tv swasta Jakarta sedang melakukan peliputan ditemani mahasiswa pemilik disket tadi. Jadi lah Zan makin curiga.

Saking seriusnya memeriksa gambar tadi, Zan minta gambar tadi untuk minta tolong di-zoom atau dibesarkan. Dia tampak serius meneliti gambar itu. Cukup lama. Dia juga bertanya pada Faruki soal gambar itu. 

Juga foto-foto Faruki dalam berbagai kegiatan akademik mahasiswa yang ikut tersimpan dalam disket. Baik di Islamabad maupun Lahore. Faruki pun menerangkan apa adanya soal foto yang sekiranya kenal atau temannya. Zan tampak memahami.

Tapi, kalau gambar itu bukan temannya karena pemilik disket sebenarnya kawannya dia mengaku tidak tahu karena memang tidak kenal. 

Semula petugas tidak percaya, tapi karena memang tidak kenal petugas hanya bisa curiga saja. 

Zan juga meneliti kartu pelajar, foto-foto dan semua apa saja yang ada dalam dompet. Semua diteliti satu per satu. Tidak ada satu pun barang yang luput dari pemeriksaan.

Selama melakukan pemeriksaan kami dilarang ngomong bahasa Indonesia satu sama lain. Karena Zan tidak paham hingga kalau kami saling ngomong dia curiga. ‘’Stop’’  atau Zan mengisyaratkan tangannya di mulut. Pertanda kami bertiga dilarang bicara satu sama lain. 

Bahkan  saat telepon berdering di tengah interogasi atau menerima SMS pun Zan curiga. Dia melihat dulu siapa penelponnya. Kalau ada nomor yang mencurigakan Zan yang menjawab lebih dulu baru kemudian HP diberikan. 

Puncaknya, saat anak buah Zan menemukan salah satu rekomendasi surat salah satu dubes Myanmar Sumarsono yang ditujukan kepada pemerintah Myanmar agar membantu saya melintas di perbatasan. Surat yang tersimpan itu menerangkan kalau saya wartawan. ‘’Kenapa harus berbohong,’’ tanya Zan sambil menujukkan surat itu kalau saya ini jurnalis. 

‘’You profesional,’’ tanya Zan.  

Saya pun dengan rela minta maaf.

Saya ungkapkan mengapa tidak mencantumkan status reporter semata hanya memudahkan dan melancarkan perjalanan haji darat serta melempangkan mencari visa di luar Indonesia. 

Kalau berstatus reporter pengajuan visa bisa sulit karena harus memenuhi beberapa persyaratan dan harus seijin berbagai instansi di negara yang bersangkutan. Mendagri, Menlu, Kepolisian , Kejaksaan, Imigrasi dan lainnya. Sangat ribet.

Itu memakan waktu cukup lama dan prosesnya berbelit. Untuk memudahkan pencarian visa biasanya status turis lebih mudah. 

Selain itu liputan terbatas masalah religius yang berkaitan dengan haji. Misalnya, soal kemegahan masjid, kehidupan masyarakat Islam, budaya Islam dan hal yang berkaitan  dengan Islam. 

Tapi, Zan tetap dongkol karena merasa dibohongi sebab penulis sejak awal tidak berterus terang mengaku sebagai wartawan. ‘’Enak saja minta maaf setelah berbelit belit,’’ kata Zan sengak. Ekspresinya wajahnya tidak enak dilihat bahkan melengos pada penulis.

Tapi, penulis tidak tahu harus berbuat apa selain minta maaf karena terpaksa berbohong untuk kelancaran perjalanan haji lewat jalur darat. Beruntung, belakangan sebelum menghentikan interogasi yang melelahkan sampai dini hari itu tampaknya Zan memahami penjelasan saya, meski raut kecewa tidak hilang karena penulis tidak berbicara terus terang sejak awal. 

Malam itu, Zan menahan paspor saya dan kartu mahasiswa rekan saya. 

‘’Kalian tidak boleh keluar hotel. Besok saya datang lagi ke sini,’’ kata Zan begitu saja meninggalkan kamar hotel yang baru diacak-acak.

Sepeningal Zan kami bertiga sibuk. Saya sendiri melaporlan kejadian itu langsung kepada Pimred Leak Kustiya. Sekedar jaga-jaga, jika terjadi hal yang tidak diinginkan.  Sebab, apa yang terjadi esok kami tidak tahu. Ditahan, diinterogasi ulang, atau malah dideporatsi dari Pakistan. Kami semua tidak tahu.  

Agar redaksi Surabaya tidak panik, saya jelaskan pada Pimred, bahwa secara mental saya siap menerima segala resikonya termasuk jika ditahan gara-gara masalah ini.  

bahari2.jpg

Leak di ujung telpon tampak panik luar biasa. Ketakutan. ‘’Kok nggak sampeyan buang saja surat rekomendasi Pak Dubes, Mas,’’ kata Leak dengan suara tercekat. 

‘’Saya nggak kepikiran Mas. Padahal  surat rekomendasi saya sembunyikan di tas paling bawah.  Tapi ketemu juga,’’ kata saya. 

‘’Oh.. alla Mas. Terus yok opo iki (bagaimana ini)?’’ tanya Leak. 

‘’Tenang mas. Nggak papa.  Saya hanya melapor saja supaya sampeyan tahu kondisi di sini (Gwadar). Sampeyan nggak usah panik, saya siap lahir batin, apa pun yang terjadi besok tak kabari lagi,’’ kata saya menenangkan Leak. Sebagai wartawan apa pun yang dialami bisa ditulis. Makin berat kian seru kisahnya. Termasuk jika harus ditahan pun tulisannya makin greget.

 Sebagai Pimred Jawa Pos saat itu, Leak orang kali pertama yang saya kabari terkait perjalanan haji darat. Termasuk  jika ada masalah seperti di Gwadar tadi.

Sedangkan Faruki memberitahukan kejadian ini kepada  teman dekatnya mahasiswa di Islamabad tapi tidak untuk disebarkan. Sedangkan Alek memberitahukan kasus ini pada rekannya di ponpes dan seorang rekannya di KJRI Karachi.

Malam itu kami sibuk berbenah, memasukkan barang ke tas yang sudah diacak-acak Kepala Imigrasi Gwadar dan anak buahnya tadi.

Jum’at pagi (28/10/2011) sekitar pukul 09.30 Akhmad Zan bersama anak buahnya yang meng-interogasi semalam ikut datang sambil membawa segepok dokumen saya yang disita sebelumnya.

 Kali ini muka Zan lebih cerah. Sambil mengucek-ucek matanya yang tampaknya masih menahan kantuk, Zan mengeluarkan paspor dan kartu pelajar yang ditahan. Meski senang tapi, kami tidak boleh gembira dulu. Sebab, itu hanya pancingan.

Benar saja Zan melakukan interogasi lagi. Pertanyaannya juga diulang-ulang, mengapa tidak berterus terang, apa saja yang sudah ditulis selama perjalanan, dan apa rencananya setelah dari Gwadar.

Karena tahu saya reporter, Zan minta nama Pimred Jawa Pos diejakan  untuk dicocokkan dengan surat yang ditujukan kepada para dubes Di mana ada nama Leak Kustiya sebagai Pimred. Saya pun mengejanya, Zan mencocokkan. Setelah tepat Zan tersenyum.

Intinya, kami bertiga diminta segera keluar dari Gwadar. Sebab, imigrasi tidak akan mengeluarkan ijin keluar Pakistan dari pelabuhan Gwadar. Dan perahu nelayan tidak berani mengangkut orang asing keluar dari Gwadar tanpa dokumen lengkap.

’’Pelabuhan ini hanya untuk angkutan barang bukan orang,’’ kata Zan.

Belum lagi banyak masalah di tengah laut. Banyak perompakan, patroli banyak negara. Oman, Pakistan maupun Iran. 

‘’Anda juga tidak tahu apa yang terjadi di tengah laut. Siapa yang tahu nasib Anda. Kalau dirampok, dibunuh,’’ ingat Zan. ‘’Kalau itu yang terjadi kita (pemerintah Pakistan) ikut repot,’’ jelasnya.

‘’Anda ini ke Gwarda nekat,’’ tutur Zan. Dia menceritakan jarak Karachi-Gwarda beratus ratus kilometer jauhnya. Sepi dan tidak ada rumah penduduk. Seandainya Anda dirampok atau dibunuh di tengah jalan siapa yang susah,’’ terangnya.

‘’Anda punya istri, punya anak?’’ tanyanya. Saya jawab iya. Punya istri dan tiga anak. ‘’Balochistan ini berbeda dengan daerah Pakistan lainnya. Ini daerah gawat apalagi untuk orang asing seperti Anda. Anda dibunuh dibuang ke tengah jalan tidak ada yang tahu. Kami pemerintah jadi repot nanti,’’ ingatnya.

 Meski demikian saya juga minta tolong kepada Zan agar memberi cap keluar imigrasi Pakistan hingga bisa naik perahu atau menyewa untuk mengantar ke Oman. 

‘’Tidak bisa. Ini terakhir kali saya ngomong. Perahu pun tidak ada yang mau disewa orang asing. Makanya, Anda harus keluar dari Gwarda secepatnya,’’ pintanya. Interogasi dua jam itu berakhir sekitar pukul 11.30

Untuk memastikannya, Zan minta saya menelpon Pimred Leak Kustiya untuk memberitahukan bahwa saya akan ke Karachi. Meski tidak bisa bahasa Indonesia Zan tampak paham. 

‘’Waktunya lima menit untuk persiapan keluar hotel,’’ pinta Zan yang kali ini sedikit ramah. 

Bahkan melihat kuku saya yang agak panjang Zan bertanya dan menyarankan untuk dipotong. ‘’Kalau kuku dipotong lebih sehat,’’ sarannya.

Kami pun cepat-cepat membereskan perlengkapan untuk bersiap meninggalkan hotel. Dikawal Zan dan tiga anak buahnya mobil beriringan keluar hotel menuju batas kota Gwarda. Satu petugas imigrasi ditempatkan di mobil yang saya tumpangi. Sedangkan Sahid, sopir saya pindah ke mobil Zan. Mungkin Sahid mendapat arahan, indoktrinasi dari Zan.

Sekitar 30 kilometer batas kota Gwarda menuju Karachi, mobil Zan berhenti. Dia turun dari mobil lalu mendatangi mobil kami. Saya dan dua rekan mahasiswa tetap dilarang turun dari mobil sebagai gantinya Zan yang menghampiri mobil kami.

Dia sekali lagi mengingatkan tetap komitmen ke Karachi lalu melajutkan perjalanan haji ke Arab lewat Oman. ‘’Yang penting hajinya tidak batal,’’ tuturnya seraya menyalami saya. 

Zan juga minta didoakan sesampainya di tanah suci agar bisa segera dipanggil juga ke tanah suci. ‘’Berdoa untuk saya di Mekkah,’’ pintanya sambil menengadahkan tangan ke atas. 

Zan kali ini juga ramah memberi tahu nama dan jabatan. Tapi, untuk nomor telepon dia masih merahasiakannya.

Siang itu, kami harus balik ke Karachi berjarak sekitar 700 kilometer dari Gwarda. Mobil oleh Abdul Somad dilarikan bak kesetanan, cukup kencang. Rata-rata 130, 140 bahkan 150 km kilometer per jam.

Sahid yang semula ceria dan banyak ngomong terlihat murung dan pendiam. Dia tampak ketakutan. Sejak dua hari bersama Sahid, saya amati sopir ini banyak ngomong. Tapi, nyalinya kecil kalau menghadapi masalah. 

Bahkan sering ikut campur yang bukan urusannya. Bahkan begitu sampai Karachi mendadak tawa Sahid pecah. ‘’Sudah sampai Karachi, bukan Gwardar,’’ katanya semringah. Bahkan dia dengan bangga bercerita kepada teman-temanya di Karachi kalau baru saja dari tiba dari Gwardar.

Sebaliknya, Abdul Somad tetap fokus dan terlihat tegar. Meski di Gwardar maupun Karachi dia tetap tenang dan tidak banyak ngomong. Orangnya juga baik. Saya lebih respek  pada Abdul Somad. Makanya, fee nya saya kasih lebih besar dari Sahid. 

Esoknya karena sudah mengantongi visa Oman, penulis melanjutkan perjalanan seorang diri ke Muscat, Oman. Karena waktunya sudah mepet penulis bergabung dengan jamaah haji Oman menuju Jeddah. Alhamdulillah, berkat pertolongan Yang Maha Kuasa penulis akhirnya bisa masuk Makkah beberapa jam sebelum Jeddah ditutup dari jamaah haji. Artinya, penulis tidak perlu keliling dunia untuk masuk Makkah tahun berikutnya. 

Syukur alhamdulilah, akhirnya Gusti Allah membukakan rumahnya bagi penulis. 

Meliput di wilayah konflik membuat ketagihan karena memicu andrenalin. Semakin panas wilayah yang diliput kian memicu andrenalin. Penulis terobsesi meliput wilayah konflik seperti,  Palestina, Syria atau wilayah d dunia bergolak lainnya. 

Penulis ingin memotret, merasakan, mengabadikan, menulis  bagaimana penderitaan rakyat Palestina tak menganal takut dan lelah terus berjuang penjajah Israel. Selain liputan Palestina bisa ditulis untuk media secara bersambung. Ujungnya liputan akan dibukukan. Hasil penjualan buku 100 persen disumbangkan ke rakyat Palestina. Kalau ada dermawan, donator yang mau mensponsori ke Palestina,  penulis sangat siap. (Habis).

Oleh: Bahari, wartawan senior di Surabaya.

 

Pewarta : Bahari
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda