Sarjana Pedalaman

Membagi paket pangan di Desa Billa, Amanuban Timur, 6 jam perjalanan truk dari Kupang (NTT), 7 Juni 2018. (FOTO: news.act.id)

COWASJP.COM – Undangan yang saya terima pagi (Minggu 4 Agustus 2019) ini sangat menarik. Pengirimnya Majelis Tabligh PP Muhammadiyah. 

Pengurus meminta Lazismu hadir dalam acara focus group discussion alias FGD. Membahas rencana baru Majelis: Mengirimkan sarjana ke daerah pedalaman dan terpencil. Menjadi penggerak masyarakat di pedesaan miskin. 

Bukan baru sekali ini Majelis Tabligh mengirim utusan ke daerah terisolasi. Dua tahun lalu  saya pernah berjumpa dengan seorang ustadz. Namanya Ahmad. Asli Nusa Tenggara Timur. Alumni SMA Muhammadiyah Yogyakarta.

Ia menjadi generasi pertama pengiriman dai pedalaman. Tahun 1969. Saat itu usia saya baru setahun!

Ustadz Ahmad kebetulan ditugaskan ke NTT. Tapi tidak di daerah awalnya. Ia ditugaskan ke daerah Amanuban Timur. Sekarang masuk wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan. Lima jam perjalanan darat dari So’e. Ibukota Kabupaten itu.

Dai adalah pekerjaan yang tidak mengenal pensiun. Dan tidak mengenal gaji.

Hingga usianya yang sudah mendekati 80 tahun, ustadz Ahmad masih terus bekerja. Mengurus masjid milik Muhammadiyah satu-satunya di Amanuban Timur. 

Ustadz itu juga mengurus lahan seluas 7 hektar. Wakaf dari seorang jamaah. Mualaf. Hasilnya untuk mengelola sekolah.

Juga untuk menyekolahkan anak-anak yatim dan miskin setempat. Yang berprestasi. Beberapa di antaranya sudah sarjana. Ikut membantunya. Mengurus Muhammadiyah. 

Sarjana. Jadi dai. Ditugaskan ke daerah pelosok. Di lingkungan hutan. Di gunung-gunung. Di pulau terpencil. Pasti bukan impian anak-anak muda zaman now.

Tidak banyak sarjana yang seperti anak didik Ustadz Ahmad dari Amanuban Timur itu. Tapi harus ditemukan cara. Agar bisa mengirimkan sarjana ke desa-desa.

Harus sarjana? Ya. Itu tuntutan zaman. Tidak cukup lagi dai dengan pendidikan SMA. Karena standar pendidikan masyarakat sudah lebih tinggi. 

Adakah yang mau? Ternyata ada. Puluhan jumlahnya. Mereka sekarang sudah siap masuk camp. Mengikuti pelatihan intensif selama 6 bulan. Mendalami kajian-kajian keislaman, kemuhammadiyahan dan sociopreneur.

Untuk mereka itulah saya akan datang sebagai peserta FGD. Mewakili Lazismu. Sebagai organisasi Muhammadiyah yang bertugas menghimpun dan menyalurkan zakat, infak dan sedekah masyarakat.

Dai sarjana pedalaman adalah salah satu program yang menarik. Di tengah semangat pemerintah untuk impor aneka produk. Bahkan sampai mau impor dosen dan rektor segala. (*)

Pewarta : Joko Intarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : disway

Komentar Anda