Berdaya Lewat Boneka

Joko Intarto (penulis) merebahkan diri di atas tumpukan boneka. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Alhamdulillah. Dummy program pemberdayaan perempuan putus sekolah dan tidak berpenghasilan tetap akhirnya berjalan. Diawali dengan pelatihan menjahit boneka flanel selama 2 minggu.

Program ini hasil Dewan Kemakmuran Masjid As-Syakur kompleks perumahan karyawan Bulog 2 di Bekasi dengan pabrik boneka flanel di Bekasi dengan modal kerja dari infak jamaah.

Setelah mengikuti pelatihan di pabrik boneka, peserta akan memproduksi boneka di shelter yang disiapkan DKM As-Syakur. Di shelter itu sudah tersedia mesin jahit, kain flanel dan busa untuk bahan baku boneka. 

Boneka-2.jpg

Kain flanel sudah dipotong-potong membentuk pola sesuai order pabrik. Boneka hasil produksi kemudian disetor ke pabrik. Pabrik membayar ke DKM. 

DKM membagi pembayaran menjadi dua: tabungan dan ongkos kerja. Tabungan digunakan untuk mempersiapkan pekerja menjadi mandiri. Bisa membeli mesin jahit sendiri, bisa membeli bahan baku sendiri dan bisa menyewa shelter sendiri. Kelak.

Dalam waktu seminggu, pekerja akan menerima pembayaran atas hasil kerjanya. Sesuai jumlah produksi boneka yang bisa disetornya.

Dalam pelatihan hari pertama, kain perempuan itu tampak antusias. Pagi belajar menolong pola dan menjahit kain flanel. Menjelang sore, bonekanya sudah jadi.

Anang Sujana, pemilik pabrik boneka, menerangkan bahwa membuat boneka tidak sulit. Semua orang yang bekerja bisa memperoleh penghasilan setelah belajar sehari. 

Boneka-3.jpg

Pelatihan selama dua minggu tujuannya untuk melatih sikap para pekerja itu. Agar disiplin dan konsisten dalam mempertahankan kualitas hasil kerjanya. Juga agar bisa mempelajari pembuatan boneka yang lebih rumit.

Pemberdayaan ekonomi sebenarnya lebih sulit. Parameter keberhasilannya banyak. Jangkanya panjang. Yang lebih mudah adalah program “bagi-bagi” duit. Karitatif. Tidak perlu waktu yang lama.

Dalam pemberdayaan, banyak pihak yang harus dilibatkan dalam ekosistem.

1. Muzaki, pihak yang membayar infak.
2. Mustahik, pihak yang menerima infak.
3. Amil, pihak yang mengelola infak
4. Assessor, pihak yang memulai kelayakan usaha dengan modal infak secara profesional.
5. Penjamin, pihak yang memastikan akan menyerap hasil produksi atau jasa dari para mustahik.
6. Pelatih, pihak yang memberi pelatihan kepada mustahik.
5. Project manager, pihak yang bertanggung jawab menangani program.

Secara umum, polanya seperti ini:
1. Modal kerja dari infak jamaah
2. Penyalur infak adalah DKM.
3. Program yang didanai disetujui assessor.
4. Hasil produksi dijamin dibeli pelaku industri.

Pola ini akan mengembalikan fungsi masjid tidak hanya sebagai pusat peribadatan, melainkan juga sebagai Pusat kegiatan pendidikan, kegiatan sosial dan kegiatan ekonomi.

Terima kasih kepada sahabat dari Kalimantan Selatan dan Sumatera Utara yang tertarik dengan model pemberdayaan ini. Insya Allah saya hadir memenuhi undangan Anda untuk berbagi pengalaman. (*)

Pewarta : Joko Intarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda